TATA BUSANA

Oleh: Heru Subagiyo, S.Sn.

TKP : Setelah membaca dan mengerjakan tugas-tugas modul ini diharapkan Peserta belajar dapat:
1.  Menjelaskan kembali tata busana.
2.  Menyebutkan bagian-bagian tata busana.
3.  Mengetahui tujuan dan fungsi dari tata busana
4.  Mengetahui macam-macam tata busana dan cara merencanakannya.

URAIAN MATERI

1. Pengetahuan Tata Busana

Tata busana sangat berpengaruh terhadap penonton, karena sebelum seorang pemeran didengar dialognya terlebih dahulu diperhatikan penampilannya. Maka dari itu, kesan yang ditimbulkannya pada penonton mengenai dirinya tergantung pada yang tampak oleh mata penonton. Pakaian  yang tampak pertama kali akan membantu menggariskan karakternya, kemudian dari pakaiannya juga akan memperkuat kesan penonton. Sebelum membicarakan itu semua maka terlebih dahulu kita mengetahui tentang istilah tata busana pentas atau kostum pentas.

Segala sandangan dan perlengkapannya (accessories) yang dikenakan di  dalam pentas disebut dengan tata pakaian pentas. Bahkan bisa pemeran atau penari dalam pentas mengenakan pakaiannya sendiri, maka pakaian itu beserta perlengkapannya menjadi kostum pentasnya. Busana pentas meliputi semua pakaian, sepatu, pakaian kepala dan perlengkapannya, baik yang kelihatan maupun yang kelihatan oleh penonton.

2. Bagian-bagian Busana Pentas

Secara garis besar kostum dapat dibedakan atau digolongkan menjadi lima kelompok yaitu : Busana dasar, busana kaki, busana tubuh, busana kepala dan perlengkapan-perlengkapan atau accessories.

a. Busana dasar
Busana dasar yaitu bagian dari busana yang entah kelihatan maupun yang tidak terlihat, gunanya untuk membuat indah pakaian yang terlihat. Busana ini juga untuk membuat efek yang diperlukan dalam sebuah pertunjukan. Busana ini bisa berbentuk korset, stagen, rok simpai atau busana untuk membuat perut gendut, pinggul yang besar atau untuk membuat pemeran tampak gemuk. Contoh yang paling sederhana yaitu pakaian badut.

b. Busana kaki
Busana Kaki yaitu busana yang digunakan untuk menghias kaki pemeran. Busana ini bisa terdiri dari kaos kaki, sepatu ( olah raga, periodisasi, klasik, modern, kesatuan atau seragam dan lain-lain), sandal (modern, tradisional, klasik, rakyat atau keratin) sepatu atau sandal dari suku atau Negara tertentu yang mempunyai ciri khas tersendiri.

Gambar 8. Contoh beragam sepatu dan sandal dari berbagai Negara.

c. Busana tubuh atau body
Busana tubuh atau body yaitu busana yang dipakai tubuh dan  kelihatan oleh penonton. Busana ini meliputi blus, rok, kemeja, celana, jaket, rompi, jas, sarung dan lain-lain. Busana ini bisa pakaian tradisional dari suatu daerah, busana kenegaraan, busana modern atau busana fantasi yang diciptakan untuk tujuan pementasan dengan lakon tertentu.

d. Busana kepala
Busana Kepala yaitu pakaian yang dikenakan di kepala pemeran, termasuk juga penataan rambut. Corak pakaian kepala tentu saja tergantung dari corak busana yang akan dikenakan. Pakaian kepala dapat dimanfaatkan sebagai tanda atau pencitraan seorang pemain di atas pentas. Misalnya seorang raja ditandai dengan pemakaian mahkota, orang jawa dengan blangkonnya atau cowboy dengan topi laken. Gaya rambut juga kadang-kadang dimasukkan kedalam pakaian kepala meskipun ini termasuk bagian dari tata rias. Busana dan tata rias sangat erat kaitannya dengan melukiskan peranan hingga kedua hal tersebut perlu diperhatikan bersama.

e. Perlengkapan-perlengkapan/accessories
Accessories
yaitu pakaian yang melengkapi bagian-bagian busana yang bukan pakaian dasar atau yang belum termasuk dalam busana dasar, busana tubuh, busana kaki dan busana kepala. Pakaian ini ditambahkan demi efek dekoratif, demi karakter atau tujuan-tujuan lain. Misalnya kaos tangan, perhiasan, dompet, ikat pinggang, kipas dan sebagainya.
Selain accessories ada juga yang disebut dengan properties yaitu benda atau pakaian yang berguna untuk membantu akting permainan. Perbedaan antara accessories dan properties tidaklah begitu jelas, seringkali yang sedianya untuk properties tetapi kemudian berubah menjadi accessories begitu juga sebaliknya. Umpamanya, dompet yang dibawa oleh seorang pemeran hanya untuk melengkapi efek kostum adalah accessories, tetapi bila dompet tersebut digunakan untuk membantu akting maka dompet tersebut menjadi properties. Kemudian mantel dan topi yang harus ada pada tempatnya bila adegan mulai, atau yang dibawa oleh pelaku lain, ini dipandang sebagai properties, tetapi kalau mantel dan topi itu digunakan oleh pelaku maka ini disebut sebagai kostum. Jadi suatu accessories yang dikenakan oleh pemeran apabila tidak digunakan untuk membantu acting permainan maka tetap disebut sebagai accessories tetapi kalau barang itu digunakan untuk membantu permainan maka disebut dengan properties. Begitu juga dengan busana kalau tidak digunakan untuk main maka disebut sebagai properties tetapi kalau digunakan pada waktu permainan maka disebut sebagai kostum.

Gambar 9. Contoh aksesoris dan property

3. Tujuan dan Fungsi Tata Busana

Dalam pementasan tidak perlu perlengkapan kostum yang mahal tetapi yang diperlukan adalah efek dari kostum tersebut pada pementasan. Tata busana mempunyai tujuan yaitu :

  1. Membantu penonton agar mendapatkan suatu ciri atas pribadi peranan.
  2. Membantu memperlihatkan adanya hubungan peranan yang satu dengan peranan yang lain, misalnya sebuah seragam kesatuan.

Agar busana pementasan mempunyai efek yang diinginkan, maka busana harus menunaikan beberapa fungsi tertentu yaitu :

  1. Membantu menghidupkan perwatakan pelaku, artinya sebelum dia berdialog, busana yang dikenakan sudah menunjukkan siapa dia sesungguhnya, umurnya, kebangsaannya, status sosialnya, kepribadiannya. Bahkan tata busana dapat menunjukkan hubungan psikologisnyadengan karakter-karakter lainnya.
  2. Membantu menunjukkan individualisasi peranan, artinya warna dan gaya tata busana harus dapat membedakan peranan yang satu dengan peranan yang lain.
  3. Membantu memberi fasilitas dan membantu gerak pelaku, artinya pelaku harus dapat melaksanakan laku atau akting perannya tanpa terganggu oleh busananya. Busana tidak harus dapat memberi bantuan kepada pelaku tetapi busana harus sanggup menambah efek visual gerak, menambah indah dan menyenangkan dilihat disetiap posisi yang diambil pelaku. Hal ini sebagian besar tergantung pada temperamen dan kerja sama antara pelaku dan perencana. Pelaku yang pandai dan cukup latihan biasanya dapat menguasai busana yang sulit untuk dapat mencari efek visual yang menarik.

4. Macam-macam Tata Busana

Dalam penampilannya macam busana pentas bisa digolongkan dalam berbagai bentuk yaitu: busana historis, modern, nasional, tradisional, sirkus, fantastis, hewan dan sebagainya.

  1. Busana historis yaitu bentuk busana pentas yang spesifik untuk periode-periode berdasarkan sejarah dari kejadian lakon. Misalnya busana jaman Napoleon adalah serba ketat untuk pria dan jurk menjurai di atas lantai dengan rumbai dan rampel meriah bagi wanita. Busana pentas kerajaan Mojopahit akan berbeda dengan kerajaan Mataram.
  2. Busana modern yaitu bentuk busana pentas yang digunakan tak berbeda dengan pakaian yang digunakan sehari-hari dimasyarakat.
  3. Busana tradisional yaitu bentuk busana yang menggambarkan karakteristik spesifik secara simbolis dan distilir. Busana seperti ini  seringkali berlatar belakang sejarah terutama yang berhubungan dengan karakter tradisional, periode dan tempat yang khusus.
  4. Busana nasional yaitu busana yang menggambarkan secara khas dari suatu negara dan yang bersangkutan secara historis dan nasional. Misalnya busana tentara Jerman jaman Nazi atau tentara jepang diperang dunia II.

5. Cara merencanakan

Sebelum kita merancang busana untuk sebuah pementasan maka ada yang perlu kita pelajari adalah sebagai berikut.
a. Belajar tentang kehidupan dan watak yang akan dibawakan oleh pemeran, dengan cara bersama-sama menganalisa naskah.
b. Penelitian tentang periode sejarah dan busana nasional peran yang akan dibawakan, dengan cara meneliti sumber-sumber yang
ada, buku teks perihal tentang kostum, juga harus diteliti dokumen-dokumen, naskah-naskah perpustakaan yang memiliki bahan-
bahan yang serupa dengan cerita yang akan dibawakan.

Studi Kasus

Sering kita menyaksikan film India di televisi kita atau televisi tetangga, atau sinetron Dendam Nyi Pelet bahkan sinetron  Si Doel Anak Sekolahan atau Sinetron Mak Lampir. Pertama yang kita lihat adalah siapa yang main (kalau kita kenal) kemudian pakaian yang dikenakan oleh pemeran dan lain-lain. Ketika melihat pakaian para pemain, dalam pikiran kita bertanya, kenapa pakaian mak Lampir kok begitu atau pakaian mas Karyo kok seperti pakaian orang jawa atau pakaian pemain anu seperti pakaian kyai.
Kalau kita menonton film India ada pakaian yang berwarna-warni, bentuknya yang modern atau pakaiannya seperti wayang, pakaiannya seperti orang gila atau ketika kita melihat film yang ceritanya revolusi penjajahan Jepang, kita bisa melihat pakaian pasukan Jepang, pakaian kaum bangsawan jawa, kemudian pakaian petani yang terbuat dari karung goni, ada yang telanjang dada, ada yang berpakaian hitam-hitam. Kira-kira apa fungsi dari pakaian tersebut? Perancang pakaian mempunyai tujuan apa terhadap rancangan tersebut?

Kasus di atas baru contoh bentuknya, belum lagi bahan yang digunakan, warna, model, corak, pakaian untuk orang tua kok berbeda dengan pakaian untuk orang muda dan sebagainya. Kemudian kita bertanya untuk apa film itu memakai pakaian model seperti itu? Kenapa pemain anu memakai pakaian seperti tentara Jepang, atau seperti orang gila dan lain-lain.

Dari Studi kasus di atas mampukah kita memahami semua itu. Alasan yang dipakai kenapa ada pakaian seperti wayang. Atau seperti orang Jawa, seperti tentara Jepang dan lain-lain. Kira-kira apa tujuan semua itu dilakukan dan kenapa mesti dilakukan. Kalau anda disuruh untuk menata pakaian para pemain apa yang anda lakukan dan apa saja pakaian yang perlu dipersiapkan.

Coba deskripsikan semua kasus di atas dalam bentuk tulisan sederhana atau gambar sketsa rancangan pakaian-pakaian tersebut.

Kalau anda belum memahami itu semua anda perlu membaca pengetahuan tata busana sekali lagi.

~ oleh teaterku pada 12 April 2010.

4 Tanggapan to “TATA BUSANA”

  1. boleh tau buku2 sumber untuk tata rias dan busana mas, saya sangat butuh buku sumbernya sekarang untuk reverensi. trims

    • A Phaidon Theatre Manual, Costume and Make-Up. New York : Phaidon Press Inc. 2001.

      Lee Baygan, Make-Up For Theatre, Film & Television. Londom : A & C Black, 1994.

      Pramana Padmodarmaya, Tata dan Teknik Pentas. Jakarta ; Balai Pustaka 1988.

      Terry Thomas, Create Your Own Stage Set. USA : Prentice-hall, 1997.

      RMA. Harymawan, Dramaturgi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1993.

  2. boleh jelaskan dengan lebih lanjut tentang peranan pengurus busana dalam teater?

    • Penata Rias adalah orang yang mempunyai tugas atau tanggungjawab merias pemain. Proses merias ini dimulai dari mendesain atau merancang tata rias sampai dengan menerapkan tata rias tersebut pada pemain sesuai dengan hasil kesepakatan dengan sutradara atau konseptor pertunjukan. Penata rias bisa dibantu oleh crew atau asisten, tetapi tanggungjawab sepenuhnya berada pada penata rias.
      Penata rias dan kostum secara umum pada produksi yang besar dibagi pada masing-masing pos antara rias dan kostum. Namun untuk produksi karya seni yang terbatas kedua tugas dipegang oleh satu staf saja. Penata rias dan kostum bertanggung jawab langsung kepada pimpinan artistik, penyaji karya, serta melakukan konsolidasi dengan pimpinan panggung.
      Hirarki penguasaan konsep riasan, pemakaian kostum hingga modivikasinya menjadi tanggung jawab penata kostum dan penata rias. Konsultasi kepada sutradara atau konseptor secara konsolidasi penting dilakukan. Prasaran sutradara atau konseptor dalam hal hasil kerjanya menjadi tanggung jawab penata rias dan busana berdasar pemenuhan dari sutradara atau konseptor, dengan asumsi hasil kerja kurang serasi dan kurang tepat sasaran. Penata rias dan busana harus mempertanggungjawabkan kepada penonton apabila dijumpai terdapat reaksi balik dari penonton, hal ini berhubungan dengan kepuasan kerja penata rias dan busana.
      Beban tanggung jawab dan tugas penata rias dan busana menjadi bagian pertanggungjawaban kepada pimpinan artistik. Pementasan yang dipergelarkan harus mampu memenuhi harapan sutradara atau konseptor. Masalah riasan dan pemakaian busana apabila terjadi kecelakaan misal busana copot atau kedodoran, lunturnya riasan menjadi beban moral tanggung jawab yang diemban penata rias dan busana secara terbuka. Hak dan kewajibannya berkonsultasi kepada pimpinan artistik, penata panggung dan penata cahaya serta sutradara atau konseptor. Usaha memberi layanan atas bentuk riasan dan pemakaian kostum pementasan jadi bagian tugas kolektif dengan pimpinan artistik. Penata rias dalam melakukan pekerjaannya diarahkan oleh pimpinan artistik dan sesuai hasil diskusi dengan sutradara atau konseptor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: