TEATER

Oleh: Heru Subagiyo, S.Sn.

Ketika kita belajar teater
maka kita sebenarnya sedang mempelajari dunia ini serta kehidupannya,
Ketika kita belajar pemeranan
maka sebenarnya kita sedang mempelajari hidup dan kehidupan ini.

Sebuah karya seni pada dasarnya lahir sebagai buah karya usaha manusia untuk mewujudkan serta mengkomunikasikan perasaan dan pengalaman atau hasil penghayatannya  kepada sesamanya. Dengan perkataan lain, sebuah karya seni dalam hal ini seni  pertunjukan teater sebagai tontonan harus disusun dan direncanakan dengan pertimbangan akan hadirnya orang lain sebagai penonton. Hal ini sesuai dengan formula dramaturgi atau 4 M, yaitu mengkhayalkan, menuliskan, memainkan dan menyaksikan (penonton menyaksikan kisah yang ditulis).

Seni teater merupakan seni yang mendapat ide dasar dari peniruan kehidupan manusia sehari-hari,  baik yang nyata maupun yang imajinatif. Pementasannya merupakan kegiatan manusia untuk menyatakan cipta, rasa dan karsa kedalam karya di atas pentas yang ditopang oleh sarana-sarana penunjang lainnya. Sarana penunjang itu bisa berupa manajemen produksi yang baik, penataan set dekorasi, penataan busana, penataan tata cahaya dan penataan rias yang memadai dan penyutradaan yang handal.

Teater merupakan kerja seni yang cukup kompleks. Hal ini disebabkan teater menuntut kehadiran beberapa pekerja yaitu aktor, penulis naskah, sutradara, pemusik, penata lampu, penata busana, penata dekorasi, penata rias, koreografer dan lain-lain. Kompleksitas ini menyebabkan teater dianggap sebagai seni gabungan dan seni yang sangat sulit. Tetapi kalau setiap pendukung pementasan memahami kerja masing-masing bidang maka teater bukan menjadi seni yang sulit tetapi seni yang menyenangkan.

Banyak anggapan bahwa pementasan teater adalah ajang milik pemeran sehingga kalau mau mengadakan pementasan harus main dan menjadi tokoh. Padahal dalam sebuah pementasan teater pemeran masih memerlukan penata-penata lain yang menunjang permainannya. Profesi penata busana, dekorasi, rias, lampu dan suara masih jarang diminati di Indonesia dibandingkan dengan profesi pemeran. Sehingga pementasan teater bukanlah kerja tunggal melainkan kerja kolektif antara pemeran, sutradara, penata- penata dan pihak produksi.

~ oleh teaterku pada 19 Maret 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: