BERKARYA TEATER

Oleh: Eko Santosa
Istilah ”teater” berasal dari kata Yunani Theatron yang secara harfiah berarti tempat atau gedung pertunjukan dimana para pemain beraksi dan orang-orang menontonnya. Hal ini berkaitan dengan lahirnya pertunjukan teater yang bermula dari pemujaan terhadap dewa kesuburan Yunani, Dionisus. Ritual pemujaan tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah festival tahunan. Akhirnya, teater yang semula berarti sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan dalam rangkaian ritual pemujaan Dionisus, berkembang maknanya menjadi pertunjukan itu sendiri.

Pada permulaannya teater tampil di pentas dengan tanpa berdasar pada teks melainkan cerita lisan. Artinya, para pemain tidak menghapalkan dialog mereka berdasar teks (naskah) tetapi mereka melakukan improvisasi untuk mengembangkan garis besar cerita yang ditentukan. Tetapi, pada masa ini teater selalu dikaitkan dengan upacara atau ritual tertentu dan belum berdiri sendiri sebagai sebuah pertunjukan lepas. Baru pada festival teater di Yunani untuk memuja Dionisus itulah teater dapat tampil sebagai pertunjukan mandiri. Pada masa ini pula teks atau naskah lakon sudah mulai digunakan. Para pemain tidak lagi berimprovisasi tetapi bermain berdasar teks. Penggunaan teks ini pula yang akhirnya digunakan untuk membedakan seni teater yang bersifat tradisional dan modern.

Kelahiran dan perkembangan teater di Indonesia tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Yunani. Pada awalnya, pertunjukan teater hanyalah bagian dari sebuah ritual tertentu. Para pemain bermain tidak berdasar teks melainkan cerita lisan yang tata lakunya sesuai dengan rangkaian ritual tersebut. Baru kemudian teater memisahkan diri sebagai pertunjukan mandiri (lihat sejarah ketoprak, wayang kulit, dll). Cerita yang semula diutarakan secara lisan kepada para pemain, akhirnya juga berubah dalam format teks lakon (naskah). Dalam khasanah teater profesional hal ini tentu saja merupakan satu bentuk perkembangan yang menggembirakan mengingat bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan improvisasi yang baik dan tepat sesuai cerita. Dengan adanya teks/naskah maka para pemain bisa mempelajari dan menghapal dialog-dialog yang ada di dalamnya.

Teater dan Drama

Teater bagi sebagian orang diidentikkan dengan drama. Padahal jika ditinjau secara mendalam, teater berbeda dengan drama dan teater memiliki cakupan yang lebih luas dibanding drama. Menurut asal katanya, seperti tersebut di atas teater berasal dari “Theatron” yang berarti gedung atau tempat pertunjukan, kemudian berkembang menjadi pertunjukan yang disaksikan oleh penonton. Sedangkan “drama” berasal dari kata Perancis “Drame” yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid (pengarang Perancis) untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah (Bakdi Soemanto, 2001). Drama berikutnya dapat didefinisikan sebagai jenis lakon (cerita) yang serius, penuh liku dan ketegangan kehidupan manusia tapi tidak menonjolkan tragika. Dalam perkembangan teater modern, istilah “Drama” diperluas sehingga mencakup semua lakon termasuk di dalamnya tragedi dan komedi.

Dari uraian di atas jelas dapat dilihat perbedaannya. Istilah “Teater” berkaitan dengan pertunjukan sedangkan istilah “Drama” berkaitan dengan lakon/naskah cerita. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan disebut dengan teater. Karena teater merupakan visualisasi dari drama maka sering timbul istilah “pertunjukan drama (drama yang divisualisasikan/dipertunjukkan)”. Istilah terakhir inilah yang membuat rancu sehingga teater diidentikkan dengan drama atau sebaliknya. Secara sederhana jika digambarkan peta kedudukan antara teater dan drama adalah sebagai berikut;

Gambar…………….

Bahkan jika ditinjau dari sudut lakon (naskah cerita) maka “Drama” hanya merupakan salah satu tipe (jenis) dari lakon (Mc Tigue, 1992). Tipe Lakon selanjutnya menurut Mc Tigue secara mendasar dibagi menjadi lima (5) yaitu; Tragedi, Drama, Komedi, Melodrama, dan Satir. Meskipun dalam khasanah teater modern tipe tersebut dapat dikombinasikan seperti; Tragikomedi, Drama-Tragedi akan tetapi garis besar tipe lakon adalah seperti tersebut di atas. Mengacu pada pendapat tersebut, kedudukan drama jika dipandang dari sisi lakon dapat dilihat pada gambar di bawah ini;

Gambar…….

Dari dua gambar di atas dapat dilihat bahwa drama merupakan bagian dari teater. Jika tinjauan dipersempit maka drama hanyalah salah satu jenis lakon. Tetapi dalam percaturan teater modern istilah “drama” diperluas sehingga menjadi lakon itu sendiri. Artinya, “drama” mencakup semua jenis lakon. Jadi jika berbicara mengenai drama maka pasti akan membicarakan lakon sedangkan jika berbicara mengenai teater pasti akan membicarakan pertunjukan dan keseluruhan aspek yang mendukungnya termasuk di dalamnya adalah lakon (drama).

Unsur-unsur Teater

Unsur-unsur pokok dari teater adalah; cerita (naskah lakon), sutradara (pengarah laku), pemain (aktor) dan penonton. Cerita adalah bahan dasar ekspresi dalam teater. Dari cerita –yang ditulis oleh pengarang- sutradara kemudian memberikan interpretasi dan berikutnya mengarahkan para pemain untuk mewujudkan cerita tersebut (sesuai interpretasi yang ditentukan) di atas pentas dan disaksikan oleh penonton. Keempat unsur tersebut harus ada dalam peristiwa teater. Pertunjukan teater tidak akan berlangsung tanpa cerita, tidak akan berlangsung tanpa pemain dan sutradara serta pertunjukan teater tidak dapat dikatakan pertunjukan teater tanpa adanya penonton. Unsur peristiwa (pertunjukan) teater jika digambarkan adalah sebagai berikut;

Gambar……..

Unsur yang tertera pada diagram di atas merupakan unsur dasar pembentuk pertunjukan teater. Selain itu masih ada unsur pendukung yang disebut dengan aspek artsitik pementasan yang meliputi; tata rias dan busana, tata suara, tata cahaya, dan tata dekorasi pentas. Masing-masing unsur membentuk satu kesatuan interpretasi yang padu dan kemudian mewujud dalam satu tampilan pertunjukan. Oleh karena itu, teater dapat dikatakan sebagai seni kolaboratif.

Struktur Cerita

Menampilkan pertunjukan teater adalah menyampaikan pesan yang terkandung dalam cerita kepada penonton. Inti dari cerita di dalam teater adalah konflik (masalah). Jadi sebuah pertunjukan dapat disebut sebagai teater jika pertunjukan tersebut bercerita serta cerita tersebut memiliki konflik. Secara sederhana struktur cerita dalam teater dapat digambarkan sebagai berikut;

Gambar………….

Berdasar gambar di atas, jika cerita yang ditampilkan sudah memenuhi struktur tersebut maka sudah dapat dikreasikan menjadi sebuah pertunjukan teater.

Bentuk-bentuk Sajian Teater

a. Teater Naskah

Teater naskah merupakan pertunjukan teater yang berdasar pada naskah lakon. Pada bentuk teater ini, naskah merupakan bahan dasar ekspresi. Semua konsep dibuat berdasarkan lakon sehingga pertunjukan yang ditampilkan merupakan perwujudan utuh dari lakon (cerita) tersebut. Seperti telah disebutkan di atas, lakon dapat dibedakan menurut jenisnya yaitu; drama, melodrama, tragedi, komedi, dan satir. Namun dalam perkembangan teater modern naskah lakon dapat dijeniskan sebagai; drama-satir, drama-tragedi, tragedi-komedi, dan lain sebagainya. Pertunjukan teater yang berdasar naskah inilah yang kemudian (terutama di Indonesia) disebut sebagai pertunjukan drama.

b. Teater Improvisasi

Dalam teater ini, bahan dasar ekspresi adalah kerangka cerita. Sutradara menuangkan cerita secara lisan kepada para pemain kemudian pemain mengembangkan dan mengekspresikan cerita tersebut secara improvisasi. Dialog diciptakan secara spontan pada saat itu juga. Untuk menghidupkan cerita, para pemain harus saling mengisi dan saling memahami antara satu dengan yang lain. Karena tidak berdasar pada naskah maka dialog dapat dikembangkan sedemikian rupa menurut kemampuan si pemain. Teater tradisional kerakyatan biasanya menampilkan jenis teater semacam ini. Para pemain teater tradisional yang sudah profesional biasanya berkumpul beberapa saat sebelum pentas untuk mendengarkan penuangan cerita dari sutradara. Setelah itu mereka mempersiapkan diri untuk kemudian tampil scara spontan mengekspresikan cerita yang telah digariskan. Bagi para pemain muda, teknik improvisasi ini bisa dilatihkan dahulu beberapa minggu bahkan bulan sebelum hari pementasan.

c. Teater Gerak

Teater gerak adalah teater yang menampilkan ekspresi cerita melalui gerak. Pada awalnya penggunaan suara atau dialog tidak diperbolehkan tetapi pada perkembangan-nya suara dan dialog sering ditampilkan untuk memberi penegasan makna ekspresi tetapi dibatasi. Yang tergolong dalam teater ini adalah pantomim dan teater tari (sendratari). Pantomim dapat didefinisikan sebagai seni menggunakan gerakan, ekspresi wajah dan tubuh untuk mengungkapkan makna atau cerita tertentu. Sedangkan teater tari (sendratari) secara harfiah dapat dikatakan sebagai seni teater (drama) yang ditarikan. Dari sedikit keterangan ini dapat dijelaskan bahwa dalam teater gerak bahan dasar ekspresinya juga cerita.

d. Teater Boneka

Bentuk ekspresi seni teater yang menggunakan boneka sebagai media penyampai cerita kepada penonton. Teater boneka memiliki banyak ragam mulai dari bentuk boneka hingga bentuk panggung pementasannya. Tidak hanya itu, teknik bermain boneka dan teknik bercerita (penggunaan suara untuk mengisi karakter tokoh-tokohnya) bisa sangat berlainan antara yang satu dengan yang lain. Ada teater boneka yang dimainkan oleh banyak orang (termasuk pengisian suara tokohnya) dan ada teater boneka yang hanya dimainkan oleh seorang pemain saja termasuk pengisian seluruh suara tokoh dalam cerita yang ditampilkan.

e. Teater Musik

Teater musik sering disebut sandiwara musikal yang menampilkan cerita melalui ekspresi musikal. Untuk mendukung tujuan tersebut biasanya gerak atau tarian ditampilkan dan para pemain melakukan dialognya dalam lagu. Meskipun ada beberapa kalimat yang diucapkan seperti wicara tetapi basis ekspresi ucapan tokoh adalah nyanyian dan musik. Bentuk lain yang dapat digolongkan dalam teater musik ini adalah opera yang semua cerita ditampilkan melalui nyanyian dan musik (orkestra). Dalam opera bahkan terkadang hanya ditampilkan orkestra dan penyanyi tanpa elemen pendukung yang lain. Cerita secara utuh disajikan dalam bentuk lagu (nyanyian) dan musik.

f. Teatrikalisasi Puisi

Sajian seni teater yang berbasiskan puisi. Bahan dasar ekspresi adalah puisi yang kemudian diolah sedemikian rupa sehingga memenuhi struktur cerita dalam teater. Gaya pembacaan (penyajian) puisi masih tetap dipertahankan tetapi ekspresi pemainnya digarap secara teatrikal (mengadopsi gaya ekspresi pentas teater). Ragam bentuk gerak, musik dan permainan ekspresi pemain dikombinasikan untuk menampilkan makna kesuruhan puisi yang telah dirangkai menjadi satu cerita.

g. Teater Audio

Teater audio adalah sajian teater yang ditampilkan secara auditif. Bentuk-bentuk dari teater ini adalah sandiwara radio, dan atau sandiwara (cerita) yang dikemas dalam pita kaset/cd. Dasar dari teknik teater audio adalah dramatic reading dimana para pemainnya membaca naskah seolah-olah sedang bermain teater secara sungguh-sungguh. Karena para pemain hanya ditampilkan suaranya saja maka dalam teater audio, suara pemain harus mampu mewakili imajinasi pendengar terhadap situasi cerita yang sedang diketengahkan. Karena media ekspresinya bersifat auditif maka elemen pendukung yang dapat digunakan untuk memancing imajinasi pendengar mendapat tekanan misalnya; ilustrasi musik dan sound efek.

h. Mendongeng

Mendongeng (story telling) merupakan bentuk teater yang paling tua. Jauh sebelum bentuk sajian teater tampil dengan beragam media, mendongeng merupakan karya seni yang sangat menarik. Dalam tradisi daerah-daerah tertentu, mendongeng biasanya dilakukan oleh para tetua adat yang menceritakan sejarah atau kepahlawanan para leluhur atau asal mula manusia (suku tersebut) diciptakan.Meskipun sederhana dan tanpa menggunakan media lain untuk mempertegas cerita, kegiatan mendongeng ini dapat menciptakan mitos-mitos tertentu yang diyakini oleh para pendengarnya. Bahkan dalam sejarah penyebaran agama, mendongeng merupakan media dakwah yang ampuh untuk menarik ummat.

Dalam kasanah pendidikan anak-anak, pelajaran moral dan sosial dapat disajikan dalam bentuk dongeng dan seni mendongeng. Wilayah imajinasi anak dirangsang dengan cerita yang disajikan oleh pendongeng. Karena imajinasi tersebut hidup dalam benak anak ketika mendengarkan dongeng maka pesan moral yang hendak disampaikan akan lebih mengena dan mudah diingat.

Berkarya Teater

Membuat karya teater sebetulnya tidaklah sesulit yang dibayangkan. Teater dirasa sulit karena pemahaman tentang teater masih terjebak pada drama. Hal ini mengakibatkan gambaran proses karya teater sangat menjemukan dan berat. Para pemain harus menghapalkan naskah sementara waktu yang tersedia tidaklah banyak. Apalagi jika kondisi seperti ini diterapkan di sekolah, pastilah akan teramat sulit mengingat beban pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik sangatlah banyak masih diharuskan lagi menghapal naskah.

Namun tidaklah demikian jika teater dimaknai sebagai teater dan bukan sebagai drama an sich. Seperti pada paparan di atas, teater dapat ditampilkan secara improvisasi, dengan gerak saja atau dengan gabungan beberapa ragam ekspresi. Hal yang perlu diingat dan diperhatikan adalah 4 unsur pokok teater tersebut. Jadi langkah awal adalah menentukan atau membangun cerita.Cerita dapat diambil dari buku cerita, puisi, film, sebuah gambar, atau cerita dibangun bersama-sama antar pemain dengan arahan sutradara.

Sumber-sumber cerita sebetulnya banyak tersedia di alam sekitar. Jika mau mencermati maka sumber cerita tidak akan pernah habis. Teater hanya mensyaratkan tiga hal utama dalam struktur ceritanya; pemaparan, konflik, dan penyelesaian. Dengan berlandaskan pada hal ini maka banyak cerita yang bisa dikreasikan. Tidak perlu kajian mendalam tentang tokoh dan elemen pembentuk cerita yang lain kecuali kalau memang ingin membuat karya teater secara profesional. Durasi ceritapun tidak perlu panjang, kalaupun ingin menciptakan cerita yang panjang hal itu dapat dibentuk dari cerita pendek-pendek yang digabungkan. Intinya, buatlah cerita yang paling sederhana.

Setelah cerita tersedia maka selanjutnya adalah menentukan bentuk sajian. Jika cerita yang dihasilkan begitu sempurna sehingga di dalamnya sudah mencakup seluruh dialog pemain secara utuh maka bentuk teater naskah (drama) dapat ditampilkan. Jika yang dihasilkan adalah kerangka cerita (tanpa dialog) maka banyak pilihan yang bisa dilakukan. Apakah akan menampilkan teater improvisasi atau teater gerak, menggunakan media seperti boneka atau tidak. Jika yang dihasilkan hanya serangkaian puisi, tentu saja teatrikalisasi puisi dapat dipilih sebagai bentuk sajian.

Berikutnya, setelah cerita dan bentuk sajian ditentukan maka para pemain dengan arahan sutradara (pengarah laku / pembimbing) bersama-sama mengeksplorasi cerita tersebut. Eksplorasi dapat bersifat eksplorasi gerak, suara, dialog, atau koreografi dengan bersumber pada cerita. Dari rangkaian eksplorasi ini selanjutnya sutradara beserta pemain menentukan bentuk-bentuk ekspresi mana yang sekiranya tepat dengan cerita dan bentuk sajian yang hendak ditampilkan. Dari hasil eksplorasi yang telah ditentukan itu maka disusunlah rangkaiannya mulai dari awal hingga akhir. Jika rangkaian ini sudah jadi maka dapat dipraktekkan untuk kemudian diberi tambahan misalnya; musik atau tata lampu, dekorasi, dan lain sebagainya. Jika semuanya dirasa cukup maka pertunjukan bisa ditampilkan di hadapan penonton.

Yang perlu diingat dalam berkarya teater adalah, jangan takut salah karena kesalahan dalam seni dapat menjadi motif baru yang dapat dikembangkan. Jangan berpikir hasil karya tersebut berkualitas baik atau buruk, yang penting adalah semua terlibat untuk berkarya baik pemain ataupun sutradara dan semua senang melakukannya. Janganlah ragu-ragu karena kebersamaan dan kerja bersama akan menghilangkannya. Mulailah segalanya dengan rasa suka.

Selamat berkarya!

-(6905)-

Oleh: Eko Santosa

Istilah ”teater” berasal dari kata Yunani Theatron yang secara harfiah berarti tempat atau gedung pertunjukan dimana para pemain beraksi dan orang-orang menontonnya. Hal ini berkaitan dengan lahirnya pertunjukan teater yang bermula dari pemujaan terhadap dewa kesuburan Yunani, Dionisus. Ritual pemujaan tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah festival tahunan. Akhirnya, teater yang semula berarti sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan dalam rangkaian ritual pemujaan Dionisus, berkembang maknanya menjadi pertunjukan itu sendiri.

Pada permulaannya teater tampil di pentas dengan tanpa berdasar pada teks melainkan cerita lisan. Artinya, para pemain tidak menghapalkan dialog mereka berdasar teks (naskah) tetapi mereka melakukan improvisasi untuk mengembangkan garis besar cerita yang ditentukan. Tetapi, pada masa ini teater selalu dikaitkan dengan upacara atau ritual tertentu dan belum berdiri sendiri sebagai sebuah pertunjukan lepas. Baru pada festival teater di Yunani untuk memuja Dionisus itulah teater dapat tampil sebagai pertunjukan mandiri. Pada masa ini pula teks atau naskah lakon sudah mulai digunakan. Para pemain tidak lagi berimprovisasi tetapi bermain berdasar teks. Penggunaan teks ini pula yang akhirnya digunakan untuk membedakan seni teater yang bersifat tradisional dan modern.

Kelahiran dan perkembangan teater di Indonesia tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Yunani. Pada awalnya, pertunjukan teater hanyalah bagian dari sebuah ritual tertentu. Para pemain bermain tidak berdasar teks melainkan cerita lisan yang tata lakunya sesuai dengan rangkaian ritual tersebut. Baru kemudian teater memisahkan diri sebagai pertunjukan mandiri (lihat sejarah ketoprak, wayang kulit, dll). Cerita yang semula diutarakan secara lisan kepada para pemain, akhirnya juga berubah dalam format teks lakon (naskah). Dalam khasanah teater profesional hal ini tentu saja merupakan satu bentuk perkembangan yang menggembirakan mengingat bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan improvisasi yang baik dan tepat sesuai cerita. Dengan adanya teks/naskah maka para pemain bisa mempelajari dan menghapal dialog-dialog yang ada di dalamnya.

Teater dan Drama

Teater bagi sebagian orang diidentikkan dengan drama. Padahal jika ditinjau secara mendalam, teater berbeda dengan drama dan teater memiliki cakupan yang lebih luas dibanding drama. Menurut asal katanya, seperti tersebut di atas teater berasal dari “Theatron” yang berarti gedung atau tempat pertunjukan, kemudian berkembang menjadi pertunjukan yang disaksikan oleh penonton. Sedangkan “drama” berasal dari kata Perancis “Drame” yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid (pengarang Perancis) untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah (Bakdi Soemanto, 2001). Drama berikutnya dapat didefinisikan sebagai jenis lakon (cerita) yang serius, penuh liku dan ketegangan kehidupan manusia tapi tidak menonjolkan tragika. Dalam perkembangan teater modern, istilah “Drama” diperluas sehingga mencakup semua lakon termasuk di dalamnya tragedi dan komedi.

Dari uraian di atas jelas dapat dilihat perbedaannya. Istilah “Teater” berkaitan dengan pertunjukan sedangkan istilah “Drama” berkaitan dengan lakon/naskah cerita. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan disebut dengan teater. Karena teater merupakan visualisasi dari drama maka sering timbul istilah “pertunjukan drama (drama yang divisualisasikan/dipertunjukkan)”. Istilah terakhir inilah yang membuat rancu sehingga teater diidentikkan dengan drama atau sebaliknya. Secara sederhana jika digambarkan peta kedudukan antara teater dan drama adalah sebagai berikut;

TEATER

DRAMA

Bahkan jika ditinjau dari sudut lakon (naskah cerita) maka “Drama” hanya merupakan salah satu tipe (jenis) dari lakon (Mc Tigue, 1992). Tipe Lakon selanjutnya menurut Mc Tigue secara mendasar dibagi menjadi lima (5) yaitu; Tragedi, Drama, Komedi, Melodrama, dan Satir. Meskipun dalam khasanah teater modern tipe tersebut dapat dikombinasikan seperti; Tragikomedi, Drama-Tragedi akan tetapi garis besar tipe lakon adalah seperti tersebut di atas. Mengacu pada pendapat tersebut, kedudukan drama jika dipandang dari sisi lakon dapat dilihat pada gambar di bawah ini;

Drama

Lakon

Tragedi

Komedi

Satir

Melodrama

Drama

Dari dua gambar di atas dapat dilihat bahwa drama merupakan bagian dari teater. Jika tinjauan dipersempit maka drama hanyalah salah satu jenis lakon. Tetapi dalam percaturan teater modern istilah “drama” diperluas sehingga menjadi lakon itu sendiri. Artinya, “drama” mencakup semua jenis lakon. Jadi jika berbicara mengenai drama maka pasti akan membicarakan lakon sedangkan jika berbicara mengenai teater pasti akan membicarakan pertunjukan dan keseluruhan aspek yang mendukungnya termasuk di dalamnya adalah lakon (drama).

Unsur-unsur Teater

Unsur-unsur pokok dari teater adalah; cerita (naskah lakon), sutradara (pengarah laku), pemain (aktor) dan penonton. Cerita adalah bahan dasar ekspresi dalam teater. Dari cerita –yang ditulis oleh pengarang- sutradara kemudian memberikan interpretasi dan berikutnya mengarahkan para pemain untuk mewujudkan cerita tersebut (sesuai interpretasi yang ditentukan) di atas pentas dan disaksikan oleh penonton. Keempat unsur tersebut harus ada dalam peristiwa teater. Pertunjukan teater tidak akan berlangsung tanpa cerita, tidak akan berlangsung tanpa pemain dan sutradara serta pertunjukan teater tidak dapat dikatakan pertunjukan teater tanpa adanya penonton. Unsur peristiwa (pertunjukan) teater jika digambarkan adalah sebagai berikut;

Teater

Sutradara

Pemain

Penonton

Lakon

Unsur yang tertera pada diagram di atas merupakan unsur dasar pembentuk pertunjukan teater. Selain itu masih ada unsur pendukung yang disebut dengan aspek artsitik pementasan yang meliputi; tata rias dan busana, tata suara, tata cahaya, dan tata dekorasi pentas. Masing-masing unsur membentuk satu kesatuan interpretasi yang padu dan kemudian mewujud dalam satu tampilan pertunjukan. Oleh karena itu, teater dapat dikatakan sebagai seni kolaboratif.

Struktur Cerita

Menampilkan pertunjukan teater adalah menyampaikan pesan yang terkandung dalam cerita kepada penonton. Inti dari cerita di dalam teater adalah konflik (masalah). Jadi sebuah pertunjukan dapat disebut sebagai teater jika pertunjukan tersebut bercerita serta cerita tersebut memiliki konflik. Secara sederhana struktur cerita dalam teater dapat digambarkan sebagai berikut;

Garis Waktu

A

C

B

A = Pemaparan B = Konflik C = Penyelesaian

Berdasar gambar di atas, jika cerita yang ditampilkan sudah memenuhi struktur tersebut maka sudah dapat dikreasikan menjadi sebuah pertunjukan teater.

Bentuk-bentuk Sajian Teater

a. Teater Naskah

Teater naskah merupakan pertunjukan teater yang berdasar pada naskah lakon. Pada bentuk teater ini, naskah merupakan bahan dasar ekspresi. Semua konsep dibuat berdasarkan lakon sehingga pertunjukan yang ditampilkan merupakan perwujudan utuh dari lakon (cerita) tersebut. Seperti telah disebutkan di atas, lakon dapat dibedakan menurut jenisnya yaitu; drama, melodrama, tragedi, komedi, dan satir. Namun dalam perkembangan teater modern naskah lakon dapat dijeniskan sebagai; drama-satir, drama-tragedi, tragedi-komedi, dan lain sebagainya. Pertunjukan teater yang berdasar naskah inilah yang kemudian (terutama di Indonesia) disebut sebagai pertunjukan drama.

b. Teater Improvisasi

Dalam teater ini, bahan dasar ekspresi adalah kerangka cerita. Sutradara menuangkan cerita secara lisan kepada para pemain kemudian pemain mengembangkan dan mengekspresikan cerita tersebut secara improvisasi. Dialog diciptakan secara spontan pada saat itu juga. Untuk menghidupkan cerita, para pemain harus saling mengisi dan saling memahami antara satu dengan yang lain. Karena tidak berdasar pada naskah maka dialog dapat dikembangkan sedemikian rupa menurut kemampuan si pemain. Teater tradisional kerakyatan biasanya menampilkan jenis teater semacam ini. Para pemain teater tradisional yang sudah profesional biasanya berkumpul beberapa saat sebelum pentas untuk mendengarkan penuangan cerita dari sutradara. Setelah itu mereka mempersiapkan diri untuk kemudian tampil scara spontan mengekspresikan cerita yang telah digariskan. Bagi para pemain muda, teknik improvisasi ini bisa dilatihkan dahulu beberapa minggu bahkan bulan sebelum hari pementasan.

c. Teater Gerak

Teater gerak adalah teater yang menampilkan ekspresi cerita melalui gerak. Pada awalnya penggunaan suara atau dialog tidak diperbolehkan tetapi pada perkembangan-nya suara dan dialog sering ditampilkan untuk memberi penegasan makna ekspresi tetapi dibatasi. Yang tergolong dalam teater ini adalah pantomim dan teater tari (sendratari). Pantomim dapat didefinisikan sebagai seni menggunakan gerakan, ekspresi wajah dan tubuh untuk mengungkapkan makna atau cerita tertentu. Sedangkan teater tari (sendratari) secara harfiah dapat dikatakan sebagai seni teater (drama) yang ditarikan. Dari sedikit keterangan ini dapat dijelaskan bahwa dalam teater gerak bahan dasar ekspresinya juga cerita.

d. Teater Boneka

Bentuk ekspresi seni teater yang menggunakan boneka sebagai media penyampai cerita kepada penonton. Teater boneka memiliki banyak ragam mulai dari bentuk boneka hingga bentuk panggung pementasannya. Tidak hanya itu, teknik bermain boneka dan teknik bercerita (penggunaan suara untuk mengisi karakter tokoh-tokohnya) bisa sangat berlainan antara yang satu dengan yang lain. Ada teater boneka yang dimainkan oleh banyak orang (termasuk pengisian suara tokohnya) dan ada teater boneka yang hanya dimainkan oleh seorang pemain saja termasuk pengisian seluruh suara tokoh dalam cerita yang ditampilkan.

e. Teater Musik

Teater musik sering disebut sandiwara musikal yang menampilkan cerita melalui ekspresi musikal. Untuk mendukung tujuan tersebut biasanya gerak atau tarian ditampilkan dan para pemain melakukan dialognya dalam lagu. Meskipun ada beberapa kalimat yang diucapkan seperti wicara tetapi basis ekspresi ucapan tokoh adalah nyanyian dan musik. Bentuk lain yang dapat digolongkan dalam teater musik ini adalah opera yang semua cerita ditampilkan melalui nyanyian dan musik (orkestra). Dalam opera bahkan terkadang hanya ditampilkan orkestra dan penyanyi tanpa elemen pendukung yang lain. Cerita secara utuh disajikan dalam bentuk lagu (nyanyian) dan musik.

f. Teatrikalisasi Puisi

Sajian seni teater yang berbasiskan puisi. Bahan dasar ekspresi adalah puisi yang kemudian diolah sedemikian rupa sehingga memenuhi struktur cerita dalam teater. Gaya pembacaan (penyajian) puisi masih tetap dipertahankan tetapi ekspresi pemainnya digarap secara teatrikal (mengadopsi gaya ekspresi pentas teater). Ragam bentuk gerak, musik dan permainan ekspresi pemain dikombinasikan untuk menampilkan makna kesuruhan puisi yang telah dirangkai menjadi satu cerita.

g. Teater Audio

Teater audio adalah sajian teater yang ditampilkan secara auditif. Bentuk-bentuk dari teater ini adalah sandiwara radio, dan atau sandiwara (cerita) yang dikemas dalam pita kaset/cd. Dasar dari teknik teater audio adalah dramatic reading dimana para pemainnya membaca naskah seolah-olah sedang bermain teater secara sungguh-sungguh. Karena para pemain hanya ditampilkan suaranya saja maka dalam teater audio, suara pemain harus mampu mewakili imajinasi pendengar terhadap situasi cerita yang sedang diketengahkan. Karena media ekspresinya bersifat auditif maka elemen pendukung yang dapat digunakan untuk memancing imajinasi pendengar mendapat tekanan misalnya; ilustrasi musik dan sound efek.

h. Mendongeng

Mendongeng (story telling) merupakan bentuk teater yang paling tua. Jauh sebelum bentuk sajian teater tampil dengan beragam media, mendongeng merupakan karya seni yang sangat menarik. Dalam tradisi daerah-daerah tertentu, mendongeng biasanya dilakukan oleh para tetua adat yang menceritakan sejarah atau kepahlawanan para leluhur atau asal mula manusia (suku tersebut) diciptakan. Meskipun sederhana dan tanpa menggunakan media lain untuk mempertegas cerita, kegiatan mendongeng ini dapat menciptakan mitos-mitos tertentu yang diyakini oleh para pendengarnya. Bahkan dalam sejarah penyebaran agama, mendongeng merupakan media dakwah yang ampuh untuk menarik ummat.

Dalam kasanah pendidikan anak-anak, pelajaran moral dan sosial dapat disajikan dalam bentuk dongeng dan seni mendongeng. Wilayah imajinasi anak dirangsang dengan cerita yang disajikan oleh pendongeng. Karena imajinasi tersebut hidup dalam benak anak ketika mendengarkan dongeng maka pesan moral yang hendak disampaikan akan lebih mengena dan mudah diingat.

Berkarya Teater

Membuat karya teater sebetulnya tidaklah sesulit yang dibayangkan. Teater dirasa sulit karena pemahaman tentang teater masih terjebak pada drama. Hal ini mengakibatkan gambaran proses karya teater sangat menjemukan dan berat. Para pemain harus menghapalkan naskah sementara waktu yang tersedia tidaklah banyak. Apalagi jika kondisi seperti ini diterapkan di sekolah, pastilah akan teramat sulit mengingat beban pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik sangatlah banyak masih diharuskan lagi menghapal naskah.

Namun tidaklah demikian jika teater dimaknai sebagai teater dan bukan sebagai drama an sich. Seperti pada paparan di atas, teater dapat ditampilkan secara improvisasi, dengan gerak saja atau dengan gabungan beberapa ragam ekspresi. Hal yang perlu diingat dan diperhatikan adalah 4 unsur pokok teater tersebut. Jadi langkah awal adalah menentukan atau membangun cerita.Cerita dapat diambil dari buku cerita, puisi, film, sebuah gambar, atau cerita dibangun bersama-sama antar pemain dengan arahan sutradara.

Sumber-sumber cerita sebetulnya banyak tersedia di alam sekitar. Jika mau mencermati maka sumber cerita tidak akan pernah habis. Teater hanya mensyaratkan tiga hal utama dalam struktur ceritanya; pemaparan, konflik, dan penyelesaian. Dengan berlandaskan pada hal ini maka banyak cerita yang bisa dikreasikan. Tidak perlu kajian mendalam tentang tokoh dan elemen pembentuk cerita yang lain kecuali kalau memang ingin membuat karya teater secara profesional. Durasi ceritapun tidak perlu panjang, kalaupun ingin menciptakan cerita yang panjang hal itu dapat dibentuk dari cerita pendek-pendek yang digabungkan. Intinya, buatlah cerita yang paling sederhana.

Setelah cerita tersedia maka selanjutnya adalah menentukan bentuk sajian. Jika cerita yang dihasilkan begitu sempurna sehingga di dalamnya sudah mencakup seluruh dialog pemain secara utuh maka bentuk teater naskah (drama) dapat ditampilkan. Jika yang dihasilkan adalah kerangka cerita (tanpa dialog) maka banyak pilihan yang bisa dilakukan. Apakah akan menampilkan teater improvisasi atau teater gerak, menggunakan media seperti boneka atau tidak. Jika yang dihasilkan hanya serangkaian puisi, tentu saja teatrikalisasi puisi dapat dipilih sebagai bentuk sajian.

Berikutnya, setelah cerita dan bentuk sajian ditentukan maka para pemain dengan arahan sutradara (pengarah laku / pembimbing) bersama-sama mengeksplorasi cerita tersebut. Eksplorasi dapat bersifat eksplorasi gerak, suara, dialog, atau koreografi dengan bersumber pada cerita. Dari rangkaian eksplorasi ini selanjutnya sutradara beserta pemain menentukan bentuk-bentuk ekspresi mana yang sekiranya tepat dengan cerita dan bentuk sajian yang hendak ditampilkan. Dari hasil eksplorasi yang telah ditentukan itu maka disusunlah rangkaiannya mulai dari awal hingga akhir. Jika rangkaian ini sudah jadi maka dapat dipraktekkan untuk kemudian diberi tambahan misalnya; musik atau tata lampu, dekorasi, dan lain sebagainya. Jika semuanya dirasa cukup maka pertunjukan bisa ditampilkan di hadapan penonton.

Yang perlu diingat dalam berkarya teater adalah, jangan takut salah karena kesalahan dalam seni dapat menjadi motif baru yang dapat dikembangkan. Jangan berpikir hasil karya tersebut berkualitas baik atau buruk, yang penting adalah semua terlibat untuk berkarya baik pemain ataupun sutradara dan semua senang melakukannya. Janganlah ragu-ragu karena kebersamaan dan kerja bersama akan menghilangkannya. Mulailah segalanya dengan rasa suka. Selamat berkarya!

-(6905)-

Oleh: Eko Santosa

Istilah ”teater” berasal dari kata Yunani Theatron yang secara harfiah berarti tempat atau gedung pertunjukan dimana para pemain beraksi dan orang-orang menontonnya. Hal ini berkaitan dengan lahirnya pertunjukan teater yang bermula dari pemujaan terhadap dewa kesuburan Yunani, Dionisus. Ritual pemujaan tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah festival tahunan. Akhirnya, teater yang semula berarti sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan dalam rangkaian ritual pemujaan Dionisus, berkembang maknanya menjadi pertunjukan itu sendiri.

Pada permulaannya teater tampil di pentas dengan tanpa berdasar pada teks melainkan cerita lisan. Artinya, para pemain tidak menghapalkan dialog mereka berdasar teks (naskah) tetapi mereka melakukan improvisasi untuk mengembangkan garis besar cerita yang ditentukan. Tetapi, pada masa ini teater selalu dikaitkan dengan upacara atau ritual tertentu dan belum berdiri sendiri sebagai sebuah pertunjukan lepas. Baru pada festival teater di Yunani untuk memuja Dionisus itulah teater dapat tampil sebagai pertunjukan mandiri. Pada masa ini pula teks atau naskah lakon sudah mulai digunakan. Para pemain tidak lagi berimprovisasi tetapi bermain berdasar teks. Penggunaan teks ini pula yang akhirnya digunakan untuk membedakan seni teater yang bersifat tradisional dan modern.

Kelahiran dan perkembangan teater di Indonesia tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Yunani. Pada awalnya, pertunjukan teater hanyalah bagian dari sebuah ritual tertentu. Para pemain bermain tidak berdasar teks melainkan cerita lisan yang tata lakunya sesuai dengan rangkaian ritual tersebut. Baru kemudian teater memisahkan diri sebagai pertunjukan mandiri (lihat sejarah ketoprak, wayang kulit, dll). Cerita yang semula diutarakan secara lisan kepada para pemain, akhirnya juga berubah dalam format teks lakon (naskah). Dalam khasanah teater profesional hal ini tentu saja merupakan satu bentuk perkembangan yang menggembirakan mengingat bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan improvisasi yang baik dan tepat sesuai cerita. Dengan adanya teks/naskah maka para pemain bisa mempelajari dan menghapal dialog-dialog yang ada di dalamnya.

Teater dan Drama

Teater bagi sebagian orang diidentikkan dengan drama. Padahal jika ditinjau secara mendalam, teater berbeda dengan drama dan teater memiliki cakupan yang lebih luas dibanding drama. Menurut asal katanya, seperti tersebut di atas teater berasal dari “Theatron” yang berarti gedung atau tempat pertunjukan, kemudian berkembang menjadi pertunjukan yang disaksikan oleh penonton. Sedangkan “drama” berasal dari kata Perancis “Drame” yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid (pengarang Perancis) untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah (Bakdi Soemanto, 2001). Drama berikutnya dapat didefinisikan sebagai jenis lakon (cerita) yang serius, penuh liku dan ketegangan kehidupan manusia tapi tidak menonjolkan tragika. Dalam perkembangan teater modern, istilah “Drama” diperluas sehingga mencakup semua lakon termasuk di dalamnya tragedi dan komedi.

Dari uraian di atas jelas dapat dilihat perbedaannya. Istilah “Teater” berkaitan dengan pertunjukan sedangkan istilah “Drama” berkaitan dengan lakon/naskah cerita. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan disebut dengan teater. Karena teater merupakan visualisasi dari drama maka sering timbul istilah “pertunjukan drama (drama yang divisualisasikan/dipertunjukkan)”. Istilah terakhir inilah yang membuat rancu sehingga teater diidentikkan dengan drama atau sebaliknya. Secara sederhana jika digambarkan peta kedudukan antara teater dan drama adalah sebagai berikut;

TEATER

DRAMA

Bahkan jika ditinjau dari sudut lakon (naskah cerita) maka “Drama” hanya merupakan salah satu tipe (jenis) dari lakon (Mc Tigue, 1992). Tipe Lakon selanjutnya menurut Mc Tigue secara mendasar dibagi menjadi lima (5) yaitu; Tragedi, Drama, Komedi, Melodrama, dan Satir. Meskipun dalam khasanah teater modern tipe tersebut dapat dikombinasikan seperti; Tragikomedi, Drama-Tragedi akan tetapi garis besar tipe lakon adalah seperti tersebut di atas. Mengacu pada pendapat tersebut, kedudukan drama jika dipandang dari sisi lakon dapat dilihat pada gambar di bawah ini;

Drama

Lakon

Tragedi

Komedi

Satir

Melodrama

Drama

Dari dua gambar di atas dapat dilihat bahwa drama merupakan bagian dari teater. Jika tinjauan dipersempit maka drama hanyalah salah satu jenis lakon. Tetapi dalam percaturan teater modern istilah “drama” diperluas sehingga menjadi lakon itu sendiri. Artinya, “drama” mencakup semua jenis lakon. Jadi jika berbicara mengenai drama maka pasti akan membicarakan lakon sedangkan jika berbicara mengenai teater pasti akan membicarakan pertunjukan dan keseluruhan aspek yang mendukungnya termasuk di dalamnya adalah lakon (drama).

Unsur-unsur Teater

Unsur-unsur pokok dari teater adalah; cerita (naskah lakon), sutradara (pengarah laku), pemain (aktor) dan penonton. Cerita adalah bahan dasar ekspresi dalam teater. Dari cerita –yang ditulis oleh pengarang- sutradara kemudian memberikan interpretasi dan berikutnya mengarahkan para pemain untuk mewujudkan cerita tersebut (sesuai interpretasi yang ditentukan) di atas pentas dan disaksikan oleh penonton. Keempat unsur tersebut harus ada dalam peristiwa teater. Pertunjukan teater tidak akan berlangsung tanpa cerita, tidak akan berlangsung tanpa pemain dan sutradara serta pertunjukan teater tidak dapat dikatakan pertunjukan teater tanpa adanya penonton. Unsur peristiwa (pertunjukan) teater jika digambarkan adalah sebagai berikut;

Teater

Sutradara

Pemain

Penonton

Lakon

Unsur yang tertera pada diagram di atas merupakan unsur dasar pembentuk pertunjukan teater. Selain itu masih ada unsur pendukung yang disebut dengan aspek artsitik pementasan yang meliputi; tata rias dan busana, tata suara, tata cahaya, dan tata dekorasi pentas. Masing-masing unsur membentuk satu kesatuan interpretasi yang padu dan kemudian mewujud dalam satu tampilan pertunjukan. Oleh karena itu, teater dapat dikatakan sebagai seni kolaboratif.

Struktur Cerita

Menampilkan pertunjukan teater adalah menyampaikan pesan yang terkandung dalam cerita kepada penonton. Inti dari cerita di dalam teater adalah konflik (masalah). Jadi sebuah pertunjukan dapat disebut sebagai teater jika pertunjukan tersebut bercerita serta cerita tersebut memiliki konflik. Secara sederhana struktur cerita dalam teater dapat digambarkan sebagai berikut;

Garis Waktu

A

C

B

A = Pemaparan B = Konflik C = Penyelesaian

Berdasar gambar di atas, jika cerita yang ditampilkan sudah memenuhi struktur tersebut maka sudah dapat dikreasikan menjadi sebuah pertunjukan teater.

Bentuk-bentuk Sajian Teater

a. Teater Naskah

Teater naskah merupakan pertunjukan teater yang berdasar pada naskah lakon. Pada bentuk teater ini, naskah merupakan bahan dasar ekspresi. Semua konsep dibuat berdasarkan lakon sehingga pertunjukan yang ditampilkan merupakan perwujudan utuh dari lakon (cerita) tersebut. Seperti telah disebutkan di atas, lakon dapat dibedakan menurut jenisnya yaitu; drama, melodrama, tragedi, komedi, dan satir. Namun dalam perkembangan teater modern naskah lakon dapat dijeniskan sebagai; drama-satir, drama-tragedi, tragedi-komedi, dan lain sebagainya. Pertunjukan teater yang berdasar naskah inilah yang kemudian (terutama di Indonesia) disebut sebagai pertunjukan drama.

b. Teater Improvisasi

Dalam teater ini, bahan dasar ekspresi adalah kerangka cerita. Sutradara menuangkan cerita secara lisan kepada para pemain kemudian pemain mengembangkan dan mengekspresikan cerita tersebut secara improvisasi. Dialog diciptakan secara spontan pada saat itu juga. Untuk menghidupkan cerita, para pemain harus saling mengisi dan saling memahami antara satu dengan yang lain. Karena tidak berdasar pada naskah maka dialog dapat dikembangkan sedemikian rupa menurut kemampuan si pemain. Teater tradisional kerakyatan biasanya menampilkan jenis teater semacam ini. Para pemain teater tradisional yang sudah profesional biasanya berkumpul beberapa saat sebelum pentas untuk mendengarkan penuangan cerita dari sutradara. Setelah itu mereka mempersiapkan diri untuk kemudian tampil scara spontan mengekspresikan cerita yang telah digariskan. Bagi para pemain muda, teknik improvisasi ini bisa dilatihkan dahulu beberapa minggu bahkan bulan sebelum hari pementasan.

c. Teater Gerak

Teater gerak adalah teater yang menampilkan ekspresi cerita melalui gerak. Pada awalnya penggunaan suara atau dialog tidak diperbolehkan tetapi pada perkembangan-nya suara dan dialog sering ditampilkan untuk memberi penegasan makna ekspresi tetapi dibatasi. Yang tergolong dalam teater ini adalah pantomim dan teater tari (sendratari). Pantomim dapat didefinisikan sebagai seni menggunakan gerakan, ekspresi wajah dan tubuh untuk mengungkapkan makna atau cerita tertentu. Sedangkan teater tari (sendratari) secara harfiah dapat dikatakan sebagai seni teater (drama) yang ditarikan. Dari sedikit keterangan ini dapat dijelaskan bahwa dalam teater gerak bahan dasar ekspresinya juga cerita.

d. Teater Boneka

Bentuk ekspresi seni teater yang menggunakan boneka sebagai media penyampai cerita kepada penonton. Teater boneka memiliki banyak ragam mulai dari bentuk boneka hingga bentuk panggung pementasannya. Tidak hanya itu, teknik bermain boneka dan teknik bercerita (penggunaan suara untuk mengisi karakter tokoh-tokohnya) bisa sangat berlainan antara yang satu dengan yang lain. Ada teater boneka yang dimainkan oleh banyak orang (termasuk pengisian suara tokohnya) dan ada teater boneka yang hanya dimainkan oleh seorang pemain saja termasuk pengisian seluruh suara tokoh dalam cerita yang ditampilkan.

e. Teater Musik

Teater musik sering disebut sandiwara musikal yang menampilkan cerita melalui ekspresi musikal. Untuk mendukung tujuan tersebut biasanya gerak atau tarian ditampilkan dan para pemain melakukan dialognya dalam lagu. Meskipun ada beberapa kalimat yang diucapkan seperti wicara tetapi basis ekspresi ucapan tokoh adalah nyanyian dan musik. Bentuk lain yang dapat digolongkan dalam teater musik ini adalah opera yang semua cerita ditampilkan melalui nyanyian dan musik (orkestra). Dalam opera bahkan terkadang hanya ditampilkan orkestra dan penyanyi tanpa elemen pendukung yang lain. Cerita secara utuh disajikan dalam bentuk lagu (nyanyian) dan musik.

f. Teatrikalisasi Puisi

Sajian seni teater yang berbasiskan puisi. Bahan dasar ekspresi adalah puisi yang kemudian diolah sedemikian rupa sehingga memenuhi struktur cerita dalam teater. Gaya pembacaan (penyajian) puisi masih tetap dipertahankan tetapi ekspresi pemainnya digarap secara teatrikal (mengadopsi gaya ekspresi pentas teater). Ragam bentuk gerak, musik dan permainan ekspresi pemain dikombinasikan untuk menampilkan makna kesuruhan puisi yang telah dirangkai menjadi satu cerita.

g. Teater Audio

Teater audio adalah sajian teater yang ditampilkan secara auditif. Bentuk-bentuk dari teater ini adalah sandiwara radio, dan atau sandiwara (cerita) yang dikemas dalam pita kaset/cd. Dasar dari teknik teater audio adalah dramatic reading dimana para pemainnya membaca naskah seolah-olah sedang bermain teater secara sungguh-sungguh. Karena para pemain hanya ditampilkan suaranya saja maka dalam teater audio, suara pemain harus mampu mewakili imajinasi pendengar terhadap situasi cerita yang sedang diketengahkan. Karena media ekspresinya bersifat auditif maka elemen pendukung yang dapat digunakan untuk memancing imajinasi pendengar mendapat tekanan misalnya; ilustrasi musik dan sound efek.

h. Mendongeng

Mendongeng (story telling) merupakan bentuk teater yang paling tua. Jauh sebelum bentuk sajian teater tampil dengan beragam media, mendongeng merupakan karya seni yang sangat menarik. Dalam tradisi daerah-daerah tertentu, mendongeng biasanya dilakukan oleh para tetua adat yang menceritakan sejarah atau kepahlawanan para leluhur atau asal mula manusia (suku tersebut) diciptakan. Meskipun sederhana dan tanpa menggunakan media lain untuk mempertegas cerita, kegiatan mendongeng ini dapat menciptakan mitos-mitos tertentu yang diyakini oleh para pendengarnya. Bahkan dalam sejarah penyebaran agama, mendongeng merupakan media dakwah yang ampuh untuk menarik ummat.

Dalam kasanah pendidikan anak-anak, pelajaran moral dan sosial dapat disajikan dalam bentuk dongeng dan seni mendongeng. Wilayah imajinasi anak dirangsang dengan cerita yang disajikan oleh pendongeng. Karena imajinasi tersebut hidup dalam benak anak ketika mendengarkan dongeng maka pesan moral yang hendak disampaikan akan lebih mengena dan mudah diingat.

Berkarya Teater

Membuat karya teater sebetulnya tidaklah sesulit yang dibayangkan. Teater dirasa sulit karena pemahaman tentang teater masih terjebak pada drama. Hal ini mengakibatkan gambaran proses karya teater sangat menjemukan dan berat. Para pemain harus menghapalkan naskah sementara waktu yang tersedia tidaklah banyak. Apalagi jika kondisi seperti ini diterapkan di sekolah, pastilah akan teramat sulit mengingat beban pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik sangatlah banyak masih diharuskan lagi menghapal naskah.

Namun tidaklah demikian jika teater dimaknai sebagai teater dan bukan sebagai drama an sich. Seperti pada paparan di atas, teater dapat ditampilkan secara improvisasi, dengan gerak saja atau dengan gabungan beberapa ragam ekspresi. Hal yang perlu diingat dan diperhatikan adalah 4 unsur pokok teater tersebut. Jadi langkah awal adalah menentukan atau membangun cerita.Cerita dapat diambil dari buku cerita, puisi, film, sebuah gambar, atau cerita dibangun bersama-sama antar pemain dengan arahan sutradara.

Sumber-sumber cerita sebetulnya banyak tersedia di alam sekitar. Jika mau mencermati maka sumber cerita tidak akan pernah habis. Teater hanya mensyaratkan tiga hal utama dalam struktur ceritanya; pemaparan, konflik, dan penyelesaian. Dengan berlandaskan pada hal ini maka banyak cerita yang bisa dikreasikan. Tidak perlu kajian mendalam tentang tokoh dan elemen pembentuk cerita yang lain kecuali kalau memang ingin membuat karya teater secara profesional. Durasi ceritapun tidak perlu panjang, kalaupun ingin menciptakan cerita yang panjang hal itu dapat dibentuk dari cerita pendek-pendek yang digabungkan. Intinya, buatlah cerita yang paling sederhana.

Setelah cerita tersedia maka selanjutnya adalah menentukan bentuk sajian. Jika cerita yang dihasilkan begitu sempurna sehingga di dalamnya sudah mencakup seluruh dialog pemain secara utuh maka bentuk teater naskah (drama) dapat ditampilkan. Jika yang dihasilkan adalah kerangka cerita (tanpa dialog) maka banyak pilihan yang bisa dilakukan. Apakah akan menampilkan teater improvisasi atau teater gerak, menggunakan media seperti boneka atau tidak. Jika yang dihasilkan hanya serangkaian puisi, tentu saja teatrikalisasi puisi dapat dipilih sebagai bentuk sajian.

Berikutnya, setelah cerita dan bentuk sajian ditentukan maka para pemain dengan arahan sutradara (pengarah laku / pembimbing) bersama-sama mengeksplorasi cerita tersebut. Eksplorasi dapat bersifat eksplorasi gerak, suara, dialog, atau koreografi dengan bersumber pada cerita. Dari rangkaian eksplorasi ini selanjutnya sutradara beserta pemain menentukan bentuk-bentuk ekspresi mana yang sekiranya tepat dengan cerita dan bentuk sajian yang hendak ditampilkan. Dari hasil eksplorasi yang telah ditentukan itu maka disusunlah rangkaiannya mulai dari awal hingga akhir. Jika rangkaian ini sudah jadi maka dapat dipraktekkan untuk kemudian diberi tambahan misalnya; musik atau tata lampu, dekorasi, dan lain sebagainya. Jika semuanya dirasa cukup maka pertunjukan bisa ditampilkan di hadapan penonton.

Yang perlu diingat dalam berkarya teater adalah, jangan takut salah karena kesalahan dalam seni dapat menjadi motif baru yang dapat dikembangkan. Jangan berpikir hasil karya tersebut berkualitas baik atau buruk, yang penting adalah semua terlibat untuk berkarya baik pemain ataupun sutradara dan semua senang melakukannya. Janganlah ragu-ragu karena kebersamaan dan kerja bersama akan menghilangkannya. Mulailah segalanya dengan rasa suka. Selamat berkarya!

-(6905)-

~ oleh teaterku pada 28 Maret 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: