EKSPRESI

EKSPRESI

Heru Subagiyo, S.Sn.

Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujutkan dalam suatu karya seni suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan kehidupan manusia.

Dari rumusan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur-unsur teater menurut urutannya adalah sebabagai berikut :

1.      Tubuh, manusia sebagai unsur utama ( pemeran/pelaku/pemain)

2.      Gerak, sebagai unsur penunjang.

3.      Suara, sebagai unsur penunjang ( kata/untuk acuan pemeran)

4.      Bunyi, sebagai unsur penunjang ( bunyi benda,efek dan musik).

5.      Rupa sebagai unsur penunjang ( cahaya, rias dan kostum.).

6.      Lakon sebagai unsur penjalin ( cerita,  non cerita, fiksi dan narasi ).

Belajar seni teater sama dengan belajar tentang manusia dan kehidupannya. Kata pertama dalam kosa kata seni teater adalah tubuh manusia sebagai sumber suara dan gerakan. Karena itu setiap memulai belajar seni teater harus mengenal tubuhnya supaya mampu membuatnya lebih ekspresif. Dengan demikian akan mampu mempraktekkan bentuk-bentuk seni teater dimana setahap demi setahap ia membebaskan dirinya menjadi subjek yang kreatif. Demikian pula dalam latihan awal seni teater, setiap orang harus melakukan pengenalan tubuhnya kemudian mulai melakukan latihan olah tubuh.

Pembelajaran seni teater yang dilakukan oleh berbagai intitusi banyak terdapat persamaan yaitu sangat menitik beratkan pada penggunaan ekspresi tubuh. Elemen-elemen ekspresi tubuh yang merupakan semacam tata bahasa ekspresi (Grammer of exspresion). Begitu pula tentang suara dan cara-cara pengucapannya disesuaikan dengan pikiran-pikiran, watak-watak, dan susunan yang bersangkutan di dalam peran. Seni peran semacam itu telah umum dan sebagai salah satu prosedur yang berlaku. Pelatihan-pelatihan seni teater banyak mengajarkan gerak bicara dan gerak tubuh sebagai bahasa seni akting . Aristoteles berpendapat “ barang siapa merenungkan setiap hal pada tubuhnya yang pertama kali dan asal mula dari pada hal itu, maka ia akan memperoleh pemandangan yang paling jelas dari pada hari-hari itu.

Kemampuan ekspresi adalah usaha seorang pemeran untuk meraih ke dalam dirinya dan menciptakan perasaan-perasaan yang dimilikinya setiap hari, untuk menjadi lebih peka responya. Seorang calon pemeran akan berusaha untuk menciptakan sistem reaksi yang beragam yang dapat memenuhi tuntutan teknis pementasan. Banyak orang yang mengatakan bahwa dia sudah mengenal dirinya baik dari orang lain maupun dari perasaan diri sendiri. Tetapi itu belum cukup karena seorang calon pemeran harus mengerti bahwa kemampuan ekspresi di mulai dari usahanya mendisiplinkan diri. Disiplin yang berakar dari rasa hormat seseorang kepada dirinya, lawan main, seniman-seniman lain bahkan kepada khalayak umum yang tidak ada hubungannya dengan dunia akting.

Dasar dari kemampuan ekspresi adalah diri pribadi ketika berhubungan sosial dengan orang lain. Fondasi inilah yang kemudian di atasnya harus dibangun kemampuan-kemampuan ekspresi diri. Dalam kehidupan sehari-hari seorang calon pemeran sudah memainkan peran yang berbeda-beda untuk situasi dan penonton yang berbeda-beda. Misalnya ketika berbincang dengan sahabatnya, atasannya, pacarnya, kenalan biasa, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia memiliki postur tubuh, kualitas suara dan bahasa yang berbeda-beda. Demikian  pula halnya dengan rasa percaya diri, rasa apakah dia menarik atau tidak, dan cara memproyeksikan pandangan diri orang-orang tersebut tentang dirinya. Semua itu mempunyai bentuk dan cara yang berbeda-beda, tetapi semua itu tetap mewakili diri pribadi si pemeran, bukan orang lain. Demikian pula halnya ketika di atas panggung, dimana pemeran akan memainkan peran yang berbeda-beda tetapi tetap adalah dirinya sendiri. Segi sosial dari pemeranan ini harus dilatih sedemikian rupa sehingga dia peka dan memiliki respon yang beragam.

Kemampuan ekspresi menuntut teknik-teknik penguasaan tubuh seperti relaksasi, konsentrasi, kepekaan, kreatifitas yang terpusat pada pikirannya. Demikian pula dengan teknik-teknik penguasaan suara yang menuntut proses pernafasan dan alat ucap yang terlatih sehingga seorang pemeran mampu memproduksi suara dan menciptakan artikulasi yang jelas. Latihan-latihan vokal ini terdiri dari tidak hanya latihan pernafasan dan artikulasi tetapi juga harus mengenal bunyi huruf baik konsonan, vokal, maupun bunyi nasal.

Proses latihan ekspresi ini membimbing calon pemeran untuk mampu mengasosiasikan semua kemampuan kedalam aksi dramatis dan karakter yang dimainkan. Semua latihan yang dilakukan mungkin saja tidak langsung diasosiasikan dengan naskah, tetapi lebih banyak latihan improvisasi yang berhubungan dengan kemampuan ekspresi sesuai dengan suasana, situasi dan tuntutan-tuntutan teknis dari sebuah pementasan. Latihan-latihan ini terdiri dari :

LATIHAN I: LATIHAN PERNAFASAN

Penguasaan suara dalam seni pemeranan pada dasarnya adalah penguasaan diri secara utuh, karena kedudukan suara dalam hal ini hanyalah merupakan salah satu alat ekspresi dan totalitas diri kita sebagai seorang pemeran (actor). Pengertian ‘penguasaan diri secara utuh’ menuntut suatu keseimbangan seluruh aspek serta alat-alatnya, baik yang menyangkut kegiatan indrawi, perasaan, pikiran atau yang bisa disebut segi-segi dalam dari seni acting, maupun yang menyangkut segi-segi luarnya seperti tubuh dan suara. Ketimpangan akan menghasilkan ketimpangan. Sebelum latihan vokal dilakukan, biasanya perlu dilakukan latihan nafas dan pengetahuan tentang organ produksi suara. Latihan tersebut adalah:

 

  1. Latihan nafas biasa sampai organ-organ produksi suara siap untuk dilatih.
  2. Latihan nafas perut, dalam latihan ini fokus nafas diarahkan pada perut. Latihlah sampai nafas perut ini terkuasai.
  3. Latihan nafas dada, dalam latihan ini fokus nafas diarahkan pada dada. Latihlah sampai nafas dada ini terkuasai.
  4. Latihan nafas diafragma, dalam latihan ini fokus nafas diarahkan pada sekat rongga dada yang dimaksud sekat diafragma. Pernafasan ini sebenarnya gabungan nafas dada dan nafas perut. Latihlah sampai nafas diafragma ini terkuasai.

 

LATIHAN II: LATIHAN MIMIK DAN VOKAL

Perangkat wajah dan sekitarnya, menjadi titik sentral yang akan dilatih. Dalam olah mimik ini, kita akan memaksimalkan delikan mata, kerutan dahi, gerakan mulut, pipi, rahang, leher kepala, secara berkesinambungan. Mimik merupakan sebuah ekspresi, dan mata merupakan pusat ekspresi. Perasaan marah, cinta, dan lain-lain akan terpancar lewat mata. Ekspresi sangatlah menentukan permainan seorang aktor. Meskipun bermacam gerakan sudah bagus, suara telah jadi jaminan, dan diksi pun kena, akan kurang meyakinkan ketika ekspresi matanya kosong dan berimbas pada dialog yang akan kurang meyakinkan penonton, sehingga permainannya akan terasa hambar.

  1. Latihan ini didahului dengan senam mulut dan wajah.
  2. Latihan bergumam, latihan ini berfungsi sebagai pemanasan organ produksi suara. Bergumam yang pertama difokuskan pada rongga dada.
  3. Kemudian bergumam yang difokuskan pada tenggorokan dan diteruskan bergumam pada rongga hidung.

 

LATIHAN III: LATIHAN KONSENTRASI

Pengertian konsentrasi secara harfiah berarti memfokus, sehingga dalam konsentrasi, kepekaan si pemeran dapat mengalir bebas menuju satu titik atau bentuk tertentu. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian ataupun yang mencampuri konsentrasi seorang pemeran atas sebuah karakter, cenderung dapat merusak pemeranan. Untuk mencapai relaksasi atau mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik diatas panggung, konsentrasi adalah tujuan utama. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Seorang aktor harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat dengan pengertian atas tubuh dan alasan bagi perilakunya. Langkah awal untuk menjadi seorang aktor yang cakap adalah sadar dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Latihan ini berfungsi sebagai penyatuan pikiran dan daya konsentrasi bagi seluruh peserta latihan.

  1. Latihan berhitung dengan bilang prima. Dalam latihan ini setiap peserta yang mendapat jatah pada bilang prima, peserta harus berteriak ”Prima”.
  2. Kalau pesertanya banyak, dengan cara berhitung angka tiga dan kelipatannya atau yang ada angka tiganya harus teriak ”BOOM”
  3. Berhitung dengan cara saling membelakangi dan tidak boleh saling berurutan, jadi boleh dari siapa saja yang memulai dan meneruskan.
  4. Latihlah sampai angka tertinggi yang bisa dicapai dalam latihan tersebut. Semakin tinggi angka yang dicapai maka tingkat konsentrasi dari peserta latihan tersebut semakin baik.

 

LATIHAN IV: PENGENALAN TUBUH

Di atas telah disebutkan bahwa untuk mencapai ekspresi yang baik maka calon pemeran harus menyadari akan tubuhnya sendiri maupun tubuh lawan mainnya. Tubuh pemeran merupakan alat ekspresi pemeran tersebut. Untuk mengetahui dan mengenal tubuhnya secara mendalam dan tubuh lawan main maka ada baiknya dilakukan observasi terhadap tubuh sendiri maunpun tubuh lawan. Latihan di bawah ini bisa dilakukan dan ini hanyalah salah satunya saja, karena dalam perjalanan waktu akan ditemukan model-model latihan yang menyenangkan.

  1. Setiap peserta menghadap cermin dan amati tubuh anda secara keseluruhan.
  2. Deskripsikan pengamatan anda kepada peserta lain.
  3. Lakukan dengan suasana yang santai dan presentasikan sesuai dengan gaya anda.
  4. Latihan diteruskan dengan membuat kelompok kecil dan saling mengamati setiap anggota kelompok termasuk yang menjadi ciri khasnya.
  5. Deskripsikan hasil pengamatan tersebut termasuk yang menjadi ciri khas dari objek pengamatan anda.
  6. Dalam latihan ini diusahakan dilakukan dengan pengamatan yang sangat jeli dan dalam suasana santai.

 

LATIHAN V : KARET ELASTIS

            Latihan ini merupakan latihan berimajinasi. Latihan ini bisa dilakukan secara sendiri maupun secara kelompok. Dalam latihan ini kita harus menentukan benda imajiner (dalam hal ini adalah karet elastis) dan menciptakan benda tersebut seolah-olah nyata adanya.

  1. Posisi tubuh yang enak. Bayangkan sebuah karet elastis yang agak tipis. Peganglah masing-masing ujungnya dengan tangan.
  2. Sekarang mulai menarik karet itu ke berbagai arah, tetapi upayakan posisi karet tersebut dekat tubuh. Cobalah dengan berbagai cara yang mungkin anda bisa lakukan untuk menarik dan melepaskan karet tersebut. Berikan cukup waktu untuk penjagaan ini. Ketika menarikakret tersebut usahakan seekspresif mungkin.
  3. Kemudian mulailah menarik dengan posisi yang jauh dari badan dan masuk dalam ruang. Tarik karet tersebut ke berbagai arah secara ekspresif. Teruskan menjajagi sendiri gerakan ini ke berbagai arah.
  4. Sekarang bayangkan karet elastis yang sangat kuat, coba untuk menariknya ke segala arah.
  5. Biarkan gerakkan itu membuat anda jongkok dan berdiri, namun tidak usah tergesa-gesa. Biarkan gerakkan itu berkembang sendiri.

Catatan. Karet elastis adalah benda kongkrit, dan menariknya adalah sebuah pengalaman biasa. Penekanan kegiatan ini adalah pada kesadaran dan penghayatan terhadap gerakan menarik. Ini adalah sebuah aktivitas gerak arahan sendiri. Latihan sederhana ini akan memberikan pengalaman kepada peserta untuk terlibat dalam situasi permainan. Melakukan gerakan hingga berjongkok dan berdiri membutuhkan penghayatan yang cukup.

 

LATIHAN VI : SESUATU YANG ANDA TIDAK SUKAI

            Seorang pemeran ibarat sebuah lemari yang berisi penuh dengan pengalaman-pengalaman batin. Penglaman batin itulah yang sekali waktu dipanggil untuk memainkan peran yang disyaratkan seorang penulis lakon. Sama dengan latihan karet elastis, latihan ini juga latihan berimajinasi. Dalam latihan ini selain berimajinasi juga latihan membongkar pengalaman emosi atau pengalaman batin kita. Dalam latihan sebaiknya dilakukan secara kelompok atau paling tidak ada pihak pengawas sebagai pihak pengontrol.

  1. Dalam posisi duduk yang nyaman, bayangkan sesuatu yang tidak anda sukai. Mungkin sesuatu ada di atas kepala kita, di atas pundak kita, punggung kita, atau dia menekan kita ke bawah.
  2. Dapatkan bayangan yang jelas terhadap sesuatu (yang tidak anda sukai tersebut). Dimana anda rasakan sesuatu itu? Adakan kontak dengannya, cobalah untuk melenyapkan.
  3. Biarkan gerakan itu terjadi sendiri.

Catatan. Bayangan semacam ini biasanya akan merangsang munculnya ingatan terhadap sebuah pengalaman yang bisa membangkitkan emosi pribadi yang kuat kepada seorang pemeran. Walaupun reaksi emosi pribadi bukan  tujuan utama seorang pemeran, tetapi hal ini akan membantu and untuk menemukan kesadaran batin yang mendalam berkaitan dengan perasaan.

 

LATIHAN VII: JEMBATAN TALI

Latihan ini juga melatih daya imajinasi kita. Latihan akan berhasil jika kita betul-betul menghayati dan seolah-olah merasakan serta dihadapkan pada kejadian yang menuntut kita seperti ini. Latihan ini selain menuntut kita berimajinasi juga menuntut kepekaan kita.

  1. Bayangkan seutas tali yang direntangkan, tinggi di atas lantai, anda sedang berdiri di atas panggung siap untuk mencoba melintasi tali itu.
  2. Anda ingin melintasi tali itu namun belum merasakan kalau anda akan mampu melakukannya.
  3.  Jangan terbuur-buru. Tunggu sampai anda mendapatkan gambaran yang jelas tentang hubungan tali tersebut dengan anda yang berdiri di atas panggung.
  4. Jika anda sudah siap, mulailah perjalanan tersebut.
  5. Anda mungkin menemukan kesulitan, tetapi jangan berhenti. Anda harus tetap mencoba, mencoba dengan berbagai cara. Jangan tergesa dan tetaplah berkonsentrasi pada perasaan yang dirasakan.
  6.  Ketika anda sudah siap biarkan perasaan membuat anda bergerak.
  7. Kalau dalam bayangan anda merasa kesulitan, ekspresikan kesulitan tersebut.

Catatan. Jika pengalaman ini dicoba dengan hati-hati, sehingga tidak menjadi sebuah kegiatan  yang mekanik, kebanyakan orang akan bisa merasakan keterlibatan yang mendalam.

 

LATIHAN VIII: DITARIK SEUTAS TALI

  1. Bayangkan sutas tali besar melilit pinggang anda dan diikatkan ke salah satu pojok diseberang ruang.
  2. Bayangkan diri anda ditarik ke pojok tersebut. Tarikan tersebut semakin kuat dan anda melawan.
  3. Tiba-tiba tarikan tali tersebut berubah dan anda terseret ke sudut yang berlawanan. Cobalah untuk melawan tarikan tersebut.
  4. Sekarang bayangkan bahwa anda yang mengendalikan tarikan tersebut dan menarik tali tersebut. Tarik tali tersebut dan main-mainkan tali tersebut.
  5. Bayangkan bahwa anda terkadang ditarik tali tersebut tetapi sekali waktu anda yang menarik tali tersebut lakukan secara berganti-gantian.

 

LATIHAN  IX: SALING CURIGA

            Latihan ini sudah mulai menuntut kita untuk berperan, meskipun peran yang kita mainkan adalah salah satu sisi dalam diri kita sendiri. Setiap manusia mempunyai sisi dalam diri atau rasa curiga ini. Latihan ini juga bisa dikembangkan dengan rasa mencintai, rasa membenci, rasa mengasihani sesama. Proses latihannya sama dengan proses latihan saling curiga.

  1. Dalam latihan ini dimulai dari satu orang, dan bayangkan seseorang mencurigai anda.
  2. Masuk satu orang lain, dan saling mencurigai. Setiap orang menyembunyikan perasaan tak percaya, gelisah, khawatir, dan curiga.
  3. Masuk beberapa orang, dan setiap orang saling mencurigai sesama yang terlibat dalam latihan ini.
  4. Pertahankan bayangan akan kecurigaan ini, biarkan perasaan dan gerakan semakin menjadi-jadi, biarkan gerak terus berkembang.
  5. Ekspresikan kecurigaan anda kepada sesama. Saling curiga tetapi tidak ada kontak badan. Kecurigaan ini kemudian berkembang menjadi saling benci dan marah. Kebencian dan kemarahan tidak hanya pada seseorang tetapi kepada seluruh peserta lain bahkan pada dirinya sendiri.

 

LATIHAN X: TIADA TEMPAT BERLINDUNG

  1. Ambil suatu posisi di tempat yang berbeda dalam ruangan tersebut.
  2. Semuanya membayangkan tidak punya tempat untuk berlindung, rasakan akan kedatangan bahaya yang mengancam jiwa anda dan tidak punya tempat berlindung.
  3. Mulailah bergerak dengan menyambar, berlari, kadang-kadang berhenti membeku.
  4. Biarkan ekspresi anda merasakan ketakutan tersebut
  5. Kadang anda berkelompok, kadang anda sendiri dan usahakan agar bayangan dan perasaan itu  tersebut menjadi jelas.
  6. Rasakan intensitas tersebut tumbuh dan berkembang ke berbagai arah.

 

LATIHAN  XI : POLA KATA

  1. Buat sebuah kalimat, (misalnya : “Berapa lama saya harus menunggu” atau “Siapa bilang itu tidak bisa dilakukan”).
  2. Ucapkan kata tersebut dengan ritme yang datar, dari satu kata ke kata yang lain.
  3. Kemudian uacapkan lagi dengan menempatka tekanan pada kata yang berbeda-beda dan merubah kecepatannya.
  4. Tetaplah dalam kelompok, namun bekerja secara bebas. Setiap orang mencoba mengucapkan kata-kata tersebut dengan respon emosi yang berbeda-beda.
  5. Sekarang biarkan tubuh bergerak bebas dan masih mengucapkan kata-kata tersebut, semakin lama semakin cepat.

Catatan. Latihan ini bisa menyenangkan karena mencoba membebaskan peserta untuk mencoba berbagai struktur ritme.

 

LATIHAN XII: TERGESA-GESA DAN BERHENTI

Latihan merupakan latihan bagaimana kita mengontrol dan mengekspresikan emosi kita. Emosi adalah segala aktivitas yang mengekspresikan kondisi disini dan sekarang dari organisme manusia dan ditujukan ke arah duniannya di luar. “Emosi timbul secara otomatis” dan terikat dengan aksi yang dihasilkan dari konfrontasi  manusia dengan dunianya. Pemeran  tidak menciptakan emosi karena emosi akan muncul dengan sendirinya lantaran keterlibatannya dalam memainkan peran sesuai dengan naskah.

  1. Duduk atau berdiri, bayangkan anda merasakan perasaan tergesa-gesa untuk menyelamatkan diri. Bayangkan ada rasa ketakutan dan keinginan untuk menyelamatkan diri.
  2. Biarkan tangan dan kaki bergerak, kadang tergesa-gesa kemudian berhenti, atau bergerak dengan hati-hati.
  3. Biarkan ini secara berlahan-lahan berakhir.

Semua latihan bisa di atas bisa dilakukan secara berurutan tetapi bisa juga secara parsial. Maksudnya latihan yang sesuai dengan kebutuhan. Semua latihan di atas merupakan latihan dasar dan belum sampai pada latihan persiapan pementasan. Latihan pementasan di sini dimaksudkan sebagai latiihan sesuai dengan perencanaan dan materi pementasan.

 

 

DAFTAR BACAAN

  1. Eka D. Sitorus, The Art of Acting. Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2002.
  2. Loren E. Taylor, Drama Formal dan Teater Remaja, Alih Bahasa A.J. Soetrisman. Yogyakarta, Yayasan Taman Bina Siswa, 1981.

Alman M. Hawkins, Bergerakv Menurut Kata Hati, Alih Bahasa I Wayan Dibia. Jakarta, MSPI, 2003.

~ oleh teaterku pada 29 Maret 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: