PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI MELALUI AKTIFITAS BERCERITA DAN MENDONGENG

•18 Maret 2013 • Tinggalkan sebuah Komentar

A.CERITA
Pendidik yang baik adalah pendidik yang menguasai cerita dan mampu bercerita. Melalui metode bercerita inilah para pengasuh anak-anak (pendidik, tutor, pengasuh anak usia dini) menularkan pengetahuan dan menanamkan nilai budi pekerti yang luhur serta mengembangkan kreatifitas secara efektif dan menyenangkan. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), Cerita adalah rangkaian peristiwa yang disampaikan, baik berasal dari kejadian nyata (non fiksi) ataupun tidak nyata (fiksi). Cerita merupakan tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dsb); karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang, kejadian dsb, baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka; lakon yang diwujudkan atau dipertunjukkan di film (sandiwara, wayang, dsb).
Bercerita (storytelling) tidak sama dengan membacakan cerita (reading story). Bagus Takwin dalam bukunya, Psikologi Naratif, Membaca Manusia sebagai Kisah (2007), memaparkan pendapat para tokoh-tokoh antropolog dan folklore mengenai keunikan aktivitas bercerita. Pada intinya, bercerita lebih dari sekedar membacakan cerita; dalam bercerita, kita juga menghidupkan kembali kisah (entah itu tulisan atau lisan) dengan menggunakan beragam keterampilan dan alat bantu. Dasar-dasar ilmu peran, seperti pengubahan suara, ekspresi wajah, gerak tubuh, menjadi sangat penting dalam proses bercerita. Pencerita juga melibatkan sebanyak mungkin (meskipun tidak menjadi kewajiban) penggunaan media bantu, seperti gambar sederhana, musik pengiring, atau model (misalnya boneka atau rumah-rumahan) dapat membantu menghidupkan kisah yang kita sampaikan dalam benak pendengarnya.
Namun yang paling membedakan bercerita dari membacakan cerita adalah dimungkinkannya interaksi antara pencerita dan pendengar dari awal hingga akhir aktivitas bercerita. Dalam hubungan orang tua-anak misalnya, anak bisa mengusulkan atau memilih cerita tertentu yang ingin ia dengarkan pada saat itu. Ketika aktivitas bercerita tengah berlangsung, anak juga dapat memberi masukan kepada pencerita (orang tua), bisa dari dari segi teknis (cara bercerita) atau dari isi cerita itu sendiri. Setelah cerita selesai, interaksi tetap bisa dipertahankan, misalnya dengan memandu anak untuk mengambil hikmah dari cerita tersebut.

1.Manfaat Cerita
Bercerita adalah metode komunikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. Cerita yang disampaikan pada masa kanak-kanak akan melekat sepanjang hidupnya. Nilai–nilai kehidupan yang terserap itu dapat diaplikasikan kedalam kehidupan nyata. Dapatlah dibayangkan bahwa cerita memiliki dampak yang sangat besar dalam pembentukan kepribadian anak. Pada proses pendidikan, cerita memiliki manfaat yang sama penting dengan aktifitas dan program pendidikan itu sendiri. Menurut kak Bimo (2011), bercerita memiliki manfaat seperti diuraikan di bawah ini:
a.Membangun Kedekatan Emosional
Kegiatan bercerita berbagai hal, baik itu berupa kejadian dalam kehidupan sehari-hari ataupun cerita rekaan pada anak dengan penuh penghayatan, akan memunculkan ragam rasa pada anak sesuai dengan sifat-sifaf yang ada dalam tokoh cerita tersebut. Jalinan batin berupa ekspresi yang diramu sedemikian rupa oleh pendidik dapat membangun kedekatan emosional anak. Rasa sayang, hormat, dan keteladanan secara alami akan berlangsung pada setiap proses pembelajaran.

b.Media Penyampai Pesan atau Nilai Moral dan Agama
Cerita biasanya memiliki nilai-nilai kehidupan tertentu ataupun mengandung pesan moral kehidupan. Pada dasarnya anak-anak lebih senang mendengarkan cerita daripada dinasehati atau diperintah, maka untuk mengajarkan nilai moral atau nilai-nilai yang ada dalam agama lebih efektif bila menggunakan metode bercerita. Teknik menyampaikan pesan maupun pengajaran moral melalui cerita ini dengan cara diselipkan dalam cerita, atau memang pesan dan nilai-nilai moral tersebut dikemas menjadi cerita. Pesan-pesan yang ingin disampaikan atau nilai moral itu bisa juga sampaikan pada akhir cerita dalam kesimpulan atau disimpulkan bersama-sama.

c.Pendidikan Imajinasi/Fantasi
Kegiatan bercerita merupakan proses untuk berimajinasi dan berfantasi, baik yang dilakukan oleh pencerita maupun yang mendengarkan cerita. Berimajinasi dan berfantasi adalah sebuah proses kejiwaan yang sangat penting bagi anak-anak sebagai dasar dari kreatifitas. Imajinasi dan fantasi juga akan mendorong rasa ingin tahu anak dan rasa ingin tahu ini dapat mengembangkan intelektual anak. Jadi untuk mengembangkan intelektualitas dan merangsang daya kreatifitas anak bisa dilakukan dengan cara bercerita.

d.Menyalurkan dan Mengembangkan Emosi
Emosi anak selain perlu untuk disalurkan juga perlu dilatih. Metode atau cara yang digunakan adalah dengan bercerita. Melalui cerita ini, emosi anak diajak untuk mengarungi berbagai perasaan manusia, baik kesedihan, kemalangan, kebahagiaan, kegembiraan, duka, dan nestapa. Dengan menghayati berbagai emosi dan perasaan orang lain maka anak akan terlatih untuk berempati dan bersimpati pada orang lain.

e.Membantu Proses Identifikasi Diri
Bercerita dapat berperan dalam proses pembentukan watak seorang anak. Sifat dasar anak usia dini adalah suka meniru, jadi dalam pembelajaran mengenali diri atau mengidentifikasi diri bisa dilakukan dengan cara cerita. Melalui cerita ini, anak-anak akan mudah memahami sifat-sifat, figur-figur dan perbuatan baik dan perbuatan buruk. Anak-anak akan meniru figur atau tokoh yang memiliki sifat baik dan anak akan mengidentifikasi dirinya seperti tokoh atau figur yang baik tersebut.

f.Memperkaya Pengalaman Batin
Melalui cerita, kita dapat menyajikan kemungkinan kejadian kehidupan manusia, pengalaman maupun sejarah manusia secara riil. Dengan mendengarkan cerita anak-anak akan terlatih memahami berbagai makna kehidupan bahkan hukum-hukum kehidupan manusia. Semakin sering anak mendengarkan cerita maka pengalaman batinnya lebih kaya dan ini sangat membantu kematangan jiwanya. Jiwa yang matang dan kokoh tidak akan mudah terombang-ambing oleh rayuan, godaan dan tantangan hidup. Anak akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tegar dan berprinsip dalam menghadapi hidup ini.

g.Sarana Hiburan dan Penarik Perhatian
Cerita merupakan media dan sarana hiburan yang murah meriah bagi anak. Setiap anak pasti suka dengan cerita, maka ditengah kepenatan dan kejenuhan anak dalam belajar bisa diselipkan cerita biar anak merasa segar atau fres kembali. Cerita bisa dimanfaatkan untuk menghibur anak dan mengembalikan suasana aktif dalam belajar.

h.Sarana Membangun Watak Mulia
Cerita dapat membangun watak anak-anak melalui teladan tokoh-tokoh yang ada didalam cerita tersebut. Manfaat ini digunakan oleh bangsa Jepang untuk membangun watak kesatria anak-anak usia dini dijepang melalui kisah tokoh-tokoh samurai dan ini dimasukan dalam kurikulum pendidikan nasional. Pendidik-Pendidik di Amerika memasukan dongeng-dongeng futuristik dalam pendidikannya untuk membangun watak anak-anak didiknya terobsesi dengan hal-hal yang berhubungan dengan teknologi masa depan. Pendidik-Pendidik di Cina mengajar kegigihan dan kerja keras serta keuletan dalam mencapai kesuksesan dengan media cerita. Orang tua di Sumatera Barat mengajarkan kemandirian anak-anaknya dengan kisah-kisah tentang perantau-perantau suksesnya.

2.Jenis-Jenis Cerita
Jenis-jenis cerita dapat dibedakan dari berbagai sudut pandang, dan dari itulah kita dapat memilah-milah jenis ceritanya. Dibawah ini akan diuraikan mengenai berbagai sudut pandang dan jenis-jenis ceritanya:
a.Berdasarkan Pelaku (fabel, dunia benda mati, dunia manusia, campuran/kombinasi)
b.Berdasarkan Kejadian (cerita sejarah, cerita fiksi, cerita fiksi sejarah)
c.Berdasarkan Sifat Waktu Penyajian (cerita bersambung, cerita serial, cerita lepas, cerita sisipan, cerita ilustrasi)
d.Berdasarkan Sifat dan Jumlah Pendengar (cerita privat, cerita kelas dan cerita forum terbuka)
e.Berdasarkan Teknik Penyampaian (cerita langsung, membacakan cerita)
f.Berdasarkan Pemanfaatan Peraga (dengan alat peraga dan tanpa alat peraga)
Oleh sebab itu, bila penyajian cerita kita ingin mencapai sasarannya, sejak awal harus mempertimbangkan jenis-jenis cerita secara seksama. Sebab, masing-masing jenis cerita membutuhkan teknik, gaya dan pendekatan yang berbeda. Selain itu, pemahaman yang mendalam akan jenis dan karakter pendengar (audience) juga sangat dibutuhkan.
3.Praktek Bercerita
a.Teknik Bercerita: Pendidik perlu mengasah keterampilannya dalam bercerita, baik dalam olah vokal, olah gerak, bahasa dan komunikasi serta ekspresi. Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat. Secara garis besar unsur-unsur penyajian cerita yang harus dikombinasikan secara proporsional adalah sebagai berikut :
1.Narasi adalah tulisan yang berisi rangkaian peristiwa atau kejadian yang membuat pembaca atau pendengar (kalau narasi tersebut dibacakan untuk orang lain) seolah-olah pembaca atau pendengar tersebut mengalami dan melihat sendiri. Contoh narasi adalah sebagai berikut:
“Pada dahulu kala hiduplah seekor kura-kura dan seekor burung elang. Walaupun sang kura-kura dan elang jarang bertemu karena sang kura-kura lebih banyak menghabiskan waktu disemak-semak sedangkan sang elang lebih banyak terbang, namun tidak menghalangi sang elang untuk selalu mengunjungi teman kecilnya yang baik hati, sang kura-kura”.

2.Dialog adalah tulisan yang berisi percakapan, baik secara tertulis maupun secara lisan antara dua tokoh atau lebih. Contoh dialog adalah sebagai berikut:
Tak berapa seluruh penghuni hutan rimba berkumpul untuk memilih Raja yang baru. Pertama yang dicalonkan adalah Macan Tutul, tetapi macan tutul menolak. “Jangan, melihat manusia saja aku sudah lari tunggang langgang,” ujarnya. “Kalau gitu Badak saja, kau kan amat kuat,” kata binatang lain. “Tidak-tidak, penglihatanku kurang baik, aku telah menabrak pohon berkali-kali.” “Oh…mungkin Gajah saja yang jadi Raja, badan kau kan besar..”, ujar binatang-binatang lain. “Aku tidak bisa berkelahi dan gerakanku amat lambat,” sahut gajah.
Dialog dalam cerita tersebut ditandai dengan tanda aphostrope atau tanda petik dua. Dialog juga diakhiri atau diawali dengan tokoh yang mengucapkan kata-kata tersebut.

3.Ekspresi wajah atau mimik adalah hasil dari satu atau lebih gerakan atau posisi otot pada wajah. Ekspresi wajah merupakan salah satu bentuk komunikasi non verbal dan dapat menyampaikan keadaan emosi dari seseorang kepada orang yang mengamati.

4.Visualisasi gerak/Peragaan (acting) adalah memperagakan apa yang diucapkan oleh pencerita atau merubah dari bahasa verbal menjadi bahasa gerak. Misalnya ketika pencerita sedang menceritakan satu tokoh yang sedang berlari, maka pencerita bisa memperagakan gerak lari tersebut di tempat. Peragaan atau acting ini penting untuk pendengar agar terjembatani antara imajinasi dan realitas atau gambaran nyata.

5.Ilustrasi suara, baik suara lazim maupun suara tak lazim. Hal ini sangat dibutuhkan oleh pencerita, karena pencerita harus menyuarakan atau memainkan beberapa tokoh dalam cerita itu sendirian. Jadi dengan adanya ilustrasi suara, maka pendengar akan bisa membedakan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain atau merasakan suasana yang sedang dibangun oleh pencerita.

6.Media atua alat peraga bisa juga membantu dalam memvisualisasikan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita tersebut. Kebutuhan media atau peraga ini tidak mutlak harus ada, karena tujuan utama dari bercerita adalah melatih pendengar untuk mampu berimajinasi dengan baik.

7.Teknis ilustrasi lainnya, misalnya lagu, permainan, musik, dan sebagainya.
b.Mengkondisikan pendengar untuk tertib merupakan prasyarat tercapainya tujuan bercerita. Suasana tertib ini harus diciptakan sebelum dan selama anak-anak mendengarkan cerita, karena bercerita sebenarnya mempengaruhi psikologi atau alam bawah sadar pendengar agar mampu menerima apa yang terkandung dalam cerita yang kita ceritakan.

c.Teknik membuka Cerita; ”Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya ….terserah anda”, Kalimat yang mengingatkan kita pada salah satu produk yang diiklankan. Hal ini mengingatkan pula betapa pentingnya membuka suatu cerita dengan sesuatu cara yang menggugah. Mengapa harus menggugah minat? Karena membuka cerita merupakan saat yang sangat menentukan, maka membutuhkan teknik yang memiliki unsur penarik perhatian yang kuat, diantaranya dapat dilakukan dengan:
1.Pernyataan kesiapan : “Anak-anak, hari ini, Ibu atau bapak telah siapkan sebuah cerita yang sangat menarik…” dan seterusnya.
2.Potongan cerita: “Pernahkah kalian mendengar, kisah tentang seorang anak yang terjebak di tengah banjir?, kemudian terdampar di tepi pantai…?”
3.Sinopsis (ringkasan cerita), layaknya iklan sinetron “Cerita Ibu Pendidik hari ini adalah cerita tentang “seorang anak kecil pemberani, yang bertempur melawan raja gagah perkasa perkasa ditengah perang yang besar” (kisah nabi Daud) mari kita dengarkan bersama-sama !
4.Munculkan Tokoh dan Visualisasi “ dalam cerita kali ini, ada 4 orang tokoh penting…yang pertama adalah seorang anak yang jago main karate, ia tak takut dengan siapapun…namanya Adiba, yang kedua adalah seorang ketua gerombolan penjahat yang bernama Somad, badannya tinggi besar dan bila tertawa..iiih mengerikan karena sangat keras”…HA. HA..HA..HA..HA”, Somad memiliki golok yang sangat besar, yang ketiga seorang Pendidik yang bernama Umar, wajahnya cerah dan menyenangkan…dan seterusnya.
5.Pijakan (setting) tempat “Di sebuah desa yang makmur…”, “Di pinggir pantai..” “Di tengah Hutan…” “Ada sebuah kerajaan yang bernama ..” “Di sebuah Pesantren…” dan lain-lain.
6.Pijakan (setting) waktu, “Jaman dahulu kala…” “Jaman pemerintahan raja mataram …” ”Tahun 2045 terjadi sebuah tabrakan komet…” “Pada suatu malam…” “Suatu hari…” dan lain-lain.
7.Ekspresi emosi: Adegan orang marah, menangis, gembira, berteriak-teriak dan lain-lain.
8.Musik & Nyanyian “Di sebuah negeri angkara murka, dimulai cerita…(kalimat ini dinyanyikan), atau ambillah sebuah lagu yang popular, kemudian gantilah syairnya dengan kalimat pembuka sebuah cerita.
9.Suara tak Lazim atau ”Boom” ! : Pendidik dapat memulai cerita dengan memunculkan berbagai macam suara seperti; suara ledakan, suara aneka binatang, suara bedug, tembakan dan lain-lain (kak Bimo, 2011).

d.Menutup Cerita dan Evaluasi dapat dilakukan dengan:
1.Tanya jawab seputar nama tokoh dan perbuatan mereka yang harus dicontoh maupun ditinggalkan.
2.Doa khusus memohon terhindar dari memiliki kebiasaan buruk seperti tokoh yang jahat, dan agar diberi kemampuan untuk dapat meniru kebaikan tokoh yang baik.
3.Janji untuk berubah; Menyatakan ikrar untuk berubah menjadi lebih baik, contoh “Mulai hari ini, Aku tak akan malas lagi, aku anak rajin dan taat kepada Pendidik!”
4.Nyanyian yang selaras dengan tema, baik berasal dari lagu nasional, popular maupun tradisional
5.Menggambar salah satu adegan dalam cerita. Setelah selesai mendengar cerita, teknik ini sangat baik untuk mengukur daya tangkap dan imajinasi anak.

e.Penanganan Keadaan Darurat, apabila saat bercerita terjadi keadaan yang mengganggu jalannya cerita, pendidik harus segera tanggap dan melakukan tindakan tertentu untuk mengembalikan keadaan, dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik (tertib). Adapun kasus-kasus yang paling sering terjadi adalah:
1.Anak menebak cerita.
Penanganan: Ubah urutan cerita atau kreasikan alur cerita.
2.Anak mencari perhatian.
Penanganan: sampaikan kepada anak tersebut bahwa kita dan teman-temannya terganggu, kemudian mintalah anak tersebut untuk tidak mengulanginya.
3.Anak mencari kekuasaan.
Penanganan: Pendidik lebih mendekat secara fisik dan lebih sering melakukan kontak mata dengan hangat.
4.Anak gelisah.
Penanganan: Pendidik lebih dekat secara fisik dan lebih sering melakukan kontak mata dengan hangat, kemudian mengalihkan perhatiannya kepada aktivitas bersama seperti tepuk tangan dan penyanyi yang mendukung penceritaan.
5.Anak menunjukkan ketidakpuasan.
Penanganan: Pendidik membisikkan ke telinga anak tersebut dengan hangat ”Adik anak baik, Ibu makin sayang jika adik duduk lebih tenang”
6.Anak-anak kurang kompak.
Pananganan: pendidik lebih variatif mengajak tepuk tangan maupun yel-yel.
7.Kurang taat pada aturan atau tata tertib.
Penanganan: Pendidik mengulangi dengan sungguh-sungguh tata tertib kelas.
8.Anak protes minta ganti cerita.
Penanganan: Katakanlah ”Hari ini ceritanya adalah ini, cerita yang engkau inginkan akan Ibu sampaikan nanti”.
9.Anak menangis.
Penanganan: Mintalah orang tua atau pengasuh lainnya membawa keluar.
10.Anak berkelahi.
Penanganan: Pisahkan posisi duduk mereka jangan terpancing untuk menyelesaikan masalahnya, namun tunggu setelah selesai cerita.
11.Ada tamu.
Penanganan: Berikan isyarat tangan kepada tamu agar menunggu, kemudian cerita diringkas untuk mempercepat penyelesaiannya Suasana cerita sangat ditentukan oleh ketrampilan bercerita pendidik dan hubungan emosional yang baik antara pendidik dengan anak-anak. Beberapa kasus di atas hanyalah sebagian contoh yang sering muncul saat seorang pendidik bercerita, jadi penanganannya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kreativitas pendidik.

f.Media dan Alat bercerita berdasarkan cara penyajiannya; bercerita dapat disampaikan dengan alat peraga maupun tanpa alat peraga (direct story). Sedangkan bercerita dengan alat peraga tersebut dibedakan menjadi peraga langsung (membawa contoh langsung: kucing, dsb.) maupun peraga tidak langsung (boneka, gambar, wayang dsb). Agar bercerita lebih menarik dan tidak membosankan, pendidik disarankan untuk lebih variatif dalam bercerita, adakalanya mendongeng secara langsung, panggung boneka, digunakan papan flanel, slide, gambar seri, membacakan cerita dan sebagainya.sehingga kegiatan bercerita tidak menjemukan.

B.DONGENG
Kata Dongeng berarti cerita rekaan/tidak nyata/fiksi, seperti: fabel (binatang dan benda mati), sage (cerita petualangan), hikayat (cerita rakyat), legenda (asal usul), mythe (dewa-dewi, peri, roh halus), ephos (cerita besar; Mahabharata, Ramayana, Saur Sepuh, Tutur Tinular). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh). Jadi kesimpulannya adalah “Dongeng adalah cerita, namun cerita belum tentu dongeng.” Biasanya dongeng adalah cerita pada masa yang telah lama/silam dan masih hidup sebagai kebudayaan rakyat. Mendongeng maksudnya adalah bercerita atau menceritakan dongeng.
1.Manfaat Dongeng
Mengapa kita harus mendongeng? Karena dongeng mempunyai manfaat antara lain:
a.Dengan mendongeng, anak mengenal lingkungannya, mengenal karakter dan budi pekerti baik buruk, dan mendorong anak untuk menjauhi perbuatan yang dilarang dan melakukan perilaku budi pekerti yang positif.
b.Tujuan utama dari mendongeng adalah memperkaya pengalaman batin dan imajinasi anak serta menstimulasi reaksi sehat atasnya.
c.Mendongeng dapat merangsang dan menumbuhkan imajinasi serta daya fantasi anak secara wajar.
d.Mengembangkan daya penalaran, sikap kritis dan kreatif.
e.Mengetahui cerita dari sebuah dongeng, khususnya yang berhubungan dengan sejarah, anak akan mempunyai sikap peduli terhadap nilai luhur bangsa.
f.Melalui dongeng anak akan dapat membedakan perbuatan yang baik dan perlu ditiru, serta perbuatan buruk yang harus ditinggalkan.
g.Mendengarkan sebuah dongeng, anak mempunyai rasa hormat dan mendorong terciptanya kepercayaan diri dan sikap terpuji pada anak-anak.
h.Melalui dongeng, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh ataupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Ini pertanda bahwa anak-anak yang imajinasinya terstimulasi dengan baik akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang kreatif.
i.Meningkatkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi. Kata-kata yang digunakan dalam dongeng sangat baik untuk manambah perbendaharaan kata anak, sehingga memudahkan anak berkomunikasi dengan orang lain.
j.Cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, serta berbagai kebiasaan sehari-hari seperti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap aneka nilai tersebut karena orang tua di sini tidak bersikap memerintah atau mengPendidiki. Sebaliknya, para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.
k.Dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan orang tuanya, anak diharapkan mulai tumbuh ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.
l.Belajar mengenai kehidupan. Anak-anak akan belajar mengenali berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi oleh tokoh-tokoh dalam cerita dan bagaimana para tokoh itu menyelesaikan masalahnya. Hal ini dapat melatih anak berpikir rasional dan praktis, menyelesaikan masalah, serta mengambil keputusan.
m.Bagi anak-anak yang baru saja mengalami trauma atau sedang sakit, dongeng juga bisa jadi ajang pelepasan ekspresi, penyembuhan luka hati dan hiburan.
n.Dengan dongeng anak dilatih agar tak malu dan percaya diri. Interaksi yang baik antara pendongeng dengan anak akan memancing anak untuk bertanya, berkomentar, menjawab pertanyaan, bahkan menirukan tokoh dalam cerita.
o.Sebagai sarana untuk membangun karakter anak. Hubungan kegiatan mendongeng dengan pembentukan kepribadian anak terjadi saat anak mulai dapat mengidentifikasi tokoh. Ketika anak ikut hanyut dalam cerita, ia segera melihat dongeng dari mata, perasaan, dan sudut pandangnya.
p.Mendorong rasa ingin tahu. Dongeng yang kerahasiaan ceritanya terjaga dapat membuat anak betah berlama-lama duduk hanya karena ingin mengetahui akhir dari cerita dongeng yang mereka dengar. Rasa ingin tahu itu penting karena dapat menjadi pintu masuk ilmu pengetahuan.
q.Menstimulai jiwa petualangan. Melalui petualangan, anak akan belajar tentang banyak hal dari lingkungan di sekitarnya. Nah, kegiatan mendongeng bisa memberikan inspirasi anak untuk bertualang seperti tokoh yang ia dengar dari dongeng.
r.Menghangatkan hubungan orang tua dan anak. Dengan mendongeng orang tua bisa berbagi pengalaman, berkomunikasi, dan memberikan kesempatan pada anak.
s.Membantu memperluas wawasan anak. Anak tidak perlu ketempat yang belum dia kenal. Dengan dongeng wawasan anak menjadi bertambah luas.
t.Anak dapat menempatkan dirinya di tengah masyarakat dengan benar. Anak bisa memahami hal mana yang perlu ditiru dan yang tidak boleh ditiru. Ini akan membantu mereka dalam mengidentifikasikan diri dengan lingkungan sekitar, di samping memudahkan mereka menilai dan memposisikan diri di tengah-tengah orang lain.

2.Jenis-Jenis Dongeng
Dongeng yang dapat diceritakan pada anak :
a.Dongeng yang berkaitan dengan fungsi pelipur lara, dongeng ini disajikan dalam waku istirahat secara romantis, mengandung humor dan menarik seperti kisah Abu Nawas, Saridin Di Pati, punakawan dalam pewayangan dan sebagainya.
b.Dongeng yang berkaitan dengan kepercayaan nenek moyang. Biasanya dongeng ini disebut dengan mythe yaitu dongeng yag bercerita tentang dewa-dewa dan berkaitan dengan kepercayan masyarakat yang turun temurun. Seperti dongeng tentang penguasa padi yaitu Dwi Sri, tentang penguasa pantai selatan yaitu Nyi roro Kidul atau Nyi Blorong dan sebagainya.
c.Dongeng yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat. Dongeng tersebut biasa disebut legenda, yaitu dongeng yang menceritakan asal usul terjadinya suatu tempat. Misalnya terjadinya Gunung Tangkuban Perahu, Menara Kudus yang diceritakan berasal dari Candi Hindu, berdirinya Candi Prambanan,dan sebagainya.
d.Dongeng yang berkaitan dengan cerita rakyat, pada umumnya dongeng ini disusun untuk misi pendidikan misalnya kisah Malin Kundang, Sangkuriang dan Dayang Sumbi dan sebagainya.
e.Dongeng futuristik atau modern yaitu dongeng yang bersumber dari imajinasi tentang kondisi masa depan yang dapat menembus ruang, dan waktu. Seperti cerita Jumanji, film Star Trek yang berisi masa depan dan sebagainya.
f.Dongeng Fabel ialah dongeng tentang kehidupan binatang yang digambarkan dan bisa bicara seperti manusia, biasanya bersifat sindiran atau kiasan. Cerita-cerita fabel sangat luwes digunakan untuk menyindir perilaku manusia tanpa membuat manusia tersinggung yang termasuk ke dalam kelompok ini antara lain cerita si kancil dan kura-kura, srigala dan 3 anak babi, kucing bersepatu merah, sikancil dan buaya dsb. Tujuan dongeng ini menggugah imajnasi dan fantasi anak agar tumbuh dan berkembang.
g.Dongeng pendidikan yaitu dongeng yang dengan sengaja dibuat untuk memperbaiki perilaku seseorang. Skenario dibuat sedemikian rupa sehingga pesan yang disampaikan dapat memberikan perubahan pada perilakunya sesuai kehendak pembuat skenario.
h.Dongeng sejarah, yaitu berisi tentang sejarah seorang tokoh atau kejadian. Seperti tema kepahlawanan, sahabat Nabi, tokoh-tokoh bangsa yang menonjol dan sebagainya dengan tujuan untuk meneladani tokoh yang ada didalam dongeng.
i.Dongeng terapi yaitu dongeng yang digunakan untuk terapi orang yang trauma atas suatu kejadian. Misalnya untuk korban gempa, tsunami, banjir, tanah longsor danmusibah lainnya. Tujuan dongeng ini adalah untuk relaksasi dari kondisi mental yang mungkin down akibat musibah yang menimpah dirinya.

3. Teknik Menyiapkan Naskah Dongeng
a. Sumber Cerita Yang Telah Ada
Seorang pendidik yang akan bercerita pasti harus menentukan terlebih dahulu gambaran jalan ceritanya. Ia bisa saja mengambil dari buku-buku, majalah atau komik-komik tertentu. Bila langkah ini yang diambil maka dikatakan bahwa pendidik itu menggunakan sumber cerita yang sudah ada. Tentu saja cerita yang dipilih harus sudah dipertimbangkan masak-masak. Apakah cerita itu tepat ? Apakah cerita itu mempunyai bobot dan greget yang kuat ? Apakah cerita itu memberikan ruang gerak yang luas kepada pencerita untuk mengembangkan teknik penyajiannya ? Apakah cerita itu alurnya pas, tidak terlalu singkat dan tidak terlalu panjang ?. Boleh jadi ada naskah cerita yang perlu diperkaya adegannya, perlu diperdalam nilai konfliknya, atau perlu dimodifikasi/diubah penyelesaianya, dan sebagainya. Nah, bila sudah yakin benar atas pilihan ceritanya, maka seorang pencerita harus melanjutkannya dengan langkah-langkah berikutnya:
1.Memilih naskah dongeng yang tepat
2.Mengubah naskah, yaitu dari naskah dengan bahasa tulis menjadi naskah yang siap dibacakan secara lisan (naskah dengan bahasa lisan). Ingatlah, naskah itu tidak hanya harus bagus untuk dibaca, tetapi harus menarik untuk dibacakan.
3.Membaca naskah baru itu berulang-ulang sehingga pencerita yakin bahwa dirinya benar-benar menguasai alur/plot cerita (Nama-nama tokohnya juga jangan sampai lupa).
4.Menyiapkan bumbu-bumbu cerita (bila perlu tertulis dalam naskah). Untuk jenis cerita langsung (direct story) prosedur di atas mutlak diperlukan, terutama bagi pemula.
5.Tetap penting untuk pendongeng, sebab bila pendongeng telah setengah hafal maka ia akan terhindar dari mendongeng yang tersendat-sendat, salah baca, salah interpretasi atas sifat adegan ternyata kurang mendapat respon positif dan pendengarannya, karena pendongeng kurang menguasai segi-segi detail dari penyajian cerita tersebut. Untuk menghindari kesalahan interpretasi, sebaiknya naskah cerita diberi tanda-tanda khusus (misalnya digaris bawahi, diberi warna beda, dan sebagainya) atau penulisan naskahnya dirancang mirip naskah drama. pendongeng yang berpengalamanpun biasanya melakukan prosedur yang sama, meskipun prosedur 1 dan 4 tidak dilakukan secara khusus, ia cukup melakukannya di alam imajinasinya sendiri.

b.Mengarang Cerita Sendiri
Bila seorang pencerita hendak membuat naskah sendiri, maka yang terpenting ia harus menentukan terlebih dahulu alur atau plot cerita. Bisa dalam bentuk karangan/bagan alur/plot cerita atau sinopsis, bisa pula tertulis secara lengkap/detail. Bila ditulis secara lengkap, sebagaimana gambaran di atas, harus ditulis dengan gaya bahasa lisan. Selanjutnya prosedurnya relatif sama dengan prosedur di atas, yang penting alur/plot cerita harus benar dikuasai.
C.PEMBELAJARAN DENGAN CERITA TEMATIK
Pembelajaran ini dilakukan bukan seperti teknik pembelajaran yang biasa dilakukan oleh para pendidik, pembimbing maupun pengasuh anak. Materi pembelajaran yang ingin disampaikan kepada anak dikemas dalam sebuah cerita yang menyenangkan serta menggugah rasa ingin tahu anak. Teknik berceritanya lebih banyak mengunakan teknik berdialog antar tokoh yang ada didalam cerita. Teknik berdialog ini sangat bagus, karena anak-anak tidak merasa diPendidiki atau dinasehati, tetapi anak akan memperhatikan dialog dan isi dialog antar tokoh kemudian dialog tersebut akan diserap seolah itu adalah milik anak.
Cerita tematik ini biasanya tidak tersedia, tetapi cerita harus disusun oleh pendidik, pembimbing atau pengasuh sesuai dengan tema yang hendak disampaikan. Tema-tema yang digunakan untuk cerita untuk anak usia dini adalah tema-tema yang ada di sekeliling anak, misalnya tema tanaman, makanan dan minuman, kendaraan atau transportasi, kebersihan dan kesehatan, susunan keluarga, diri sendiri dan lain-lain. Dari tema-tema yang besar ini bisa buat menjadi sub-sub tema yang hendak diceritakan.
Contoh cerita tematik yang di susun oleh Kak Bimo (2011), yaitu cerita bertemakan tentang kebersihan dan kesehatan.
Tema : Kebersihan dan Kesehatan
Sub Tema : Manfaat kebersihan dan kesehatan
Cara memelihara kebersihan dan kesehatan
Kebersihan dan kesehatan diri sendiri
Kebersihan dan kesehatan lingkungan
Alat-alat kebersihan
Akibat hidup tidak bersih dan tidak sehat
Macam-macam penyakit
Contoh ceritanya:
Jenderal Virus dan Kapten Kuman
Sahdan, pesawat-pesawat meluncur dari negeri penyakit mendarat di Yogyakarta, di tempat yang paling jorok bernama tempat sampah. Pesawat ini dikendalikan oleh Jenderal Virus dan Kapten Kuman yang mendapat perintah dari sang Maha Raja Penyakit untuk membuat anak-anak di kota Yogyakarta sakit semua.
Jenderal Virus : Wahai Kapten!
Kapten Kuman : Iya Jenderal.
Jenderal Virus : Kita diperintahkan oleh sang Maha Raja Penyakit untuk membuat anak disini sakit semua.
Kapten Kuman : Siap jenderal, telah aku siapkan ribuan pasukanku, berjuta pasukan virus, bakteri serta jamur yang akan membuat anak-anak disini sakit perut, sakit gigi, telinganya congekan, pilek dan demam berdarah, hahahahah….
Jenderal Virus : Bagus, naiklah ke kaki-kaki lalat, moncong-moncong nyamuk dan tangan-tangan yang tidak dicuci sebelum makan, kaki-kaki yang tidak dicuci sebelum tidur, rambut yang tidak dikeramas, serta badan yang tidak dicuci dengan sabun ketika mandi.
Kapten Kuman : Baik Jenderal, segera kami akan berangkat mencari anak-anak itu. Pasukan……..Maju……..!

Semua pasukan yang dipimpin Kapten Kuman berangkat sesuai dengan yang diperintahkan oleh Jendera Virus dan menempatkan dirinya sesuai dengan yang telah ditentukan. Tiga hari kemudian Kapten melapor pada Jenderal.

Kapten Kuman : Lapor Jenderal, kita gagal.
Jenderal Virus : Apa maksudmu kita gagal Kapten?
Kapten Kuman : Anak-anak disini, mereka menjaga kebersihan dan kesehatan mereka sendiri. Mereka mencuci tangan sebelum makan, mereka keramas, menggosok gigi, membersihkan telinga dengan cotton bud, mereka membersihkan meja dan kursi dengan sulak atau kemoceng, mereka mengepel lantai, bahkan mereka mandi dengan sabun antiseptik.
Jenderal Virus : Sabun antiseptik?
Kapten Kuman : Iya
Jenderal Virus : Apa Itu?
Kapten Kuman : Jenderal belum tahu?
Jenderal Virus : Belum
Kapten Kuman : Hahahahaha…., Jenderal katrok! Ups, maaf Jenderal (sambil muka salah tingkah) Antiseptik kan pembunuh kuman, seperti kita.
Jenderal Virus : Huaaahh, bahaya…kita bisa kena marah sang Maha Raja Penyakit.
Kapten Kuman : Lahh, terus bagaimana?
Jenderal Virus : Jangan kwatir, kulihat di teropongku ada anak yang sedang jajan makan cilok. Lihat disana!
Kapten Kuman : Ha…cilok?
Jenderal Virus : Kulihat sausnya berwarna merah terang, berarti mengandung bahan kimia.
Kapten Kuman : Apa bahan kimia itu Jenderal?
Jenderal Virus : Itu adalah racun yang akan membuat mereka sakit, dan jangan lupa saus itu sudah basi dan telah banyak tumbuh jamur-jamur yang akan membuat mereka keracunan pula.
Kapten Kuman : Hahahaha…aku tahu tugasku, pasukan jamuuuur.berangkat!

Nama anak yang suka jajan itu adalah Kaslan. Ketika Kaslan jajan, ia mengatakan sesuatu.

Kaslan : Terima kasih bang, enak makanannya, ciloknya lezat loh rasanya, aku mau pulang dulu ya bang ya, sudah dipanggil emak!

Ketika Kaslan berjalan pulang, ia berkata kepada teman-temannya

Kaslan : Ayo teman-teman, kita pulang yuk! Aku dipangil emak nih, da..da…!
Kaslan : (Bret…bret….bret) Eeeeekhhhh, apa ini, perutku sakit sekali.
(Bret…bret..bret…) Aaaahhh….gara-gara jajan sembarangan, perutku sakit..Aaaahhh…aku gak mau jajan sembarangan lagi.

D.KESIMPULAN
Setiap anak memiliki tahap-tahap perkembangan yang berbeda-beda oleh sebab itu pendidikan yang diberikan harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak. Penyelenggaraan pendidikan anak usia dini bertujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh dan optimal. Untuk mendukung hal tersebut maka diperlukan Pendidik yang kreatif dalam mendidik anak usia dini. Pembelajaran dengan cerita tematik ini sebenarnya pembelajaran murni, yang harus diketahui dan dipahami oleh anak, tetapi dikemas sebagai cerita, agar pembelajaran lebih menyenangkan dan mengembirakan anak. Pembelajaran dengan cerita tematik juga terasakan oleh anak tidak sedang belajar, tetapi inti pembelajaran yang disampaikan oleh pendidik atau pengasuh akan tertanam dalam jiwa anak secara permanen.

Daftar Bacaan

Bagus Takwin, 2007. Psikologi Naratif, Membaca Manusia sebagai Kisah. Yogyakarta: Jalasutra

Kak Bimo, 2011. Piawai Mendongeng. Yogyakarta: Bim2Cha Press.

Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3. Jakarta: Balai Pustaka

DR. Murti Bunanta 2004. Buku Mendongeng dan Minat Membaca, Jakarta, Pustaka Tangga
Muhaimin al-Qudsi dan Ulfah Nurhidayah, 2010. Mendidik Anak Lewat Dongeng. Yogyakarta: Madania
http://kakbimo.wordpress.com/makalah-ringkas/ diunduh pada tanggal 28 Januari 2013.

PERJALANAN PANJANG FESTIVAL TEATER JAKARTA

•18 Maret 2013 • Tinggalkan sebuah Komentar

I.Kelahiran
Kelahiran sebuah even tidak terlepas dari buah pikiran dan kecintaan terhadap cita rasa mengembangkan apa yang dimiliki. Tetapi kelahiran itu juga karena buah dari keresahan dan kerisauan kreatifitas untuk membuat sesuatu. Pada waktu itu gedung Taman Ismail Marzuki sudah terbangun megah, dengan sarana prasarana sangat bagus. Setelah itu untuk apakah gedung dan sarana prasarana itu, difungsi sebagai apa, bagaimana caranya menghidupkan fasilitas yang ada di jantung kota tersebut.
Pemerintahan Jakarta pada waktu di jalankan oleh gubernur Ali Sadikin atau lebih dikenal dengan bang Ali. Pada saat yang bersamaan mempunyai keresahan dan kerisauan yang sama dengan seniman, bagaimana memfungsikan gedung Taman Ismail Marzuki. Waktu itu Wahyu Sihombing bersama seniman dan pihak pengelola pemerintahan merancang sebuah acara atau event untuk mengisi dan memfungsikan gedung yang telah dibangun dengan megah. Pada waktu hanya beberapa kelompok yang layak untuk mengisi acara di Taman Ismail Marzuki, misalnya Bengkel Teaternya Rendra, teater Mandiri yang dipimpin Putu Wijaya atau Teater Populer yang dipimpin oleh almarhum Teguh Karya. Tahun 1973 lahirlah event atau acara dengan tajuk Festival Teater Remaja Jakarta yang dibidani oleh Wahyu Sihombing. Pola yang diterapkan untuk menjaga prestise dari Taman Ismail Marjuki dan menjaga kualitas teater pada waktu itu adalah apabila kelompok tersebut menang 3 kali berturut-turut pada festival yang diadakan oleh wilayah, maka kelompok tersebut berhak untuk pentas di Taman Ismail Marjuki dan dibaiat sebagai kelompok senior.
Pada tahun 1973 sampai 1975 sudah mendapatkan kelompok teater senior yaitu Teater Sanggar Remaja Jakarta yang memunculkan aktor Boris Dorman sebagai aktornya. Kemudian diikuti oleh Teater Remaja Jakarta Pusat yang memunculkan aktor Dedy Mizwar. Festival Teater Remaja Jakarta pada waktu itu mempunyai misi atau jangkauan yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Jangkauan kuantitatif yaitu menjaring sebanyak-banyaknya kelompok teater, dan pada waktu itu terjaring lebih dari 142 kelompok teater. Hal ini berarti festival ini bisa diapresiasi oleh kalayak maupun pelaku teater di Jakarta. Sedangkan secara kualitatif, mencoba mencari kelompok teater yang layak di pentaskan di TIM agar tidak hanya didominasi oleh kelompok teater yang sudah besar pada waktu itu. Tahun demi tahun kelompok yang mengisi dan mengikuti acara ini semakin banyak bahkan bisa lebih dari 300 kelompok. Ada suatu gairah untuk berkesenian pada waktu itu.

II.Perjalanan
Perjalanan sebuah even atau acara bersama pasti mengalami yang namanya masa pasang surut atau masa kejayaan dan kemunduran. Masa-masa kemunduran ini banyak hal atau faktor yang mempengaruhi. Menurut Madin (ketua komite teater Dewan Kesenian Jakarta) pada dekade awal merupakan masa-masa kejayaan Festival Teater Jakarta yang dulu bernama Festival Teater Remaja Jakarta. Pada dekade awal (era 70-an) festival diikuti lebih dari 300 kelompok teater dari berbagai wilayah di Jakarta. Mungkin masa ini adanya suatu prestise bagi kelompok teater, bahwa kalau bisa mementaskan karya teater di Taman Ismail Marzuki (TIM) merupakan kelompok yang hebat dan diakui sebagai kelompok yang besar. Jadi semacam ada indikator keberhasilan sebuah kelompok teater, kalau bisa pentas di TIM berarti sudah bisa diakui secara nasional. Tetapi memang pada masa itu perkembangan teater di Indonesia memang luar biasa pesat.
Pada dekade kedua, (era 80-an) Festival Teater Jakarta mulai mengalami kemunduran, dan hal ini banyak faktor yang mempengaruhi. Pada masa itu Jakarta mengalami perkembangan yang luar biasa pesat khususnya di bidang ekonomi dan dan industri. Pertumbuhan di kedua sektor ini tidak berimbas pada pertumbuhan teater. Banyak masyarakat yang mencoba bertahan dan menyesuaikan dengan kondisi saat itu, agar tidak tertinggal dan tergilas secara finansial. Kondisi ini menyebabkan kantong-kantong kelompok teater menyebar atau hanya bertahan untuk bisa hidup dan beraktifitas. Ada juga karena ada rasa kejenuhan untuk mengikuti Festival Teater Jakarta dan berkesenian secara mandiri. Tetapi hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan perkembangan teater di Indonesia yang pada masa itu merupakan masa kejayaan teater Indonesia. Banyak kota kecil yang perkembangan teaternya cukup pesat, misalnya Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, semarang. Jadi semacam ada pergeseran dominasi wilayah untuk perkembangan teater di Indonesia.

III.Mempertahankan
Menurut Afrizal Malna, Festival Teater Jakarta, termasuk festival yang diikuti peserta paling banyak, bisa ratusan kelompok teater, terbagi dalam 5 wilayah kota. Memang festival ini sudah berjalan dan berlangsung 38 tahun, sejak 1973 sampai sekarang. Sebagian besar kelompok teater mengalami jatuh bangun begitu juga event ini. Progres dari festival ini hingga kini masih dipertanyakan. Terutama bagaimana hasil-hasil dari festival ini bisa menjadi bahan-bahan laboratorium teater yang sebenarnya sangat kaya untuk studi perbandingan, eksperimentasi teater, maupun proyek-proyek pertunjukan tematik, bagaimana pewacanaan terhadap festival ini dilakukan. Banyak gagasan-gagasan tak terduga muncul dalam festival ini. Hampir banyak festival di kota-kota lain sebenarnya juga memiliki masalah yang sama, yaitu tidak adanya kelanjutan bagaimana mengelola hasil-hasul festival. Sehingga banyak kelompok teater justru terjebak dalam lingkaran festival ini, mereka terus menerus mengikuti festival seperti Sisyphus yang setiap tahun mengikuti dan mengerjakan hal yang sama.
Mempertahankan sebuah event atau acara adalah pekerjaan yang sangat rumit dan kompleksitasnya tinggi dibandingkan dengan membuat atau menciptakan event atau acara. Butuh pikiran, cara dan strategi untuk mempertahankannya. Dewan Kesenian Jakarta sebagai pihak yang bertanggungjawab dan diberi mandat untuk melangsungkan jalannya festival ini mengambil langkah-langkah strategis. Salah satu langkah tersebut adalah mengandeng MGMP seni budaya ditiap wilayah Jakarta. Langkah kedua adalah membentuk kelompok, asosiasi, ikatan dan forum kelompok teater di tiap wilayah Jakarta. Karena Festival Teater Jakarta ini bisa diikuti oleh semua kelompok teater yang ada (termasuk kelompok teater pelajar dan anak-anak) maka pihak Dewan Kesenian Jakarta lewat Komite Teater memberi pelatihan kepada calon pelatih maupun guru seni budaya bidang seni teater.
Setelah pelatihan ini peserta akan mendapatkan semacam lisensi bahwa dia berhak mengajar seni teater di sekolah baik untuk intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Cara ini dijalankan karena adanya suatu kesadaran dari pihak dewan kesenian bahwa seniman atau calon pengajar seni teater di sekolah banyak yang tidak menguasai metodik dikdakti, atau tidak mempunyai bekal untuk transfer pengetahuan maupun transfer keterampilan. Dengan adanya pelatihan ini maka mutu pengajar seni teater di Jakarta yang kelompok teater sekolahnya tergabung dalam asosiasi akan mendapat kemudahan. Kemudahan yang didapat oleh pihak sekolah adalah akan mendapatkan pelatih atau guru seni teater yang berkualitas karena sudah teruji dalam pelatihan.
Langkah yang kedua adalah membentuk kelompok, asosiasi, ikatan atau forum teater di wilayah masing-masing. Dengan adanya kelompok, asosiasi, ikatan atau forum maka pola koordinasi dan jalinan antara kelompok teater lebih mudah terpantau dan adanya media untuk berdiskusi demi perkembangan teater di Jakarta. Hal ini juga akan memudahkan pelaksanaan Festival Teater Jakarta yang selanjutnya. Sebelum Festival Teater Jakarta yang diadakan di Taman Ismail Marzuki dilaksanakan seleksi di tingkat wilayah. Tiga kelompok terbaik ditingkat wilayah ini akan mementaskan karyanya di Taman Ismail Marjuki. Kalau tidak diadakan seleksi ditingkat wilayah, maka pesertanya cukup banyak. Pada tahun 2009 Festival Teater Jakarta untuk wilayah Jakarta Barat diikuti oleh lebih dari seratus kelompok dan dari seratus kelompok ini akan diambil 33 yang berhak mempresentasikan karyanya pada Festival Teater Jakarta Tingkat wilayah. Dari 33 kelompok ini akan diambil 3 kelompok yang berhak untuk mengikuti Festival Teater Jakarta yang diadakan di Taman Ismail Marzuki.
Langkah-langkah yang ditempuh oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk mempertahankan kelanjutan dan keberlangsung Festival Teater Jakarta, adalah dengan menjaga jalinan kerjasama dengan berbagai pihak, baik pihak pemerintah maupun pihak swasta. Jalinan dengan pihak pemerintah adalah kerjasama dengan pihak suku dinas kesenian dan kebudayaan, sedangkan dengan pihak swasta bisa kerjasama dengan pihak yayasan, perusahaan percetakan atau peruhasaan penyedia jasa lainnya dan tidak menutup kemungkinan dengan perusahaan rokok di Indonesia yang konsen dengan kesenian.

IV.Harapan
Harapan yang terkandung pada pelaksanaan Festival Teater Jakarta adalah bagaimana mewadahi kreatifitas dan pola pikir kritis dari setiap pelaku dan pemikir seni teater di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta. Selain itu sesuai dengan apa yang pernah dilontarkan oleh Afrizal Malna bahwa festival ini bisa menjadi bahan-bahan laboratorium teater yang sebenarnya sangat kaya untuk studi perbandingan, eksperimentasi teater, maupun proyek-proyek pertunjukan tematik, dan bagaimana pewacanaan. Dengan adanya eksperimentasi teater itu maka akan terbentuk bagaimana wajah teater Indonesia sebenarnya.
Mengembalikan kejayaan seni teater sebagai media untuk mencerdaskan penonton dan sebagai kebutuhan masyarakat untuk mengekpresikan pikiran kreatifnya. Banyak yang beranggapan bahwa seni teater adalah seni yang bisa membelajarkan masyarakat tetapi tanpa menggurui. Maka tidak heran kalau seni teater pada era 60-an dipergunakan oleh politikus untuk mempropaganda dan mengajarkan faham politik tertentu. Karena sifat dari seni teater yang membelajarkan masyarakat tetapi seolah-olah tidak mempengaruhinya karena dibalut dengan rasa senang dan gembira. Jadi bagaimana membuat sajian pementasan yang bisa mencerdaskan penontonnya tetapi tidak dengan tujuan negatif.

V.Acara FTJ ke-38 tahun 2010
1.Pembukaan
Pembukaan Festival Teater Jakarta kali ini dibuka dengan mementaskan salah satu kelompok teater tertua di Indonesia yang sampai sekarang masih eksis. Kelompok tersebut adalah Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih. Pada kesempatan ini kelompok sandiwara ini memainkan naskah dengan judul Beranak Dalam Kubur dengan sutradara Esek Sutarman.
Kelompok sandiwara Miss Tjitjih diambil dari Tjitjih nama salah satu pemain sandiwara tersebut. Dia lahir di Sumedang pada tahun 1908, dan sejak usia 15 tahun dia sudah mulai berkesenian.Nama Tjitjih mulai berkibar ketika pada tahun 1926 dia bertemu dengan pemimpin Grup Opera Valencia yaitu Aboe Bakar Bafaqih, pria Arab keturunan Bangil Jawa Timur. Ia bukan saja mengajak Tjitjih bergabung dalam sandiwaranya tetapi juga memperistrinya dua tahun kemudian. Sejak itu grup Opera Valencia berubah menjadi “Miss Tjitjih Toneel Gezelschap” atau Miss tjitjih saja. Sejak tahun itu pula perkumpulan Miss Tjitjih menetap di Batavia tepatnya di sebelah bioskop Rivoli, Kramat Raya.
Pada tahun 1931 kelompok Miss Tjitjih diundang untuk mengadakan pertunjukan sandiwara di Istana Bogor, dan sejak itu namanya semakin terkenal, hingga memiliki jadwal tetap di Pasar Gambir Batavia, sampai ditutup pada tahun 1936. Miss Tjitjih meninggal karena penyakit TBC pada usia 28 tahun. Ia meninggal seusai pentas di Cikampek. Meski demikian kelompoknya tetap hidup sampai sekarang.

2.Workshop Penulisan
Workshop penulisan ditujukan bagi calon-calon penulis kritik seni khususnya kritik seni teater. Hal ini dilakukan karena penulis kritik seni teater adalah orang langka dan sangat sedikit jumlah dan dari segi kualitas masih banyak kekurangannya. Penulis kritik seni teater bisa menjadi profesi tersendiri dan dia adalah calon-calon peneliti seni teater atau yang biasa disebut dengan Dramaturg. Di Indonesia yang bisa menjadi menjadi acuan penulis kritik seni teater adalah Afrizal Malna karena dia bisa mengkomparasikan antara pertunjukan yang dipentaskan dengan apa yang melatarbelakangi kejadian sosial pada waktu itu.
Workshop ini diikuti oleh 15 peserta dari 5 wilayah Jakarta yang meliputi berbagai profesi yaitu pekerja teater, mahasiswa yang punya kemauan untuk menggeluti dunia teater, dan masyarakat umum. Workshop dilaksanakan selama 2 hari dan mereka saling tukar pikiran kemudian menulis dan menelaah hasil tulisannya tersebut. Bahan yang bisa ditulis adalah seluruh pertunjukan dalam Festival Teater Jakarta tahun 2010 kemudian diusulkan dan dapat diterbitkan dalam Koran Festival Teater Jakarta tahun 2010.

3.Peluncuran Buku
Pada Festival Teater Jakarta ini juga diluncurkan 2 buku yang berhubungan dengan kesejarahan teater di Indonesia yaitu Antologi Drama Indonesia yang diseleksi dan diterbitkan oleh Yayasan Lontar, dan buku kedua adalah Perjalanan Teater Kedua, Antologi Tubuh dan Kata yang ditulis oleh Afrizal Malna dan diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta.
Buku pertama merupakan kumpulan naskah drama Indonesia dan ini merupakan bukti perjalanan panjang drama Indonesia. Buku dengan dewan redaksi terdiri dari Sapardi Djoko Damono, Jhon H. McGlynn, Melani Budianta, Nirwan Dewanto, Goenawan Mohamad dan Adila Suwarno Soepeno dan sebagai penasehat dari pakar di bidang drama yang terdiri Michael Bodden, Matthew Cohen, Cobina Gillit dan Ibnu Wahyudi. Buku ini bukan hanya sekedar catatan sejarah Drama Indonesia tetapi sekaligus menjadi pembelajaran budaya Indonesia.
Antologi Drama ini terdiri dari 4 buku antologi sesuai dengan periodenya, yaitu periode I (1895 – 1930) terdiri dari 9 naskah drama, Periode II (1931 – 1945 ) terdiri dari 11 naskah drama, Periode III (1948 – 1968 ) terdiri dari 14 naskah drama, dan Periode IV (1969 – 2000) terdiri dari 16 naskah drama. Antologi ini selain terbit dalam bahasa Indonesia juga terbit dalam bahasa Inggris yang membuat 34 naskah drama yang ditulis 35 orang penulis.
Menurut Nano Riantiarno (sebagai pembicara dalam peluncuran buku Antologi ini), Yayasan Lontar mempertimbangkan beberapa kriteria, kenapa naskah drama tersebut bisa masuk Antologi Drama ini, criteria tersebut antara lain:
1.Naskah tersebut mewakili zamannya, terutama mengacu pada bentuk, struktur, gaya penulisan dan pilihan tema lakon dan ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Melayu.
2.Terkenal, dikenal secara luas atau fenomenal pada masanya.
3.Pengarangnya terkenal atau dikenal secara luas pada zamannya.
4.Memiliki pengaruh sesudah karya itu diluncurkan, baik setelah ditulis maupun sesudah dipanggungkan.
5.Mengusung atau memotret secara lengkap ciri-ciri zaman saat karya itu diluncurkan sehingga karya tersebut dapat digolongkan sebagai potret zamannya.
Buku ke dua adalah buku yang ditulis oleh Afrizal Malna yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta dengan penerbit iCan (Indonesia Contemporary Art Network) Yogyakarta. Buku ini merupakan kumpulan tulisan kritik teater yang ditulis oleh Afrizal Malna yang tersebar di media massa. Afrizal Malna merupakan salah satu penulis kritik teater yang cukup disegani di Indonesia dan tulis-tulisannya bisa mencerdaskan dan membedah pertunjukan dengan baik dari sisi pertunjukannya serta proses sampai melahirkan pertunjukan tersebut. Disamping itu buku ini juga berbicara tentang pemikiran dan gagasan teater yang akan merangsang praktisi seni pertunjukan untuk mempertanyakan kembali pemahaman artistik karyanya.

4.Dialog Tematis
Dalam dialog tematis ini banyak membicarakan tema besar yang akan digunakan sebagai tema Festival Teater Jakarta untuk tiga tahun kedepan. Tema yang ditawarkan untuk tiga tahun kedepan adalah “Membaca Aku, Membaca Laku”. Tema ini diambil untuk platform kerja teater atau sebagai dasar atau kerangka besar dalam setiap pementasan karya teater Festival Teater Jakarta, dan tema ini baru merupakan tawaran.
Diskusi tematik ini diselenggarakan untuk menjajagi respon dari pekerja teater di Jakarta. Secara lebih jauh hal ini akan dibahas oleh dua orang pakar dan pekerja teater yaitu Benny Yohanes dan Ugeng T. Moetidjo. Dua orang ini menyoroti teater berdasarkan pendekatan yang berbeda, sehingga sejumlah kemungkinan ide kreatif dan kerja artistic akan dapat dilahirkan. Ugeng T. Moetidjo lebih menyoroti teater dari sisi dan aspek teater aktor, sehingga peran serta seorang sutradara tidak terlalu dominan. Sedang Benny Yohanes masih menyoroti teater dari sisi dramatik, sehingga karya teater masih mendasarkan diri dari sisi drama sebagai pijakan karya artistik, dan kemungkinan besar peran serta seorang sutradara sangat dominan.

5.Diskusi Besar
Selama ini Festival Teater Jakarta lebih bersifat lomba teater yang secara sengaja diselenggarakan dengan tujuan pembinaan generasi muda. Mekanisme penyelenggaraan dimulai dari tingkat penyisihan yang dilakukan di gelanggang remaja setiap wilayah di Jakarta sementara untuk finalnya dilakukan di Taman Ismail Marzuki.
Diskusi besar ini akan diikuti oleh Dewan Kesenian Jakarta, Suku Dinas Kebudayaan di 5 wilayah Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, perwakilan komunitas teater serta tokoh-tokoh kesenian dan kebudayaan. Agenda utama pertemuan ini adalah membahas mekanisme Festival Teater Jakarta dan program pembinaan sebagai tindak lanjut FTJ dalam upaya menunjang geliat perteateran di Jakarta.

6.Pementasan Teater
Pementasan teater dalam rangka Festival Teater Jakarta ini mementaskan 16 karya dari beberapa wilayah di Jakarta. Pementasan ini merupakan hasil seleksi di tingkat wilayah yang terdiri dari Jakarta selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur maupun Jakarta Pusat. Ke-16 kelompok pementasan ini tidak hanya diikuti oleh kelompok teater profesional tetapi juga diikuti teater pelajar dan teater kampus.
Penyaji teater itu terdiri dari Teater Nonton mementaskan teater dengan judul “Ruang Kehormatan” naskah oleh Manahan Hutauruk dan sutradara Diky Soemarno dengan konsep pementasan permainan realis dengan gaya sendiri sesuai dengan konsep yang terpahami dan dapat diterima oleh penonton. Teater Lorong mementaskan teater dengan judul “ Siapa Yang Menyebabkan “ naskah dan sutradara oleh Djaelani Manoch. Teater Legiun mementaskan teater dengan judul “Siau Ling” naskah oleh Remy Sylado dan sutradara oleh Ibas Aragi. Teater Extro mementaskan teater dengan judul “Nol Karat” naskah oleh Roy Hakim dan Sutradara oleh Adi Bujkelgan Kurniawan. Study Teater 24 mementaskan karya dengan judul “Perguruan” naskah oleh Wisran Hadi dan sutradara oleh Rizal Nasti. Teater Jelaga mementaskan teater dengan judul “Stasiun” naskah dan sutradara oleh Khudri. Teater Pangkeng mementaskan karya berjudul “Nyai Dasima”, naskah oleh SM. Ardan dan sutradara oleh Yamin Azhari. Stage Corner Community mementaskan karya berjudul “Ni Rangda”, tafsiran bebas dari buku “Calon Arang” karya Pramoedya Ananta Toer dan sutradara oleh Dadang Badoet. Teater Anam mementaskan karya teater dengan judul “Sunan Sableng dan Baginda Faruq” naskah oleh Emha Ainun Najib dan sutradara oleh Herman A. Rasyid. Teater Mode mementaskan karya teater dengan judul “Nenek Tercinta”, naskah oleh Arifin C. Noer dan sutradara oleh Eren Mode. Teater Ciliwung mementaskan karya teater dengan judul “Kisah Cinta Di Hari Rabu”, naskah Anton Chekov, terjemahan Sapardi Djoko Damono, dan sutradara oleh Irwan Soesilo. Teater Amoeba mementaskan teater dengan judul “Nabi Kembar”, naskah oleh Slawomir Mrozeck dan sutradara oleh Joind Bayuwinanda. Teater Sketsa mementaskan karya teater dengan judul “Terdampar”, naskah oleh Slawomir Mrozeck dan sutradara oleh Ujang GB. Teater Indonesia mementaskan karya teater dengan judul “Rumah Boneka”, naskah oleh Suuji Terayama dan sutradara oleh Budi Ketjil. Teater El-Na’ma mementaskan teater dengan judul “Kisah Malam Dari Seribu Satu Malam”, sutradara oleh Echo Chotib S.Ag. Teater Kembali 1 mementaskan karya teater dengan judul “Nyonya-Nyonya”, naskah Wisran Hadi dan sutradara oleh Si Way Budha.
Semua pementasan teater dalam rangka Festival Teater Jakarta ini mengambil tempat di sekitar Taman Ismail Marzuki, khususnya di teater luwes IKJ dan Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Pelaksanaan pementasan dimulai tanggal 17 Desember 2010 sampai dengan tanggal 24 Desember 2010.

7.Pemutaran Video Dokumentasi
Dengan berkembangnya teknologi pendokumentasian maka sebuah peristiwa masa lampau masih bisa kita nikmati. Urusan kegiatan pendokumentasi karya seni pertunjukan kadang dilakukan oleh pelaku sendiri dan untuk kepentingan sendiri. Dalam acara pemutaran video dokumentasi ini, yang diputar adalah dokumentasi yang dimiliki dan dikoleksi oleh pelaku tetapi juga ada yang di miliki dan dikoleksi oleh lembaga dan yayasan yang konsen sama perkembangan seni budaya di Indonesia.
Menonton dokumentasi video pertunjukan merupakan cara yang menyenangkan untuk memperluas wawasan dan berapresiasi demi penciptaan kemungkinan terciptanya visual artistik. Pemutaran video dokumentasi pementasan ini memutar dokumentasi teater Kubur dengan judul “Sirkus Anjing”, teater Teku dengan judul “Kintir”, teater Gardanala dengan judul “Bertiga”, teater Kita dengan judul “Ayam Berwarna Hijau Jatuh Dari Mulutku”, teater Sahita dengan judul “Srimpi Srimpet”, Wayang Suket dengan judul “Suluk Air”, teater Satu dengan judul “Aruk Gugat”, teater Gapit dengan judul “ Leng”, teater Sakata dengan Judul “ Bumi Perempuan”, teater Garasi dengan judul “Je:Ja:lan”, Lab Teater Syahid dengan judul “kubangan”, Stoek Theater dengan judul “Keluarga Bahagia”, dan teater SAE dengan judul “Biografi Yanti 12 Menit”.

8.Pameran Dokumentasi Teater
Pada acara Festival Teater Jakarta ke-38 tahun 2010 ini juga dipamerkan berbagai dokumentasi, baik foto pementasan maupun poster pementasan dari asosiasi, forum, komunitas maupun ikatan teater dari berbagai wilayah di Jakarta. Dokumentasi ini seakan-akan bercerita sendiri bagaimana perjalanan peristiwa teater terjadi di Jakarta pada umummnya dan diwilayah-wilayah Jakarta pada khususnya.
Dokumentasi seni pertunjukan pada umumnya dan dokumentasi pertunjukan teater di Indonesia belum tergarap dengan baik, sehingga kita kadang kesulitan untuk merunut perkembangan seni teater di Indonesia. Dengan adanya pameran seperti ini kita seolah-olah diajak kembali untuk menyaksikan peristiwa teater masa lampau dan mencoba mengapresiasi apakah ada perkembangan dari satu kelompok tersebut atau apakah kelompok itu sudah hilang dan membubarkan diri.

9.Penutupan
Penutupan Festival Teater Jakarta ke-38 tahun 2010 ditutup dengan mementaskan teater boneka dengan tajuk Wayang Kampung Sebelah dengan lakon Yang Atas Mengganas, Yang Bawah Beringas. Wayang ini tidak sama dengan wayang kulit yang selama ini kita kenal yang biasanya mengambil induk lakon dari Mahabarata ataupun Ramayana dari India. Wayang Kampung Sebelah adalah wayang kulit dalam bentuk baru atau genre baru yang diciptakan oleh orang-orang yang berlatarbelakang seni tradisional tetapi hidup dan terpengaruh oleh budaya modern dalam kehidupannya.
Penciptaan pertunjukan Wayang Kampung Sebelah ini konon berangkat dari keinginan membuat format pertunjukan wayang yang mengangkat kisah kehidupan masyarakat sekarang secara lebih lugas dan bebas. Tokoh-tokoh yang tergambar dalam bentuk wayang yang dimainkan juga beraneka ragam dan seperti realitas keseharian. Misalnya tokoh wayang preman, bakul jamu, tukang becak, pak RT, pak Lurah, Pejabat Negara, Pengemis, ibu rumah tangga dan lain-lain.
Dalam pertunjukannya menggunakan medium bahasa percakapan sehari-sehari, baik bahasa daerah maupun bahasa Indonesia tercampur dalam bentuk komunikatif. Pesan yang disampaikan dan dikomunikasikan oleh dalang lebih mudah ditangkap oleh penonton. Sumber inspirasi cerita yang dimainkan juga mengambil isu-isu aktual keseharian baik yang menyangkut persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan. Dalam pementasannya juga mengambil gaya pementasan teater rakyat, dimana penonton, pemain musik maupun yang hanya sekedar lewat bisa menanggapi maupun menimpali obrolan yang dimainkan oleh dalang serta mengolahnya menjadi bahan sajian. Wayang ini adalah merupakan pertunjukan wayang alternativ atau tawaran baru dari pertunjukan wayang pakem yang selama ini kita saksikan.
10.Juri Festival Teater Jakarta
Festival biasanya dinilai oleh beberapa juri untuk mencari pemenang diantara mereka, sekaligus untuk menghidupkan semacam lingkungan kompetitif diantara kelompok teater yang ikut dalam festival. Juri pada acara ini terdiri dari Putu Wijaya, Nano Riantiarno, Dindon W.S., Ratna Sarumpaet dan Franky Raden. Putu Wijaya adalah salah satu tokoh teater di Indonesia, dia adalah pemimpin teater Mandiri, penulis lakon, sutradara maupun aktor teater yang hebat di Indonesia. Bagi Putu Wijaya pertunjukan teater harus bisa memberi kesadaran pada penontonnya serta bagaimana memanfaatkan apa yang ada untuk tujuan artistik pementasan. Nano Riantiarno adalah pemimpin sekaligus penulis lakon teater Koma. Karya pementasan Nano Riantiarno banyak mengambil gaya pementasan teater tradisional khususya daerah Cirebon.
Dindon W.S. adalah pemimpin sekaligus konseptor teater Kubur, teater yang mencoba untuk membebaskan diri dari belenggu kata-kata verbal. Pementasan teater Kubur, kebanyakan lebih banyak mengeksplorasi tubuh sebagai media untuk berkomunikasi. Dengan bahasa tubuh inilah akan muncul idiom-idiom baru tentang komunikasi. Ratna Sarumpaet adalah salah satu tokoh teater perempuan, dimana setiap karya yang diciptakan lebih banyak membela dan menyuarakan kepentingan kaum perempuan. Menurut dia, kaum perempuan di Indonesia belum setara dengan kebebasan kaum laki-lakinya. Franky Raden adalah salah satu tokoh seni musik di Indonesia yang dipertimbangkan karena tidak terlalu terpengaruh dengan musik industri.

Sumber :
Afrizal Malna, 2010. Perjalanan Teater Kedua, Antologi Tubuh dan Kata.Yogyakarta; iCan (Indonesia Contemporary Art Nerwork)
Buku Acara Festival Teater Jakarta ke-38 tahun 2010
Wawancara dengan Madin Tyasawan, ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta
Informasi dari Ags. Aryadwipayana, Ketua Panitia Festival Teater Jakarta ke-38 tahun 2010.

ORGANISASI SENI PERTUNJUKAN DAN FUNGSI MANAJEMEN

•18 Maret 2013 • Tinggalkan sebuah Komentar

Organisasi seni pertunjukan secara sederhana dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang melembagakan diri, yang bersifat tradisional maupun modern untuk mempertunjukan hasil karya seninya secara komersial maupun non-komersial untuk suatu tontonan atau tujuan lain. Berdasarkan pandangan ini, maka seni pertunjukan dapat dikelompokan menjadi dua aspek dalam pandangan manajemen, yaitu fungsi manajemen secara horizontal dan fungsi manajemen secara vertical. Fungsi manajemen secara horizontal lebih mengacu pada kelembagaannya dan fungsi manajemen secara vertical mengacu pada cakupan bidang kegiatan keseniannya.
Menurut Dadang Suganda, sudah bukan merupakan persoalan lagi bagi masyarakat pada umumnya dan bagi masyarakat seni khususnya, bahwa seni pertunjukan saat ini telah dikomersialkan. Setiap bentuk pertunjukan yang disponsori pihak tertentu untuk dikonsumsi masyarakat, senantiasa berkaitan dengan dengan proposal pengajuan kegiatan dan kontrak kerja yang mengatur kesepakatan yang mengatur tentang aturan main yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak termasuk jaminan dan imbalan jasa bagi para seniman pelaku yang menggarapnya.
Konsekuensi logis dari bentuk pertunjukan yang demikian membawa dampak terhadap kualitas pertunjukan itu sendiri. Kondisi tersebut menuntut selektivitas secara kompetitif dalam menentukan pendukung. Sebab pada dasarnya kualitas merupakan modal yang utama untuk menghasilkan sebuah pertunjukan dengan sebutan predikat terpuji yang membawa implikasi terhadap kualitas hasil pertunjukan secara keseluruhan. Dengan demikian para pendukung seni tersebut tidak hanya dituntut untuk mampu dan terampil dalam hal teknis saja melainkan juga memiliki sikap yang positif dan dorongan yang kuat dalam dirinya, disiplin yang tinggi, percaya diri, terbuka untuk menerima koreksi atau pendapat orang lain, serta menunjukkan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap profesinya sebagai seniman. Maka bukan suatu hal mustahil bahwa prestasi kerja dengan sebutan predikat terpuji akan diraihnya dengan mudah.
Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat didalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20. Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, dan mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut telah diringkas menjadi tiga, yaitu:

1. Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan organisasi secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Pimpinan mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tidak dapat berjalan.

2. Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan pada tingkatan mana keputusan harus diambil.

3. Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha.

B. MANAJEMEN SENI PERTUNJUKAN
Manajemen Seni Pertunjukan adalah proses merencanakan dan mengambil keputusan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan sumber daya manusia, keuangan, fisik, dan informasi yang berhubungan dengan pertunjukan agar pertunjukan dapat terlaksana dengan lancar dan terorganisir. Manajemen seni pertunjukan dapat di petakan lagi menjadi, menajemen organisasi seni pertunjukan dan manajemen produksi seni pertunjukan.
Manajemen akan membantu organisasi seni pertunjukan di dalam mewujudkan harapannya untuk memproduksi karya secara maksimal. Regulasi ke arah itu diupayakan dengan melalui pemberdayaan berbagai komponen yang terkait untuk bersinergis dalam membangun jaringan yang tanggap seperti proporsi rumah laba-laba. Apabila berbagai komponen pendukung yang dirasakan dapat digunakan sebagai stimulus dalam mempermulus laju dan perkembangan produksi seni pertunjukan sebaiknya dilakukan secara komprehensif. Di sini faktor keberuntungan, perencanaan produksi, strategi penerapan dan penggunaan celah yang mendatangkan peluang bisnis besar perlu diterapkan walaupun pada kapasitas produksi untuk penyajian karya seni sebagai hobi saja. Dengan demikian diperlukan kerja keras berbagai komponen yang terlibat dan sekaligus upaya penanganan hambatan harus diminimalisir secara tepat, sehingga pelaksanaan produksi karya seni menjadi pilihan dan harapan bersama.
Di sisi lain Masalah manajemen sebagai basis dalam pengelolaan suatu organisasi seni pertunjukan memiliki kompetensi yang sangat krusial dalam menentukan laju dan arah pengembangan dari suatu seni pertunjukan. Secara umum dalam pengelolaan terasa sangat gampang, namun dalam pelaksanaannya memerlukan penanganan yang sangat rumit, butuh perhatian khusus serta lebih diutamakan pada pengalaman empirik menjadi sumber dalam melaksanakan dan sekaligus menetapkan keberhasilan produksi karya seni secara proporsional.

C. TUGAS DAN FUNGSI SETIAP BIDANG

1. Manajemen Produksi
a. Pimpinan Produksi
Pimpinan produksi adalah orang yang ditunjuk untuk mengorganisir pementasan suatu seni pertunjukan. Pimpinan produksi bertanggung jawab secara keseluruhan atas pelaksanaan dan keberhasilan produksi seni dipergelarkan. Tugas keberhasilan dan selesainya produksi menjadi taruhan bahwa pimpinan produksi seni pertunjukan juga menjadi ujung tombak terdepan dalam penyelenggaraan hingga selesainya pementasan maupun laporan pelaksanaan kegiatan dilakukan. Pimpinan produksi harus memahami peran, tugas, dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan dan ia berada di garda depan produksi seni pertunjukan dalam menjalankan tugas produksi.
Tugas kontroling kerja kerumahtanggaan, operasional staf, pemilihan tempat pementasan, hingga standar kualifikasi gedung yang digunakan sebagai pertunjukan produksi adalah kacakapan tugas yang diembannya. Peran pimpinan produksi dalam pelaksanaan pementasan menjadi motor gerak bawahan agar seluruh staf mau dan mampu bekerja maksimal, sehingga sukses dan tercapainya pementasan yang berbobot. Target yang diharapkan bersama dalam produksi seni pertunjukan merupakan simbol keberhasilan pimpinan produksi dalam mengawal anak buahnya.

b. Sekretaris Produksi
Sekretaris adalah orang yang bertanggungjawab dalam membukukan dan mencatat semua kegiatan yang berhubungan dengan produksi seni pertunjukan. Tugas dan tanggungjawabnya adalah bersifat administrasi. Tugas yang dikerjakan meliputi: membuat proposal pementasan, membuat surat-surat yang berhubungan kegiatan pementasan pertunjukan (surat ijin, surat kerja sama dan lain-lain), mengarsipkan surat masuk dan surat keluar serta membuat rancangan kegiatan yang berhubungan dengan administrasi kesekretarisan.

c. Bendahara
Bendahara adalah orang yang bertanggungjawab terhadap semua hal yang berhubungan dengan keuangan. Kegiatannya adalah berhubungan dengan pelaksanaan maupun administrasi keuangan sampai dengan pelaporan keuangan yang digunakan dalam pementasan pertunjukan (pembukuan keuangan).

d. Urusan Dokumentasi
Urusan dokumentasi dikerjakan dan menjadi tanggungjawab seorang dokumentator yaitu orang yang bertanggungjawab atas dokumentasi kegiatan. Hasil dari dokumentasi ini bisa berupa visual (foto, gambar dan dokumen cetak lainnya), audio (rekaman suara, rekaman music dan lain-lain) serta audio visual (videografi, film dan lain-lain). Jadi tanggungjawab seorang dokumentator adalah merencanakan, melaksanakan dan menyimpan semua dokumentasi kegiatan pementasan pertunjukan. Semua hasil kerjanya diserahkan kepada pimpinan produksi untuk dapat digunakan untuk keperluan yang lain setelah pementasan pertunjukan tersebut.

e. Urusan Publikasi
Urusan Publikasi bertanggungjawab terhadap segala urusan promosi dari kegiatan pementasan pertunjukan. Tugasnya adalah merancang publikasi untuk berbagai media, baik media cetak (Koran, majalah, poster, flyer), media audio (radio) maupun media audio visual (untuk keperluan televisi, web internet). Tanggungjawabnya tidak hanya merancang, tetapi juga melaksanakan dan mewujud segala media yang telah dirancang dan disepakai oleh tim produksi.

f. Urusan Pendanaan
Urusan pendanaan bertanggungjawab terhadap penyediaan dana yang dibutuhkan dalam proses dan pelaksanaan pementasan seni pertunjukan. Pada dasarnya urusan pendanaan adalah upaya pengalangan dana dalam bentuk uang, tetapi didalamnya tercakup upaya mendapatkan dukungan atau bantuan non uang, seperti sumbangan pemikiran, tenaga, pinjaman tempat dan fasilitas. Maka orang-orang yang dipercaya untuk bertanggungjawab pada urusan pendanaan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menyakinkan pada pihak lain mengenai pentingnya visi dan misi pertunjukan yang digelar sehingga pihak lain teryakinkan untuk mendukung pementasan yang akan digelar.

g. Tiketing
Mereka bertanggung jawab atas penjualan dan pembelian karcis pertunjukan. Jumlah pengeluaran dan pemasukan harus seimbang. Komoditas terciptanya layanan yang manusiawi dan berwibawa menjadi misi yang harus ditampilkan staf ini dalam bentuk layanan publik secara langsung. Bagian karcis juga bertugas dalam menghitung kapasitas dari gedung dan berapa tiket yang akan di jual. Hak dan kewajiban yang dilakukan dalam bentuk melayani penonton dengan ramah, murah senyum, serta menawan dan menarik, sehingga penghargaan terhadap penonton cukup disegani. Kewajiban yang harus dilakukan berupa layanan publik secara langsung ditunjukan melalui kontak interaksi dengan itu baik-buruk layanan akan tercermin dari penampilan pada saat itu.
Hak yang dimiliki oleh staf ini adalah konsultasi dan konsolidasi kepada pimpinan staf produksi melalui mandat dan kepada pimpinan kerumahtanggaan secara langsung tentang tugas, kewajiban, dan tanggung jawab kerja yang harus direfleksikan.

i.House Manager
House Manager atau Pimpinan Kerumahtanggaan dalam suatu produksi karya seni pertunjukan merupakan salah staf yang bertugas mengemban pelayanan publik serta bertanggung jawab kepada pimpinan produksi dalam layanan staf dan layanan publik. Pelayanan ditujukan kepada seluruh staf produksi yang bekerja menyelenggarakan produksi seni pertunjukan. Layanan kepada publik diberikan dalam hubungan pemberian servis kepada penonton mulai dari pembelian karcis, pelayanan gedung, hingga kenyamanan penonton agar penonton merasa dihargai dan dihormati secara tepat. Tugas pelayanan publik dilakukan mulai dari kenyamanan menjamu penonton, pelayanan pemesanan karcis, hingga suasana pementasan agar berjalan lancar dan nyaman menjadi bagian tugas yang harus diciptakan. Kondisi pelayanan sejak awal pertunjukan, istirahat, hingga akhir pementasan menjadi kordinasi seksi kerumahtanggaan di dalam gedung dan di luar gedung. Artinya, kompleks pertunjukan harus terbebas dari keributan, suasana yang menjadi kekuatan emosi penonton untuk menikmati pertunjukan secara antusias, empati, dan simpati serta nyaman.
Pelayanan kepada staf produksi dalam bentuk memberikan kesejahteraan berupa layanan konsumsi sejak penyelenggaraan produksi mulai dari rapat pertama, pelatihan, gladi kotor, gladi bersih, pementasan/pertunjukan hingga acara pembubaran produksi. Layanan tersebut terkait dalam bentuk kesejahteraan dan pemenuhan konsumsi secara rutin acara kegiatan berlangsung.
Hak dan kewajiban pimpinan kerumahtanggaan adalah berkonsultasi kepada pimpinan produksi dan pimpinan artistik dalam hal layanan staf. Dalam layanan publik, kepala bagian ini minta dengar pendapat publik berkenaan dengan bagaimana teknik dan operasional servis yang dapat memuaskan publik, serta memberikan layanan cepat pesan melalui komunikasi bebas pulsa atau komunikasi lain dalam bentuk antaran servis. Bidang-bidang yang termasuk dalam house manager yaitu:
• Seksi Keamanan
• Seksi Akomodasi
• Seksi Konsumsi
• Transportasi
• Seksi Gedung (untuk pementasan, latihan maupun untuk koonfrensi pers)

2. Manajemen Artistik
a. Sutradara/Konseptor
Sutradara atau Konseptor adalah orang yang membuat konsep dari pertunjukan, dan mengatur alur atau laku dari sebuah pertunjukan. Sutradara atau Konseptor juga berperan dalam memilih repetoar yang ingin dipentaskan mengatur emosi yang ingin disampaikan kepada seluruh pemain dan juga penonton. Jadi sutradara atau konseptor bertanggungjawab penuh pada pemain dan penata-penata artistic agar bisa mewujudkan suatu pertunjukan yang utuh.

b. Pimpinan Artistik
Pimpinan artistik adalah pimpinan yang bertindak dan bertanggung jawab atas karya seni yang diproduksikan. Tanggung jawab artistik karya, performa penyajian hingga tata urut pementasan agar dapat menyajikan urutan pementasan yang harmonis adalah menjadi tanggung jawab pimpinan artistik. Dalam Paduan Suara Mahasiswa “Giata Savana”pimpinan artistik tertinggi adalah seorang Kondukter. Pimpinan artistik memiliki hak dan kewajiban berhubungan dengan keartistikan karya seni yang dipentaskan. Berbagai capaian karya seni dipertunjukan menjadi bagian tanggung jawab moral yang tidak dapat dibayarkan melalui penataan artistik karya seni. Dengan demikian masalah teknis, tata letak setting, tata indah pencahayaan, dan artistiknya kostum artis menjadi tanggung jawaqb yang diemban oleh pimpinan artistik. Pimpinan artistik membawahi staf yang bertugas pada saat karya seni dipertunjukan di atas panggung atau stage.
Berbagai kejadian, kejanggalan, keajaiban, dan kesuksesan di atas panggung atau kerangka pementasan karya seni menjadi konstruk perintah terhadap staf yang ada dibawah tanggung jawab pimpinan artistik. Hak dan kewajiban pimpinan artistik adalah konsultasi teknis pementasan dengan pimpinan produksi. Kewajibannya adalah membimbing, mengarahkan , dan mengkordinasikan staf di bawah artistik yang operasional di atas panggung atau terkait dalam pementasan saat berlangsung.
Staf bawahan pimpinan artistik terdiri dari Pimpinan Panggung & Kru, Penata Cahaya & Kru, Penata Sound dan Musik & Kru, Penata Properti & Kru, Penata Rias dan Kostum & Kru, serta petugas gedung yang secara operasional diatur oleh pimpinan panggung.Simulasi dalam pertunjukan yang sedang berlangsung, pimpinan ini berperan mengevaluasi hasil tata cahaya, tata panggung, dan organisasi kerjasama antar bawahan Pimpinan Artistik.

c. Stage Manager
Stage Manager adalah orang yang mengkordinasi seluruh bagian yang ada di panggung. Tugas dan tanggung jawab stage manager dan staf panggung adalah mengatur urutan pementasan berdasarkan advis arahan pimpinan artistik serta mengakumulasi berbagai kebutuhan mulai dari alat-alat musik yang digunakan pementasan hingga bagaimana setting, pencahayaan, musik dan efek musik serta berbagai kebutuhan lain yang diminta pimpinan produksi atau penyaji karya seni dalam suatu produksi pementasan.
Stage Manager bertugas merumuskan atau menetapkan secara lebih detail pelaksanaan acara pada hari-H terutama pada konsep penampilan dan pengisi acara, tata panggung dan tata lampu serta terjun langsung ke lapangan pada hari-H dan turun tangan langsung. Run down adalah detail susunan acara dalam suatu kegiatan pada hari-H. Dalam run down tercantum secara detail person yang terlibat dan peralatan yang dibutuhkan dalam setiap penampilan serta keterangan-keterangan yang diperlukan.

d. Penata Panggung
Penata properti dan kru bertanggung jawab langsung kepada pimpinan artistik, namun secara herarki masih sama dengan staf lain dilingkungan artistik yakni melaporankan kejadian dan layanan pemesanan yang diminta penyaji karya seni dan prasaran penata artistik berdasarkan pada saat kebutuhan alat diminta oleh kedua belah pihak. Beban tanggung jawab dan tugas penata properti adalah menjadi layanan pemenuhan kepada penyaji karya seni dan tuntutan artistik garapan berdasarkan prasaran dari pimpinan artistik. Sukses dan artistiknya pementasan karya seni yang dipergelarkan kebutuhan properti yang diharapkan penyaji dan pimpinan artistik diberikan sepenuhnya atau layanan purna lengkap kepada kedua belah pihak. Masalah kelengkapan properti untuk kebutuhan penari tanggung jawab staf ini.
Bagaimana cara mengatasi apabila tidak ada properti yang diminta oleh penyaji karya seni dan pimpinan artistik menjadi beban tugas dan tanggung jawab pimpinan properti dan kru. Hak dan kewajibannya sama dengan staf di bawah pimpinan artistik yakni berkonsultasi kepada pimpinan artistik, pimpinan panggung dan penyaji karya seni. Kewajiabannya adalah memberikan layanan kepuasan atas artistik tidaknya pementasan karya seni yang dipergelarkan. Di bawah ini menunjukan gambar potret kerja penata properti dan kru. Tugasnya mendisain dan memasang properti di atas pentas, persiapan dan menyediakan properti yang dibutuhkan penari pada saat pertunjukan.

e. Penata Cahaya
Penata cahaya bertanggung jawab langsung kepada pimpinan artistik, namun secara hirarki laporan kejadian berdasarkan prasaran penyaji karya seni tanggung jawab penata cahaya secara tidak langsung bertanggung jawab kepada pimpinan panggung dan penyaji.Beban tanggung jawab dan tugas penata cahaya adalah menjadi sumber sukses dan artistiknya pementasan karya seni yang dipergelarkan. Masalah pencahayaan, terang-padamnya lampu, serta bagaimana cara mengatasi apabila terjadi kecelakaan matinya lampu dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) adalah menjadi beban moral tanggung jawab yang diemban oleh pimpinan tata cahaya. Hak dan kewajibannya adalah konseling kepada pimpinan artistik, pimpinan panggung dan penyaji karya seni. Kewajibannya adalah memberikan layanan kepuasan atas artistik tidaknya pementasan karya seni yang dipergelarkan.

f. Penata Rias dan Busana
Penata Rias adalah orang yang mempunyai tugas atau tanggungjawab merias pemain. Proses merias ini dimulai dari mendesain atau merancang tata rias sampai dengan menerapkan tata rias tersebut pada pemain sesuai dengan hasil kesepakatan dengan sutradara atau konseptor pertunjukan. Penata rias bisa dibantu oleh crew atau asisten, tetapi tanggungjawab sepenuhnya berada pada penata rias.
Penata rias dan kostum secara umum pada produksi yang besar dibagi pada masing-masing pos antara rias dan kostum. Namun untuk produksi karya seni yang terbatas kedua tugas dipegang oleh satu staf saja. Penata rias dan kostum bertanggung jawab langsung kepada pimpinan artistik, penyaji karya, serta melakukan konsolidasi dengan pimpinan panggung.
Hirarki penguasaan konsep riasan, pemakaian kostum hingga modivikasinya menjadi tanggung jawab penata kostum dan penata rias. Konsultasi kepada sutradara atau konseptor secara konsolidasi penting dilakukan. Prasaran sutradara atau konseptor dalam hal hasil kerjanya menjadi tanggung jawab penata rias dan busana berdasar pemenuhan dari sutradara atau konseptor, dengan asumsi hasil kerja kurang serasi dan kurang tepat sasaran. Penata rias dan busana harus mempertanggungjawabkan kepada penonton apabila dijumpai terdapat reaksi balik dari penonton, hal ini berhubungan dengan kepuasan kerja penata rias dan busana.
Beban tanggung jawab dan tugas penata rias dan busana menjadi bagian pertanggungjawaban kepada pimpinan artistik. Pementasan yang dipergelarkan harus mampu memenuhi harapan sutradara atau konseptor. Masalah riasan dan pemakaian busana apabila terjadi kecelakaan misal busana copot atau kedodoran, lunturnya riasan menjadi beban moral tanggung jawab yang diemban penata rias dan busana secara terbuka. Hak dan kewajibannya berkonsultasi kepada pimpinan artistik, penata panggung dan penata cahaya serta sutradara atau konseptor. Usaha memberi layanan atas bentuk riasan dan pemakaian kostum pementasan jadi bagian tugas kolektif dengan pimpinan artistik. Penata rias dalam melakukan pekerjaannya diarahkan oleh pimpinan artistik dan sesuai hasil diskusi dengan sutradara atau konseptor.

h. Penata Suara
Penata Suara adalah orang yang mempunyai tugas atau tanggungjawab mengatur suara atau bunyi selama pertunjukan berlangsung. Proses kerjanya dimulai dari mendesain atau merancang tata suara sampai dengan mengatur suara atau bunyi tersebut mempunyai kualitas suara yang baik. Kualitas suara atau bunyi yang baik adalah suara tersebut terdengar jelas, wajar, indah dan menarik serta memenuhi standar level minimal, terhindar dari noise, distorsi dan balance (tercapainya keseimbangan suara). Penata suara atau bunyi bisa dibantu oleh crew atau asisten, tetapi tanggungjawab sepenuhnya berada pada penata suara atau bunyi.

i. Penata Musik dan Sound
Penata musik dan sound juga bertanggung jawab langsung kepada pimpinan artistik, namun secara hirarki mati hidup, keras-lembut, jernih-paraunya musik dan sound harus dilaporkan kepada pimpinan panggung untuk konsolidasi, serta bahan laporan kepada penyaji karya seni yang dipergelarkan. Kejadian yang muncul sebagai akibat kelalaian dan kecelakaan pementasan dapat mempengaruhi kualitas pementasan dalam ukuran kualitas musik dan sound. Tanggung jawab yang diemban berdasarkan dilakukan berdasarkan prasaran penyaji.
Penata musik dan sound secara tidak langsung bertanggung jawab kepada pimpinan panggung dan penyaji karya seni. Beban tanggung jawab dan tugas penata musik dan sound adalah menjadi sumber sukses dan kualitas musik yang disajikan dalam pementasan. Artistiknya pementasan karya seni yang dipergelarkan dalam hubungannya dengan musik dan sound menjadi beban moran tanggung jawab yang diemban oleh pimpinan musik dan sound. Hak dan kewajibannya sama denga staf lain di bawah pimpinan artistik, adalah konseling kepada pimpinan artistik, pimpinan panggung dan penyaji karya seni. Kewajiabannya adalah memberikan layanan kepuasan atas kualitas musik dan sound pada saat pementasan karya seni yang berlangsung.
Berikut ini merupakan hal-hal penting dalam manajemen pertunjukan :
1. Sebelum Pementasan
Lanjutkan membaca ‘ORGANISASI SENI PERTUNJUKAN DAN FUNGSI MANAJEMEN’

EKSPRESI

•29 Maret 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

EKSPRESI

Heru Subagiyo, S.Sn.

Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujutkan dalam suatu karya seni suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan kehidupan manusia.

Dari rumusan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur-unsur teater menurut urutannya adalah sebabagai berikut :

1.      Tubuh, manusia sebagai unsur utama ( pemeran/pelaku/pemain)

2.      Gerak, sebagai unsur penunjang.

3.      Suara, sebagai unsur penunjang ( kata/untuk acuan pemeran)

4.      Bunyi, sebagai unsur penunjang ( bunyi benda,efek dan musik).

5.      Rupa sebagai unsur penunjang ( cahaya, rias dan kostum.).

6.      Lakon sebagai unsur penjalin ( cerita,  non cerita, fiksi dan narasi ).

Belajar seni teater sama dengan belajar tentang manusia dan kehidupannya. Kata pertama dalam kosa kata seni teater adalah tubuh manusia sebagai sumber suara dan gerakan. Karena itu setiap memulai belajar seni teater harus mengenal tubuhnya supaya mampu membuatnya lebih ekspresif. Dengan demikian akan mampu mempraktekkan bentuk-bentuk seni teater dimana setahap demi setahap ia membebaskan dirinya menjadi subjek yang kreatif. Demikian pula dalam latihan awal seni teater, setiap orang harus melakukan pengenalan tubuhnya kemudian mulai melakukan latihan olah tubuh.

Pembelajaran seni teater yang dilakukan oleh berbagai intitusi banyak terdapat persamaan yaitu sangat menitik beratkan pada penggunaan ekspresi tubuh. Elemen-elemen ekspresi tubuh yang merupakan semacam tata bahasa ekspresi (Grammer of exspresion). Begitu pula tentang suara dan cara-cara pengucapannya disesuaikan dengan pikiran-pikiran, watak-watak, dan susunan yang bersangkutan di dalam peran. Seni peran semacam itu telah umum dan sebagai salah satu prosedur yang berlaku. Pelatihan-pelatihan seni teater banyak mengajarkan gerak bicara dan gerak tubuh sebagai bahasa seni akting . Aristoteles berpendapat “ barang siapa merenungkan setiap hal pada tubuhnya yang pertama kali dan asal mula dari pada hal itu, maka ia akan memperoleh pemandangan yang paling jelas dari pada hari-hari itu.

Kemampuan ekspresi adalah usaha seorang pemeran untuk meraih ke dalam dirinya dan menciptakan perasaan-perasaan yang dimilikinya setiap hari, untuk menjadi lebih peka responya. Seorang calon pemeran akan berusaha untuk menciptakan sistem reaksi yang beragam yang dapat memenuhi tuntutan teknis pementasan. Banyak orang yang mengatakan bahwa dia sudah mengenal dirinya baik dari orang lain maupun dari perasaan diri sendiri. Tetapi itu belum cukup karena seorang calon pemeran harus mengerti bahwa kemampuan ekspresi di mulai dari usahanya mendisiplinkan diri. Disiplin yang berakar dari rasa hormat seseorang kepada dirinya, lawan main, seniman-seniman lain bahkan kepada khalayak umum yang tidak ada hubungannya dengan dunia akting.

Dasar dari kemampuan ekspresi adalah diri pribadi ketika berhubungan sosial dengan orang lain. Fondasi inilah yang kemudian di atasnya harus dibangun kemampuan-kemampuan ekspresi diri. Dalam kehidupan sehari-hari seorang calon pemeran sudah memainkan peran yang berbeda-beda untuk situasi dan penonton yang berbeda-beda. Misalnya ketika berbincang dengan sahabatnya, atasannya, pacarnya, kenalan biasa, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia memiliki postur tubuh, kualitas suara dan bahasa yang berbeda-beda. Demikian  pula halnya dengan rasa percaya diri, rasa apakah dia menarik atau tidak, dan cara memproyeksikan pandangan diri orang-orang tersebut tentang dirinya. Semua itu mempunyai bentuk dan cara yang berbeda-beda, tetapi semua itu tetap mewakili diri pribadi si pemeran, bukan orang lain. Demikian pula halnya ketika di atas panggung, dimana pemeran akan memainkan peran yang berbeda-beda tetapi tetap adalah dirinya sendiri. Segi sosial dari pemeranan ini harus dilatih sedemikian rupa sehingga dia peka dan memiliki respon yang beragam.

Kemampuan ekspresi menuntut teknik-teknik penguasaan tubuh seperti relaksasi, konsentrasi, kepekaan, kreatifitas yang terpusat pada pikirannya. Demikian pula dengan teknik-teknik penguasaan suara yang menuntut proses pernafasan dan alat ucap yang terlatih sehingga seorang pemeran mampu memproduksi suara dan menciptakan artikulasi yang jelas. Latihan-latihan vokal ini terdiri dari tidak hanya latihan pernafasan dan artikulasi tetapi juga harus mengenal bunyi huruf baik konsonan, vokal, maupun bunyi nasal.

Proses latihan ekspresi ini membimbing calon pemeran untuk mampu mengasosiasikan semua kemampuan kedalam aksi dramatis dan karakter yang dimainkan. Semua latihan yang dilakukan mungkin saja tidak langsung diasosiasikan dengan naskah, tetapi lebih banyak latihan improvisasi yang berhubungan dengan kemampuan ekspresi sesuai dengan suasana, situasi dan tuntutan-tuntutan teknis dari sebuah pementasan. Latihan-latihan ini terdiri dari :

LATIHAN I: LATIHAN PERNAFASAN

Penguasaan suara dalam seni pemeranan pada dasarnya adalah penguasaan diri secara utuh, karena kedudukan suara dalam hal ini hanyalah merupakan salah satu alat ekspresi dan totalitas diri kita sebagai seorang pemeran (actor). Pengertian ‘penguasaan diri secara utuh’ menuntut suatu keseimbangan seluruh aspek serta alat-alatnya, baik yang menyangkut kegiatan indrawi, perasaan, pikiran atau yang bisa disebut segi-segi dalam dari seni acting, maupun yang menyangkut segi-segi luarnya seperti tubuh dan suara. Ketimpangan akan menghasilkan ketimpangan. Sebelum latihan vokal dilakukan, biasanya perlu dilakukan latihan nafas dan pengetahuan tentang organ produksi suara. Latihan tersebut adalah:

 

  1. Latihan nafas biasa sampai organ-organ produksi suara siap untuk dilatih.
  2. Latihan nafas perut, dalam latihan ini fokus nafas diarahkan pada perut. Latihlah sampai nafas perut ini terkuasai.
  3. Latihan nafas dada, dalam latihan ini fokus nafas diarahkan pada dada. Latihlah sampai nafas dada ini terkuasai.
  4. Latihan nafas diafragma, dalam latihan ini fokus nafas diarahkan pada sekat rongga dada yang dimaksud sekat diafragma. Pernafasan ini sebenarnya gabungan nafas dada dan nafas perut. Latihlah sampai nafas diafragma ini terkuasai.

 

LATIHAN II: LATIHAN MIMIK DAN VOKAL

Perangkat wajah dan sekitarnya, menjadi titik sentral yang akan dilatih. Dalam olah mimik ini, kita akan memaksimalkan delikan mata, kerutan dahi, gerakan mulut, pipi, rahang, leher kepala, secara berkesinambungan. Mimik merupakan sebuah ekspresi, dan mata merupakan pusat ekspresi. Perasaan marah, cinta, dan lain-lain akan terpancar lewat mata. Ekspresi sangatlah menentukan permainan seorang aktor. Meskipun bermacam gerakan sudah bagus, suara telah jadi jaminan, dan diksi pun kena, akan kurang meyakinkan ketika ekspresi matanya kosong dan berimbas pada dialog yang akan kurang meyakinkan penonton, sehingga permainannya akan terasa hambar.

  1. Latihan ini didahului dengan senam mulut dan wajah.
  2. Latihan bergumam, latihan ini berfungsi sebagai pemanasan organ produksi suara. Bergumam yang pertama difokuskan pada rongga dada.
  3. Kemudian bergumam yang difokuskan pada tenggorokan dan diteruskan bergumam pada rongga hidung.

 

LATIHAN III: LATIHAN KONSENTRASI

Pengertian konsentrasi secara harfiah berarti memfokus, sehingga dalam konsentrasi, kepekaan si pemeran dapat mengalir bebas menuju satu titik atau bentuk tertentu. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian ataupun yang mencampuri konsentrasi seorang pemeran atas sebuah karakter, cenderung dapat merusak pemeranan. Untuk mencapai relaksasi atau mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik diatas panggung, konsentrasi adalah tujuan utama. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Seorang aktor harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat dengan pengertian atas tubuh dan alasan bagi perilakunya. Langkah awal untuk menjadi seorang aktor yang cakap adalah sadar dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Latihan ini berfungsi sebagai penyatuan pikiran dan daya konsentrasi bagi seluruh peserta latihan.

  1. Latihan berhitung dengan bilang prima. Dalam latihan ini setiap peserta yang mendapat jatah pada bilang prima, peserta harus berteriak ”Prima”.
  2. Kalau pesertanya banyak, dengan cara berhitung angka tiga dan kelipatannya atau yang ada angka tiganya harus teriak ”BOOM”
  3. Berhitung dengan cara saling membelakangi dan tidak boleh saling berurutan, jadi boleh dari siapa saja yang memulai dan meneruskan.
  4. Latihlah sampai angka tertinggi yang bisa dicapai dalam latihan tersebut. Semakin tinggi angka yang dicapai maka tingkat konsentrasi dari peserta latihan tersebut semakin baik.

 

LATIHAN IV: PENGENALAN TUBUH

Di atas telah disebutkan bahwa untuk mencapai ekspresi yang baik maka calon pemeran harus menyadari akan tubuhnya sendiri maupun tubuh lawan mainnya. Tubuh pemeran merupakan alat ekspresi pemeran tersebut. Untuk mengetahui dan mengenal tubuhnya secara mendalam dan tubuh lawan main maka ada baiknya dilakukan observasi terhadap tubuh sendiri maunpun tubuh lawan. Latihan di bawah ini bisa dilakukan dan ini hanyalah salah satunya saja, karena dalam perjalanan waktu akan ditemukan model-model latihan yang menyenangkan.

  1. Setiap peserta menghadap cermin dan amati tubuh anda secara keseluruhan.
  2. Deskripsikan pengamatan anda kepada peserta lain.
  3. Lakukan dengan suasana yang santai dan presentasikan sesuai dengan gaya anda.
  4. Latihan diteruskan dengan membuat kelompok kecil dan saling mengamati setiap anggota kelompok termasuk yang menjadi ciri khasnya.
  5. Deskripsikan hasil pengamatan tersebut termasuk yang menjadi ciri khas dari objek pengamatan anda.
  6. Dalam latihan ini diusahakan dilakukan dengan pengamatan yang sangat jeli dan dalam suasana santai.

 

LATIHAN V : KARET ELASTIS

            Latihan ini merupakan latihan berimajinasi. Latihan ini bisa dilakukan secara sendiri maupun secara kelompok. Dalam latihan ini kita harus menentukan benda imajiner (dalam hal ini adalah karet elastis) dan menciptakan benda tersebut seolah-olah nyata adanya.

  1. Posisi tubuh yang enak. Bayangkan sebuah karet elastis yang agak tipis. Peganglah masing-masing ujungnya dengan tangan.
  2. Sekarang mulai menarik karet itu ke berbagai arah, tetapi upayakan posisi karet tersebut dekat tubuh. Cobalah dengan berbagai cara yang mungkin anda bisa lakukan untuk menarik dan melepaskan karet tersebut. Berikan cukup waktu untuk penjagaan ini. Ketika menarikakret tersebut usahakan seekspresif mungkin.
  3. Kemudian mulailah menarik dengan posisi yang jauh dari badan dan masuk dalam ruang. Tarik karet tersebut ke berbagai arah secara ekspresif. Teruskan menjajagi sendiri gerakan ini ke berbagai arah.
  4. Sekarang bayangkan karet elastis yang sangat kuat, coba untuk menariknya ke segala arah.
  5. Biarkan gerakkan itu membuat anda jongkok dan berdiri, namun tidak usah tergesa-gesa. Biarkan gerakkan itu berkembang sendiri.

Catatan. Karet elastis adalah benda kongkrit, dan menariknya adalah sebuah pengalaman biasa. Penekanan kegiatan ini adalah pada kesadaran dan penghayatan terhadap gerakan menarik. Ini adalah sebuah aktivitas gerak arahan sendiri. Latihan sederhana ini akan memberikan pengalaman kepada peserta untuk terlibat dalam situasi permainan. Melakukan gerakan hingga berjongkok dan berdiri membutuhkan penghayatan yang cukup.

 

LATIHAN VI : SESUATU YANG ANDA TIDAK SUKAI

            Seorang pemeran ibarat sebuah lemari yang berisi penuh dengan pengalaman-pengalaman batin. Penglaman batin itulah yang sekali waktu dipanggil untuk memainkan peran yang disyaratkan seorang penulis lakon. Sama dengan latihan karet elastis, latihan ini juga latihan berimajinasi. Dalam latihan ini selain berimajinasi juga latihan membongkar pengalaman emosi atau pengalaman batin kita. Dalam latihan sebaiknya dilakukan secara kelompok atau paling tidak ada pihak pengawas sebagai pihak pengontrol.

  1. Dalam posisi duduk yang nyaman, bayangkan sesuatu yang tidak anda sukai. Mungkin sesuatu ada di atas kepala kita, di atas pundak kita, punggung kita, atau dia menekan kita ke bawah.
  2. Dapatkan bayangan yang jelas terhadap sesuatu (yang tidak anda sukai tersebut). Dimana anda rasakan sesuatu itu? Adakan kontak dengannya, cobalah untuk melenyapkan.
  3. Biarkan gerakan itu terjadi sendiri.

Catatan. Bayangan semacam ini biasanya akan merangsang munculnya ingatan terhadap sebuah pengalaman yang bisa membangkitkan emosi pribadi yang kuat kepada seorang pemeran. Walaupun reaksi emosi pribadi bukan  tujuan utama seorang pemeran, tetapi hal ini akan membantu and untuk menemukan kesadaran batin yang mendalam berkaitan dengan perasaan.

 

LATIHAN VII: JEMBATAN TALI

Latihan ini juga melatih daya imajinasi kita. Latihan akan berhasil jika kita betul-betul menghayati dan seolah-olah merasakan serta dihadapkan pada kejadian yang menuntut kita seperti ini. Latihan ini selain menuntut kita berimajinasi juga menuntut kepekaan kita.

  1. Bayangkan seutas tali yang direntangkan, tinggi di atas lantai, anda sedang berdiri di atas panggung siap untuk mencoba melintasi tali itu.
  2. Anda ingin melintasi tali itu namun belum merasakan kalau anda akan mampu melakukannya.
  3.  Jangan terbuur-buru. Tunggu sampai anda mendapatkan gambaran yang jelas tentang hubungan tali tersebut dengan anda yang berdiri di atas panggung.
  4. Jika anda sudah siap, mulailah perjalanan tersebut.
  5. Anda mungkin menemukan kesulitan, tetapi jangan berhenti. Anda harus tetap mencoba, mencoba dengan berbagai cara. Jangan tergesa dan tetaplah berkonsentrasi pada perasaan yang dirasakan.
  6.  Ketika anda sudah siap biarkan perasaan membuat anda bergerak.
  7. Kalau dalam bayangan anda merasa kesulitan, ekspresikan kesulitan tersebut.

Catatan. Jika pengalaman ini dicoba dengan hati-hati, sehingga tidak menjadi sebuah kegiatan  yang mekanik, kebanyakan orang akan bisa merasakan keterlibatan yang mendalam.

 

LATIHAN VIII: DITARIK SEUTAS TALI

  1. Bayangkan sutas tali besar melilit pinggang anda dan diikatkan ke salah satu pojok diseberang ruang.
  2. Bayangkan diri anda ditarik ke pojok tersebut. Tarikan tersebut semakin kuat dan anda melawan.
  3. Tiba-tiba tarikan tali tersebut berubah dan anda terseret ke sudut yang berlawanan. Cobalah untuk melawan tarikan tersebut.
  4. Sekarang bayangkan bahwa anda yang mengendalikan tarikan tersebut dan menarik tali tersebut. Tarik tali tersebut dan main-mainkan tali tersebut.
  5. Bayangkan bahwa anda terkadang ditarik tali tersebut tetapi sekali waktu anda yang menarik tali tersebut lakukan secara berganti-gantian.

 

LATIHAN  IX: SALING CURIGA

            Latihan ini sudah mulai menuntut kita untuk berperan, meskipun peran yang kita mainkan adalah salah satu sisi dalam diri kita sendiri. Setiap manusia mempunyai sisi dalam diri atau rasa curiga ini. Latihan ini juga bisa dikembangkan dengan rasa mencintai, rasa membenci, rasa mengasihani sesama. Proses latihannya sama dengan proses latihan saling curiga.

  1. Dalam latihan ini dimulai dari satu orang, dan bayangkan seseorang mencurigai anda.
  2. Masuk satu orang lain, dan saling mencurigai. Setiap orang menyembunyikan perasaan tak percaya, gelisah, khawatir, dan curiga.
  3. Masuk beberapa orang, dan setiap orang saling mencurigai sesama yang terlibat dalam latihan ini.
  4. Pertahankan bayangan akan kecurigaan ini, biarkan perasaan dan gerakan semakin menjadi-jadi, biarkan gerak terus berkembang.
  5. Ekspresikan kecurigaan anda kepada sesama. Saling curiga tetapi tidak ada kontak badan. Kecurigaan ini kemudian berkembang menjadi saling benci dan marah. Kebencian dan kemarahan tidak hanya pada seseorang tetapi kepada seluruh peserta lain bahkan pada dirinya sendiri.

 

LATIHAN X: TIADA TEMPAT BERLINDUNG

  1. Ambil suatu posisi di tempat yang berbeda dalam ruangan tersebut.
  2. Semuanya membayangkan tidak punya tempat untuk berlindung, rasakan akan kedatangan bahaya yang mengancam jiwa anda dan tidak punya tempat berlindung.
  3. Mulailah bergerak dengan menyambar, berlari, kadang-kadang berhenti membeku.
  4. Biarkan ekspresi anda merasakan ketakutan tersebut
  5. Kadang anda berkelompok, kadang anda sendiri dan usahakan agar bayangan dan perasaan itu  tersebut menjadi jelas.
  6. Rasakan intensitas tersebut tumbuh dan berkembang ke berbagai arah.

 

LATIHAN  XI : POLA KATA

  1. Buat sebuah kalimat, (misalnya : “Berapa lama saya harus menunggu” atau “Siapa bilang itu tidak bisa dilakukan”).
  2. Ucapkan kata tersebut dengan ritme yang datar, dari satu kata ke kata yang lain.
  3. Kemudian uacapkan lagi dengan menempatka tekanan pada kata yang berbeda-beda dan merubah kecepatannya.
  4. Tetaplah dalam kelompok, namun bekerja secara bebas. Setiap orang mencoba mengucapkan kata-kata tersebut dengan respon emosi yang berbeda-beda.
  5. Sekarang biarkan tubuh bergerak bebas dan masih mengucapkan kata-kata tersebut, semakin lama semakin cepat.

Catatan. Latihan ini bisa menyenangkan karena mencoba membebaskan peserta untuk mencoba berbagai struktur ritme.

 

LATIHAN XII: TERGESA-GESA DAN BERHENTI

Latihan merupakan latihan bagaimana kita mengontrol dan mengekspresikan emosi kita. Emosi adalah segala aktivitas yang mengekspresikan kondisi disini dan sekarang dari organisme manusia dan ditujukan ke arah duniannya di luar. “Emosi timbul secara otomatis” dan terikat dengan aksi yang dihasilkan dari konfrontasi  manusia dengan dunianya. Pemeran  tidak menciptakan emosi karena emosi akan muncul dengan sendirinya lantaran keterlibatannya dalam memainkan peran sesuai dengan naskah.

  1. Duduk atau berdiri, bayangkan anda merasakan perasaan tergesa-gesa untuk menyelamatkan diri. Bayangkan ada rasa ketakutan dan keinginan untuk menyelamatkan diri.
  2. Biarkan tangan dan kaki bergerak, kadang tergesa-gesa kemudian berhenti, atau bergerak dengan hati-hati.
  3. Biarkan ini secara berlahan-lahan berakhir.

Semua latihan bisa di atas bisa dilakukan secara berurutan tetapi bisa juga secara parsial. Maksudnya latihan yang sesuai dengan kebutuhan. Semua latihan di atas merupakan latihan dasar dan belum sampai pada latihan persiapan pementasan. Latihan pementasan di sini dimaksudkan sebagai latiihan sesuai dengan perencanaan dan materi pementasan.

 

 

DAFTAR BACAAN

  1. Eka D. Sitorus, The Art of Acting. Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2002.
  2. Loren E. Taylor, Drama Formal dan Teater Remaja, Alih Bahasa A.J. Soetrisman. Yogyakarta, Yayasan Taman Bina Siswa, 1981.

Alman M. Hawkins, Bergerakv Menurut Kata Hati, Alih Bahasa I Wayan Dibia. Jakarta, MSPI, 2003.

OBROLAN SEPUTAR KREATIFITAS

•10 Januari 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Imaj : Apa sebenarnya kreativitas itu, baik pandangan dan pengertian para ahlimaupun pandangan dan pengertian orang awam?

Mamer :Kreativitas adalah sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi susah untuk diartikan, bahkan susah untuk dijalankan dalam kehidupan keseharian bagi yang belum terbiasa dan yang masih terbelenggu dengan pikiran bahwa kreativitas itu harus menghasilkan ciptaan yang luar biasa hebat. Banyak orang mengatakan bahwa kreativitas itu suatu cara berfikir untuk keluar dari masalah hidup keseharian yang melingkupi dan membelitnya. Kreativitas itu sikap dan pola pikir yang dapat menciptakan sesuatu yang baru, baik baru menurut dirinya maupun baru menurut orang lain. Kreativitas itu berhubungan penciptaan sesuatu yang baru dan orisinal. Kreatifitas berhubungan dengan pola pikir yang dapat menghubungan suatu masalah atau fenomena dengan unsur-unsur yang lain sehingga menjadi sesuatu yang baru. Bahkan kreativitas dapat diartikan sebagai pola pikir yang dapat menciptakan sesuatu yang baru. Nah, itu adalah tinjauan kreatifitas bagi orang awam dan orang yang tidak mau memusingkan diri dengan definisi-definisi. Tetapi alangkah baiknya kita juga melihat pengertian kreativitas bagi orang-orang ahli. Kreativitas menurut Julius Chandra dalam bukunya Kreativitas, dia mengartikan kemampuan mental dan berbagai jenis keterampilan khas manusia yang dapat melahirkan pengungkapan yang unik, berbeda, orisinal, sama sekali baru, indah, efisien, tepat sasaran dan tepat guna. Kalau menurut Dr. Myron S. Allen dalam bukunya Psychodynamic Synthesis, kreativitas itu adalah perumusan-perumusan dari makna melalui sintesis. Kalau Menurut John W. Haefele dalam bukunya Creativity And Innovation, mengatakan bahwa kreativitas dirumuskan sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang bernilai sosial. Nah kalau menurut George J. Seidel dalam bukunya The Crisis of Creativity, kreativitas adalah kemampuan untuk menghubungkan dan mengkaitkan, kadang-kadang dengan cara yang ganjil, namun mengesankan, dan ini merupakan dasar pendayagunaan kreatif dari daya rohani manusia dalam bidang atau lapangan mana pun. Dan sebenarnya masih masih banyak definisi kreativitas dari sudut pandang individu-individu yang lain. Misalnya kreativitas menurut pembuat tempe (makanan dari kacang kedelai yang difermentasi) adalah (mungkin) suatu tindakan dan pola perbuatan yang dapat menghasil suatu makanan dengan bentuk yang unik, disukai orang dan terasa enak bagi orang lain serta berharga murah. Kenapa definisi ini ada tanda kurungnya, karena saya bukan pembuat tempe, jadi jawaban ini masih bersifat mungkin. Tetapi kalau menurut saya, kreativitas itu adalah suatu pola pikir yang diwujudkan dalam suatu tindakan atau aksi untuk menghasilkan sesuatu baru yang tidak merugikan orang lain dan syukur-syukur kalau disenangi orang banyak.

Imaj : Bagaimana sikap dan pemikiran kreatif (hasil dari kreatifitas) itu diterapkan dalam kehidupan sehari, kalau bisa apa contoh aplikasinya.

Mamer : Hasil dari pemikiran kreatif ini sangat mendukung kehidupan manusia dan menurut saya dalam kehidupan ini tidak ada sesuatu yang tercipta maupun terpikirkan tanpa ada unsur pemikiran kreatif. Pemikiran kreatif ini sangat berguna untuk mengatasi dan membantu kehidupan keseharian. Suatu misal kalau tidak ada pemikiran kreatif mungkin tidak tercipta pesawat terbang, kalau tidak tidak tercipta pesawat terbang dapat dibayangkan berapa lama waktu kita untuk perjalanan menuju Arab Saudi. Nah ini ada suatu cerita tentang aplikasi dari pemikiran kreatif, di suatu daerah di Jepang sering dilanda banjir, orang-orang disana berfikir bagaimana caranya membendung banjir itu dengan biaya yang murah. Maka dibuatlah tanggul dari air yang dimasukkan dalam kantong plastik. Kantong-kantong plastik yang berisi air itu kemudian disusun menjadi dinding tanggul. Cara ini saya pikir sangat kreatif karena pemikiran itu tampak sangat sederhana, tak terduka dan terbukti efisien.

Imaj : Kalau tanaman, untuk dapat tumbuh subur itu memerlukan tanah yang  mengandung banyak unsur hara dan iklim yang tepat, nah kalau untuk menumbuh suburkan kreatifitas, apa yang diperlukan.

Mamer : Kalau berbicara tanam-menanam dan menumbuh suburkan  kreativitas sebenar lebih mudah kalau ini dilakukan sejak usia anak-anak tetapi ini juga tidak menutup kemungkinan dilakukan bagi orang dewasa. Sama saja dengan yang diperlukan oleh tumbuhan untuk tumbuh berkembang yaitu butuh media dan iklim yang tepat. Kalau menurut Kak Seto Mulyadi, untuk menumbuhkan kreativitas, yang jelas memerlukan dan memperkaya wawasan tentang bidang yang diminati.  Kekayaan wawasan dan pengalaman inilah sebagai media untuk menumbuh suburkan kreativitas. Dengan kekayaan wawasan dan pengalaman ini seseorang akan memiliki gudang gagasan dalam otaknya, dan dengan berbekal gudang gagasan inilah pola pikir kreatif tidak akan mengering. Kalau medianya sudah ada maka tinggal merawatnya yaitu beri kebebasan seseorang untuk mengekspresikan diri dan ide-idenya yang cemerlang itu. Sebagai orang tua bagi anak-anak atau sebagai individu yang merdeka bagi orang dewasa, diharapkan jangan terlalu banyak melarang. Karena dimana ada larangan dan suasana tidak bebas maka kreativitas susah untuk tumbuh subur. Yang diperbolehkan orang tua bagi anak-anaknya atau individu bagi orang dewasa adalah batas-batas yang jelas dan tegas tetapi masih fleksibel dan tidak kaku. Kalau media dan perawatnya sudah ada maka tinggal mencintai dan memberi penghargaan terhadap jerih payah dan pemikiran-pemikiran kreatif tersebut. Nah, kalau tiga faktor tersebut terpenuhi kemungkinan besar kreativitas itu akan tumbuh subur.

Imaj : Darimana kreatifitas dan menjadi manusia kreatif itu berawal.

Mamer :Ketika seseorang berkeinginan untuk menjadi manusia kreatif, langkah pertama bisa dimulai dari membuang dan menghapus pandangan tentang kreativitas dalam artian sempit dari otak kita. Kalau pikiran kreatif dalam artian sempit ini masih tertanam dalam otak kita maka pintu kreativitas akan susah terbuka. Kalau pikiran kreatif ini sudah terbuka maka buatlah tetapkanlah artian kreativitas itu sesuai dengan pikiran dan kriteria anda. Ketetapan dan kriteria sudah dibuat maka tinggal menyalurkan pikiran tersebut melalui ekspresi yang sesuai dengan anda. Langkah kedua adalah memperluas area jelalah pemikiran kita. Semua orang sebenarnya memiliki pemikiran kreatif, tetapi kadang orang enggan untuk keluar dari daerah aman dan tidak mau mengambil resiko dari ketidak nyamanan. Pelajari sesuatu yang baru dan cobalah untuk mengenal sesuatu yang tidak biasanya kita kenal, hal ini akan merangsang daya imajinasi kita untuk berkreasi. Langkah ketiga adalah memberanikan diri untuk melangkah guna mengeksplorasi kreativitas kita. Keberanian awal untuk melangkah inilah sebagai kunci kesuksesan, karena kalau kita tidak berani melangkah maka kreativitas kita hanya tinggal sebagai pemikiran tanpa realisasi. Langkah keempat adalah jangan berharap semua berjalan lancar tanpa ada hambatan. Kalau kita berharap semua akan berjalan lancar dan tanpa hambatan maka kita tidak akan belajar dari hambatan tersebut dan kalau kita tidak belajar maka kita tidak akan berkembang. Langkah selanjutnya adalah kenali pencapaian-pencapaian anda sebagai ukuran untuk kreativitas selanjutnya. Hargailah pencapaian tersebut sehingga kita akan tertantang untuk mencapai yang lebih lagi.

Imaj : Siapa sebenarnya orang kreatif itu?

Mamer : Sebenarnya semua orang hidup ini adalah kreatif, tetapi sebagian orang memandang orang kreatif itu adalah orang yang melihat atau menyelesaikan masalah itu dari sudut pandang baru yang tidak dilihat oleh orang lain. Orang kreatif dalam menyelesai masalah atau membuat sesuatu biasanya menyimpang dari manusia biasanya. Dia akan menyodorkan alternatif-alternatif baru, ide-ide baru, gagasan-gagasan baru, berguna dan tidak terduga tetapi masih bisa diimplementasikan. Dari sini muncul pandangan, bahwa orang kreatif adalah orang yang berpihak pada perubahan.

Imaj : Apa saja yang diperlukan atau tahap-tahap agar kreatifitas dalam dunia kerja itu bisa dilakukan.

Mamer : Menurut pakar HRD, tahapan kreativitas dalam dunia kerja adalah Exploring, Inventing, Choosing, dan Implementing. Tahap Exploring adalah tahap para pekerja mulai mampu mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam kondisi saat ini. Sekali mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut maka proses kreatif sudah dimulai. Tahap Inventing adalah tahap dimana pekerja sudah menemukan identitas dirinya, mencari berbagai alat, teknik dan metode atau cara yang memungkinkan untuk membantu menghilangkan cara berfikir dan bertindak secara tradisional atau bahasa kesehariannya adalah berfikir dan bertindak opo adate atau podate. Tahap Choosing adalah tahap dimana pekerja sudah mengidentifikasi dirinya dan mulai memilih ide-ide atau gagasan-gagasan yang mungkin untuk dilaksanakan untuk membuat perubahan. Tahap Implementing adalah tahap dimana pekerja membuat ide-idenya atau gagasan-gagasan segera diimplentasikan. Jika ide dan gagasannya tidak tersalurkan maka pekerja tersebut akan senang pindah-pindah  tempat kerja dimana dia berharap tempat kerja yang disingahinya itu mampu mengimplementasikan ide dan gagasannya.

Imaj : Sikap dan pola pikir apa yang dibutuhkan agar kreativitas kita bisa terbuka dan bisa kita nikmati.

Mamer :Sebenarnya untuk memupuk sikap dan pola pikir kreatif itu mudah asal kita mau, yaitu:

-     Selalu ingin mencari tahu

-     Bersikap terbuka dan eksploratif

-     Temukan satu hal yang menarik minat anda untuk dieksplore

-     Konsisten dan tidak menyerah dalam mempelajari keahlian baru tersebut meskipun itu terasa rumit

dan menjenuhkan

-     Selalu belajar dari pengalaman, meskipun sepertinya pengalaman itu adalah sebuah kesalahan

-     Berfikir beda, jangan takut pikiran anda itu akan berbeda dengan pikiran orang lain. Berprasangkalah

bahwa tidak ada ide bodoh yang ada hanya ide

-     Ketahuilah apa yang anda sukai dan yang tidak anda sukai

-     Nikmatilah hidup ini

-     Hargailah diri anda

Imaj :Bagaimana sikap kita terhadap anak-anak yang sebenarnya mampu menciptakan hal-hal yang sangat kreatif tetapi menurut sebagian orang, itu adalah hal yang sangat-sangat biasa bahkan lebih ekstrimnya itu tidak berguna.

Mamer : Kreativitas anak-anak itu sebenarnya sangat luar biasa dibandingkan dengan orang dewasa pada umumnya. Tetapi kadang kita tidak menyadari dan hal itu adalah sesuatu yang remeh temeh. Misalnya, kita seakan-akan tidak percaya bahwa anak usia 5 tahun sanggup mencipta lagu dolanannya sendiri. Saya masih ingat ketika keponakan saya yang waktu itu masih berusia sekitar 4 sampai 5 tahun menciptakan lagu dan syairnya sekalian hanya untuk main-main. Lagunya itu kalau tidak salah demikian:

gelang sepatu gelang

bapak pulang kecepit lawang

lawang wesi bapak lagi sisi

sisi umbel bapak lagi nyambel

nyambel pete bapak lagi nyate

nyate wedus bapak lagi adus

adus banyu bapak lagi nyapu

nyapu omahe nabila

(kebetulan ponakan saya itu namanya nabila)

Kalau kita cermati dari syairnya, maka kita seolah-olah tidak percaya bagaimana anak seusia itu bisa memilih kata-kata dan mengkaitkankan antara kata yang satu dengan kata yang lain serta merunutkannya. Saya ingat definisi yang diajukan oleh George J. Seidel tentang kreativitas yaitu kreativitas adalah kemampuan untuk menghubungkan dan mengkaitkan, kadang-kadang dengan cara yang ganjil, namun mengesankan, dan ini merupakan dasar pendayagunaan kreatif. Kenapa anak-anak mampu menciptakan seperti itu, karena pikiran anak-anak adalah pikiran bebas tendensi dan daya khayalnya masih murni dan tanpa belenggu. Makanya kalau mau berfikir kreatif dam kreativitas kita terasah maka bebaskanlah pikiran kita dan bebaskanlah daya khayal kita. Kalau sudah bebas dan memenuhi gudang imajinasi kita dengan ide dan gagasan maka langkah selanjutnya adalah menyeleksi ide dan gagasan hasil imajinasi itu menjadi sebuah ide dan gagasan yang terseleksi untuk karya kita.

Imaj :Bagaimana hubungan kreatifitas dengan industri kreatif yang belakangan didengung-dengungkan pemerintah.

Mamer: Kalau kita mencari hubungan antara kreativitas dengan industri kreatif, maka kita akan ingat seseorang yang bernama Theodorus Wulianadi atau Liauw Kok Kwang atau yang lebih keren dengan sebutan Mr. Joger. Dia adalah salah satu tokoh yang memanfaatkan kreativitasnya menjadi industri kreatif. Hal ini dia lakukan sebelum hiruk pikuk slogan industri kreatif. Kreativitasnya ini diawali dari kegelisahan pikirannya, kenapa bahasanya sendiri yaitu bahasa Indonesia mulai dilupakan dan lebih senang dengan bahasa Inggris. Karena semua orang ingin bisa menguasai bahasa Inggris maka bahasa Indonesia mulai dilupakan (hal ini mungkin suatu kasus di Bali). Nah, Mr. Joger ini melihat celah bisnis dalam masalah bahasa ini. Dia kemudian mengolah bahasa Indonesia menjadi sebuah industri. Tentu saja diperlukan keahlian mengolah kata-kata menjadi kalimat yang indah dan lucu, tapi tidak melanggar etika dan tata bahasa Indonesia. Proses mengolah kata-kata ini Mr. Joger sangat percaya bahwa alam sekitarnya termasuk orang-orangnya adalah sumber inspirasi. Dan yang kita tahu, industri yang dibikin Mr. Joger adalah memproduksi kata-kata. Ratusan bahkan ribuan kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa sehingga berbunyi aneh, nyleneh, kocak, nakal, ironis, satir bahkan sinis. Rangkaian kata-kata tersebut kemudian ditempelkan atau dikemas pada berbagai rupa pernak-pernik yang dijual di toko Joger.

Jadi, industri kreatif itu akan tumbuh subur dan menjamur dimana-mana asalkan didukung oleh manusia-manusia kreatif. Bagaimana menjadikan manusia-manusia kreatif yaitu syaratnya sudah disebutkan di atas.

SEKIAN

Sumber-Sumber bacaan:

  1. Majalah Gong edisi 108/X/2009
  2. Buku Kreativitas karya Julius Chandra yang diterbitkan Kanisius tahun 1994
  3. Tulisan M. Eko Purwanto yang berjudul Membangun Kreativitas di Dunia Kerja tahun 2010
  4. Tulisan Jeme Semende yang berjudul Tiga Upaya Menumbuhkan Kreativitas Anak-anak tahun 2009 di Kompas Online.

TATA BUSANA

•12 April 2010 • 4 Komentar

Oleh: Heru Subagiyo, S.Sn.

TKP : Setelah membaca dan mengerjakan tugas-tugas modul ini diharapkan Peserta belajar dapat:
1.  Menjelaskan kembali tata busana. Lanjutkan membaca ‘TATA BUSANA’

FESTIVAL GURU SENI BUDAYA

•12 April 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pada bulan Agustus tahun 2010 tepatnya tanggal 2 s.d 6 Agustus tahun ini PPPPTK Seni dan Budaya akan menyelenggaran Festival Seni Internasional untuk yang ketiga kalinya. Festival ini terdiri dari beberapa acara yaitu Festival Seni Internasional (yang akan diikuti dan menampilkan pertunjukan-pertunjukan dari seniman-seniman Internasiona), Festival dan Lomba Guru Seni Budaya Lanjutkan membaca ‘FESTIVAL GURU SENI BUDAYA’

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.